KeluargaKonsultasi

Menafkahi Istri Atau Adik, Mana yang Harus Didahulukan?

Menafkahi Istri Atau Adik, Mana yang Harus Didahulukan?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang menafkahi istri atau adik, mana yang harus didahulukan?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga ustadz dan keluarga selalu dalam lindungan Allah dan diberi Rahmat Nya.

Begini ustadz, jika adik kandung suami menghasut suami untuk tidak berbuat baik kepada istri dan juga ada berkata, “Jangan kasih harta ke istri, kalau harta istri dipakai suami barulah tidak apa apa..”.
Bagi suami mana yang lebih utama menafkahi, apakah istri atau adik kandungnya?
Dimana kondisi sekarang, ibu sudah meninggal.
Apakah seorang istri punya kewajiban terhadap adik ipar?

Baca Juga :  Adab Menempati Rumah Yang Sudah Lama Kosong

Tanya Jawab AISHAH – akademi shalihah
(Disampaikan Oleh Fulanah – SahabatAISHAH Pekanbaru)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillāh wa shalātu wa salāmu ‘alā rasūlillāh.

Seorang suami wajib untuk menafkahi istrinya sesuai dengan kemampuannya, sebagaimana firman Allah:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا 

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya”
(Al – baqarah : 233).

Dan para ulama menjelaskan, nafkah terhadap istri didahulukan daripada nafkah kepada kerabat yang lainnya jika mereka membutuhkan, bahkan lebih didahulukan daripada kedua orang tua.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فَقِيرًا، فَلْيَبْدَأْ بِنَفْسِهِ، فَإِنْ كَانَ لَهُ فَضْلٌ، فَعَلَى عِيَالِهِ، فَإِنْ كَانَ لَهُ فَضْلٌ، فَعَلَى قَرَابَتِهِ

“Apabila salah seorang diantara kalian mengalami kefaqiran, maka hendaklah dia menafkahi dirinya terlebih dahulu, jika berlebih, maka untuk keluarga yang dia tanggung, jika berlebih maka untuk kerabatnya”
( HR. Abu dawud : 3957).

Seorang suami hendaklah berbuat baik kepada istrinya, karena rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan standar kebaikan seseorang dilihat dari kebaikannya kepada istrinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي

“Sebaik – baik kalian adalah yang terbaik kepada istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluarga.”
( HR. Abu dawud : 3895).

Wallahu a’lam

 

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Selasa, 03 Jumadal Akhiroh 1441 H / 28 Januari 2020 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

Baca Juga :  Hukum Tidak Melaksanakan Sahur

Ustadz Muhammad Ihsan, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam

Related Articles

Back to top button