Siapakah yang Wajib Menafkahi Anak Yatim? Ibunya Atau Keluarga Ayahnya?

Siapakah yang Wajib Menafkahi Anak Yatim? Ibunya Atau Keluarga Ayahnya?

Siapakah yang Wajib Menafkahi Anak Yatim? Ibunya Atau Keluarga Ayahnya?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang siapakah yang wajib menafkahi anak yatim, ibunya atau keluarga ayahnya?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah senantiasa memberikan nikmat dan rahmat-Nya kepada ustadz dan keluarga, aamiin.

Ijin bertanya ustadz.
Apakah anak yatim, nafkahnya menjadi tanggungjawab ibunya atau keluarga bapaknya?
Jazakallah khairan

(Ditanyakan Oleh Fulan, Sahabat BiAS N09-15)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Anak yatim nafkahnya ditanggung oleh keluarga ayahnya, sebab nafkah seorang anak memang ada di pihak bapak, sebagaimana Firman Alloh

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Lelaki adalah pemimpin bagi wanita, disebabkan kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian manusia (lelaki) di atas sebagian yang lain (wanita) dan disebabkan mereka memberi nafkah dengan hartanya ….”
(QS An-Nisa’ 34)

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Merupakan kewajiban bapak (orang yang mendapatkan anak) untuk memberikan nafkah kepada istrinya dan memberinya pakaian dengan cara yang wajar ….”
(QS Al-Baqorah 233)

Imam Al-Mardawi rohimahulloh menjelaskan dalam kitabnya tentang nafkah;

يلزمه نفقة سائر آبائه وإن علوا، وأولاده وإن سفلوا

“Termasuk yang wajib dinafkahi seseorang (bagi anak) adalah bapaknya, kakeknya dan seterusnya ke atas. Serta anaknya, cucunya dan seterusnya ke bawah (bagi bapak)”
(Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rojih min Al-Khilaf 9/393).

Jika tidak ada yang menafkahi bagaimana, entah karena tidak peduli atau tidak ada yang mampu?

Inilah hikmah mengapa syariat telah memberikan bahasan khusus dalam hal ini, yakni besarnya ganjaran menyantuni anak yatim, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shohih

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”,
‘kemudian beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau sholallohu  ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya”
[HR Bukhori 4998].

Semoga kita dimudahkan untuk dekat kedudukannya dengan Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wassallam, dengan menjadi orangtua yang bertanggung jawab dan suka menyantuni anak yatim.

Wallahu A’lam,
Wabillahittaufiq.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Senin, 13 Jumadal Ula 1441 H/ 09 Januari 2020 M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS