
Dalam Al Qur’an, Allah berikan pelajaran kepada kita melalui kisah atau cerita. Di antara cerita yang banyak disampaikan adalah kisah Nabi Musa & Bani Israil. Di antara kisah tersebut adalah firman Allah ta’ala:
{ وَإِذۡ قُلۡتُمۡ یَـٰمُوسَىٰ لَن نَّصۡبِرَ عَلَىٰ طَعَامࣲ وَ ٰحِدࣲ فَٱدۡعُ لَنَا رَبَّكَ یُخۡرِجۡ لَنَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلۡأَرۡضُ مِنۢ بَقۡلِهَا وَقِثَّاۤىِٕهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَاۖ قَالَ أَتَسۡتَبۡدِلُونَ ٱلَّذِی هُوَ أَدۡنَىٰ بِٱلَّذِی هُوَ خَیۡرٌۚ ٱهۡبِطُوا۟ مِصۡرࣰا فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلۡتُمۡۗ وَضُرِبَتۡ عَلَیۡهِمُ ٱلذِّلَّةُ وَٱلۡمَسۡكَنَةُ وَبَاۤءُو بِغَضَبࣲ مِّنَ ٱللَّهِۗ ذَ ٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَانُوا۟ یَكۡفُرُونَ بِـَٔایَـٰتِ ٱللَّهِ وَیَقۡتُلُونَ ٱلنَّبِیِّـۧنَ بِغَیۡرِ ٱلۡحَقِّۗ ذَ ٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ یَعۡتَدُونَ }
“Dan (ingatlah), ketika kalian berkata, Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti: sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah. Dia (Musa) menjawab, Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta. Kemudian mereka ditimpa kehinaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu karena mereka bermaksiat dan melampaui batas.” [QS Al-Baqarah: 61]
Secara umum, ayat ini menceritakan Bani Israil yang tak bersyukur dengan nikmat Allah berupa makanan Manna & Salwa yang Allah turunkan. Mereka menginginkan makanan yang biasa mereka makan. Maka Allah pun meliputi mereka dengan kehinaan & kemiskinan. Begitulah balasan bagi orang yang tidak bersyukur. Kita akan bahas dengan lebih detail pada artikel ini, insya Allah.
SERUAN PADA BANI ISRAIL DI MASA RASULULLAH
Allah ta’ala berfirman:
وَإِذۡ قُلۡتُمۡ یَـٰمُوسَىٰ لَن نَّصۡبِرَ عَلَىٰ طَعَامࣲ وَ ٰحِدࣲ
“Dan (ingatlah), ketika kalian berkata, Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja” (QS Al Baqarah: 61)
Ayat ini merupakan seruan pada orang-orang Yahudi keturunan Bani Israil di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, namun isinya adalah cerita tentang Nabi Musa alaihissalam dan Bani Israil di masa beliau. Hal ini mengandung hikmah bahwa apa yang diserukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah kebenaran. Beliau yang tak pernah membaca kitab-kitab terdahulu (bahkan beliau tak bisa membaca) dan tak mengetahui kisah mereka, ternyata mengetahui dengan detail dan benar isi kitab tersebut serta bisa menceritakan kisah mereka. Ini tidak lain karena apa yang beliau sampaikan adalah wahyu dari sisi Allah.
Hikmah lainnya, disebutkan oleh Syaikh as Sa’di dalam tafsirnya. Beliau rahimahullah berkata:
واعلم أن الخطاب في هذه الآيات لأمة بني إسرائيل الذين كانوا موجودين وقت نزول القرآن، وهذه الأفعال المذكورة خوطبوا بها وهي فعل أسلافهم، ونسبت لهم لفوائد عديدة،
“Ketahuilah bahwa pembicaraan dalam ayat-ayat ini ditujukan kepada Bani Israil yang hidup pada masa turunnya Al-Qur’an. Perbuatan-perbuatan yang disebutkan itu diarahkan kepada mereka, padahal yang melakukannya adalah nenek moyang mereka. Perbuatan itu dinisbatkan kepada mereka karena beberapa faidah:
منها: أنهم كانوا يتمدحون ويزكون أنفسهم، ويزعمون فضلهم على محمد ومن آمن به، فبين الله من أحوال سلفهم التي قد تقررت عندهم، ما يبين به لكل أحد [منهم] أنهم ليسوا من أهل الصبر ومكارم الأخلاق، ومعالي الأعمال، فإذا كانت هذه حالة سلفهم، مع أن المظنة أنهم أولى وأرفع حالة ممن بعدهم فكيف الظن بالمخاطبين؟”.
Di antaranya: mereka sering berbangga dan memuji diri sendiri, serta mengklaim keutamaan mereka atas Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam & orang-orang yang beriman padanya. Maka Allah menjelaskan keadaan para pendahulu mereka, yang sudah mereka ketahui dan akui, sehingga menjadi jelas bagi setiap orang bahwa mereka bukanlah teladan dalam kesabaran, kemuliaan akhlak, dan amal salih. Jika demikian keadaan para leluhur mereka, padahal biasanya generasi terdahulu lebih utama dan lebih tinggi kedudukannya daripada generasi setelahnya, maka bagaimana lagi kiranya kedudukan orang-orang yang diajak bicara (mereka) itu?
ومنها: أن نعمة الله على المتقدمين منهم، نعمة واصلة إلى المتأخرين، والنعمة على الآباء، نعمة على الأبناء، فخوطبوا بها، لأنها نعم تشملهم وتعمهم.
Di antaranya pula: nikmat Allah yang diberikan kepada generasi terdahulu dari mereka adalah nikmat yang tersambung kepada generasi belakangan. Nikmat kepada kakek moyang merupakan nikmat pula bagi anak keturunannya. Karena itu mereka diingatkan, sebab nikmat-nikmat itu mencakup dan didapatkan juga oleh mereka.
ومنها: أن الخطاب لهم بأفعال غيرهم، مما يدل على أن الأمة المجتمعة على دين تتكافل وتتساعد على مصالحها، حتى كان متقدمهم ومتأخرهم في وقت واحد، وكان الحادث من بعضهم حادثا من الجميع. لأن ما يعمله بعضهم من الخير يعود بمصلحة الجميع، وما يعمله من الشر يعود بضرر الجميع.
Dan di antaranya: pembicaraan ditujukan kepada mereka dengan menyebut perbuatan orang lain menunjukkan bahwa umat yang berhimpun di atas satu agama itu saling memikul dan saling menolong dalam kemaslahatan mereka, seakan-akan yang terdahulu dan yang kemudian berada pada satu waktu. Peristiwa yang terjadi pada sebagian mereka dipandang sebagai peristiwa bagi seluruhnya. Sebab kebaikan yang dilakukan sebagian mereka membawa maslahat bagi semuanya, dan keburukan yang dilakukan sebagian mereka membawa mudharat bagi semuanya.
ومنها: أن أفعالهم أكثرها لم ينكروها، والراضي بالمعصية شريك للعاصي، إلى غير ذلك من الحِكَم التي لا يعلمها إلا الله.
Di antaranya lagi: kebanyakan perbuatan para leluhur itu tidak mereka ingkari. Orang yang ridha terhadap kemaksiatan seperti yang membantu pelakunya. Dan masih banyak hikmah lainnya yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.” (Tafsir as Sa’di)
TAK SABAR DENGAN NIKMAT & UJIAN
Allah ta’ala berfirman menceritakan perkataan Bani Israil pada Musa:
یَـٰمُوسَىٰ لَن نَّصۡبِرَ عَلَىٰ طَعَامࣲ وَ ٰحِدࣲ
“Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja” (QS Al Baqarah: 61)
Makanan yang mereka bosan menikmatinya adalah Manna & Salwa, yang Allah turunkan pada mereka. Allah berfirman di ayat sebelumnya:
{وَظَلَّلۡنَا عَلَیۡكُمُ ٱلۡغَمَامَ وَأَنزَلۡنَا عَلَیۡكُمُ ٱلۡمَنَّ وَٱلسَّلۡوَىٰۖ كُلُوا۟ مِن طَیِّبَـٰتِ مَا رَزَقۡنَـٰكُمۡۚ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَـٰكِن كَانُوۤا۟ أَنفُسَهُمۡ یَظۡلِمُونَ}
“Dan Kami menaungi kamu dengan awan, dan Kami menurunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu. Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi justru merekalah yang menzalimi diri sendiri.” [QS Al-Baqarah: 57]
Apa itu Manna & Salwa? Imam ath Thabari membawakan salah satu riwayat dalam tafsirnya:
حدثني يونس بن عبد الأعلى قال، أخبرنا ابن وهب قال، أنبأنا ابن زيد قال: كان طعام بني إسرائيل في التيه واحدا، وشرابهم واحدا. كان شرابهم عسلا ينزل لهم من السماء يقال له المن، وطعامهم طير يقال له السلوى، يأكلون الطير ويشربون العسل، لم يكونوا يعرفون خبزا ولا غيره. فقالوا: يا موسى لن نصبر على طعام واحد فادع لنا ربك يخرج لنا مما تنبت الأرض من بقلها”،
“Yunus bin Abdul A’la menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Zaid berkata: Makanan Bani Israil di masa tersesat di padang tiih itu satu macam, dan minuman mereka juga satu macam. Minuman mereka adalah sesuatu yang manis seperti madu yang turun dari langit, yang disebut al-Mann. Makanan mereka adalah burung yang disebut as-Salwa. Mereka memakan burung itu dan meminum minuman manis tersebut. Mereka tidak mengenal roti ataupun selainnya. Lalu mereka berkata: ‘Wahai Musa, kami tidak akan sabar dengan satu jenis makanan. Maka mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, seperti sayur-mayurnya…’” (Tafsir Ath Thabari)
Manna & Salwa ini sejatinya nikmat Allah pada mereka. Namun mereka bosan dan tidak sabar dengannya. Mereka meminta pada Musa alaihissalam agar diberikan makanan yang biasa mereka makan di kampung mereka berupa sayur mayur, kacang & bawang.
Bersambung, insya Allah, pada bagian #2.
Ditulis oleh ustadz: Amrullah Akadhinta, S.T.