Umum

Mengobati Penyakit-Penyakit Hati

Mengobati Penyakit-Penyakit Hati

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan tentang mengobati penyakit hati. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Afwan ustadz semoga Allah senantiasa memberikan ustadz kemudahan dalam segala urusan.

Ana izin bertanya.

Mengapa hati ana sering timbul suudzon sama orang lain, mudah sakit hati, gampang kesal, gampang marah, mudah sedih atau moodyan. Ana merasa ana punya penyakit hati yang selalu ada dalam hati ana, namun ketika ana selesai shalat ana menyadari bahwa hal itu salah dan ana selalu merasa menyesal atas apa yang ana rasakan dalam diri ana.

Setiap hari ana selalu beristigfar kepada Allah agar ana dijauhkan dari penyakit hati, ana sering dijauhi atau terkadang dalam ruang lingkup ana ada saja yang iri dan tidak suka dengan ana tanpa ana tahu sebabnya mengapa. Apakah itu termasuk bentuk teguran dari Allah untuk ana ustadz?

Apakah ana juga mengalami gangguan oleh jin atau secara psikis ustadz ?

Mohon nasihat dan amalan yang seharusnya ana kerjakan.

Baca Juga :  Apa Itu Sunnah Nabi?

Jazakallah khairan.

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS via Grup WhatsApp Bimbingan Islam)


Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Bisa jadi dua-duanya, maksud kami bisa jadi kelainan ini timbul karena gangguan psikis. Bisa jadi juga timbul karena gangguan jin. Karena di antara bentuk gangguan jin adalah Ta’thilul Hayah menihilkan kehidupan sehingga seseorang tidak akan mampu menjalani kehidupannya secara normal.

Lebih suka menyendiri, selalu suudzon kepada orang lain, sering was-was dst.

Pertama kami sarankan untuk berkonsultasi kepada psikiater.

Kedua tidak ada salahnya melakukan rukyah mandiri. Karena rukyah itu untuk menyembuhkan penyakit medis maupun psikis. Allah ta’ala berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS Al Isra : 82).

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah menyatakan:

ونُنَزِّلُ مِن القُرآنِ ما هو شِفاءٌ لِما في قُلوبِ المُؤمِنينَ مِن الشُّبُهاتِ والشَّهَواتِ، وشِفاءٌ لِما في أبدانِهم مِن الأمراضِ، ورحمةٌ للمؤمنينَ العاملينَ بما فيه

“Makna ayat ini adalah Kami menurunkan Al Quran sebagai obat bagi penyakit yang ada di dalam hati orang beriman berupa syubhat dan syahwat. Dan sebagai obat bagi penyakit yang ada di badan mereka serta sebagai rahmat kasih sayang Allah bagi orang orang beriman yang mengamalkan isi Al Quran.” (Ighatsatul Lahfan : 1/44).

Cara ruqyah beragam, bisa dengan mengambil segelas air putih dibacakan Fatihah, Qulhu, Falaq, Nas kemudian ditiupkan. Atau bisa mengambil seember air dicampur remasan daun bidara kemudian diruqyah dan digunakan untuk mandi. Air mandinya ditampung lalu dibuang di tempat yang suci seperti halaman rumah misalnya.

Khataman surat Al Baqarah di dalam rumah dan model-model rukyah mandiri yang dibolehkan oleh syariat. Namun ruqyah-ruqyah ini tidak akan banyak bermanfaat jika kita tidak mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan. Membentengi diri dengan dzikir-dzikir yang ma’tsur yang terambil dari Al Quran dan As Sunnah.

Berikutnya perbanyaklah membaca dan mempelajari kitab-kitab tentang akhlak dan adab sesuai bimbingan syariat Islam. Anjuran dan keutamaan husnudzan, bermanis muka, merah senyum dan suka berderma.

Akhlak yang mulia itu ada dua; pertama ia bawakan, kedua bisa diusahakan dan diupayakan dengan cara belajar dan melatih diri. Membaca kisah kisah yang menjelaskan akhlak para nabi, para sahabat dan ulama salafush shalih agar termotivasi menjadi pribadi yang shalih lagi berakhlak mulia, wallahu a’lam.


Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA. حفظه الله
Selasa, 15 Jumadil Akhir 1443 H/ 18 Januari 2022 M

Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Hukum Makan Dan Minum di Majelis Ilmu

Ustadz Abul Aswad Al Bayati, BA.

Beliau adalah Alumni S1 MEDIU Aqidah 2008 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Malang tahunan dari 2013 – sekarang, Dauroh Solo tahunan dari 2014 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Koordinator Relawan Brigas, Pengisi Kajian Islam Bahasa Berbahasa Jawa di Al Iman TV

Related Articles

Back to top button