Menceritakan Nikmat Dari Allah, Bolehkah?
Menceritakan Nikmat Dari Allah, Bolehkah?
Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan tentang menceritakan nikmat dari Allah, bolehkah? Selamat membaca.
Pertanyaan:
Bismillah. Assalamu’alaikum ustadz. Semoga Allah selalu merahmati ustadz dan tim BiAS.
Ustadz, dalam surat Adh-Dhuha ayat 11 disebutkan bahwa “dan nikmat Rabbmu, maka hendaknya kamu menceritakannya”.
Apakah ini kekhususan untuk Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam ataukah ini juga berlaku untuk seluruh ummat?
Selanjutnya, jika kita menceritakan nikmat Allah yang diberikan kepada kita dengan niat mengamalkan ayat tersebut apakah ini dinilai sebagai ibadah? Terima kasih. Jazaakallahu khair.
(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)
Jawaban:
Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarokatuh
Aamiin, dengan doa yang terpanjat dan juga semoga Allah berikan kepada kita semua hidayah dan ilmu yang bermanfaat.
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ [الضحى:11]
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS Adh Dhuha ayat 11).
Berkata Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat di atas,”
,”Dan sebagaimana kamu dahulu seorang yang sangat membutuhkan dan fakir, kemudian Allah cukupkan kamu, maka ceritakanlah kenikmatan Allah yang diberikan kepadamu. Seperti yang dimaksudkan dalam doa alma`tsur “ dan jadikanlah kami orang orang yang mensyukuri terhadap kenikmatanMu, dengan memujiMu dan menerimanya. serta sempurnakanlah kenikmatan tersebut atas kami.”
Syekh Abdurrahman assa`di menjelaskan tafsir dari ayat diatas, “
“(Dan terhadap nikmat Tuhanmu) Dan terhadap kenikmatan Rabbmu, yang mencakup urusan duniawi dan agama, (maka ceritakanlah) pujilah Allah dengan kenikmatan tersebut dan khususkan dengan penyebutan (kenikmatan yang dirasakan) jika ada kemaslahatannya. Bila tidak mengkhususkannya, maka sebutkan dengan ungkapan yang umum.
Dengan menceritakan kenikmatan Allah, akan membawa kepada rasa syukur kepadaNya, juga dapat menghantarkan hati untuk mencintai pihak yang telah memberikan kenikmatan. Karena hati terbiasa untuk mencintai pihak yang telah berbuat baik kepadanya”.
Tafsir Kata “Kenikmatan” Dalam Surat Ad-Dhuha Ayat 11
Ada beberapa makna di dalam menafsirkan kenikmatan yang disebutkan di dalam ayat tersebut:
Pertama:
Sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid,” nikmat yang dimaksudkan adalah al-Quran. Karena al-Quran adalah kenikmatan terbesar yang Allah berikan kepada nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, sehingga menceritakannya dengan cara membacanya dan membacakan untuk selainnya serta menjelaskan tentang hakikatnya.
Kedua:
Diriwayatkan oleh Mujahid, beliau berkata,” kenikmatan yang dimaksudkan adalah Risalah kenabian (Nabi Muhammad sallahu alahi wasallam), yakni sampaikan segala apa yang Rabbmu telah menurunkannya kepadamu.”
Ketiga:
Bila Allah telah berikan kemudahan kepadamu dengan memelihara hak anak yatim dan peminta, maka itu termasuk taufiq, kemudahan dan kenikmatan Allah atas kamu, maka ceritakanlah kenikmatan itu, agar selainmu mau mengikutinya.
Dari penjelasan di atas, menunjukkan bahwa berkisah dengan kenikmatan yang di dapat tidak dikhususkan kepada nabi saja, walaupun arah pembicaraan ayat hanya kepada nabi.
Apa yang ditujukan kepada nabi dari suatu perintah maka juga diperuntukkan untuk umatnya, bila tidak ada dalil yang mengkhususkannya bahwa perintah tersebut hanya untuk nabi.
Sehingga bila mendapatkan kenikmatan dan ingin menceritakannya maka akan termasuk dari ibadah yang dianjurkan dilakukan karena manfaat yang akan didapatkan, untuk semakin mencintai dan bersyukur kepada Allah.
Namun, bila ternyata perbuatan menceritakan kenikmatan tersebut berdampak negatif, misal akan memunculkan kesombongan diri, riya, tidak mendatangkan manfaat bagi dirinya atau orang lain dengan kisah tersebut, berdampak rasa hasad/iri/benci dari saudaranya yang sering mendengarkan kisahnya dan sebagainya, maka sebaiknya tidak perlu dilakukan, cukup bersyukur kepada Allah dengan semakin taat dan tunduk kepada Allah.
Sebagaimana riwayat yang dinukilkan oleh Imam Thobari dari Husain bin Ali , bahwa beliau berkata,” bila kamu menghetahui, bahwa itu adalah baik, maka ceritakanlah kepada saudaramu supaya mau mengikutimu, bila memang diyakini tidak ada riya di dalamnya dan adanya kemungkinan orang yang mau mengikuti.”
Wallahu a`lam.
Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Kamis, 25 Syawal 1443 H/ 26 Mei 2022 M
Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini