Sifat kemunafikan, bermuka dua, karakter hipokrit, adalah sifat/perangai dimana seseorang menampakkan diri dengan keislamannya, namun sejatinya menyimpan kekafiran dalam hatinya
Sifat kemunafikan, bermuka dua, karakter hipokrit, adalah sifat/perangai dimana seseorang menampakkan diri dengan keislamannya, namun sejatinya menyimpan kekafiran dalam hatinya

Tanda-Tanda Kemunafikan

Sifat kemunafikan, bermuka dua, karakter hipokrit, adalah sifat/perangai dimana seseorang menampakkan diri dengan keislamannya, namun sejatinya menyimpan kekafiran dalam hatinya.

Allah Ta’ala berfirman mengancaman orang-orang munafik dalam al-Quran:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنْ النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” (QS. An-Nisa:145)

Dalam ayat yang lain disebutkan pula diantaranya:

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ مَنْ يُحَادِدِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَأَنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيمُ

“Tidaklah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allâh dan Rasûl-Nya, maka sesungguhnya nerakan jahannamlah baginya, kekal mereka di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar”. [At-Taubah/9:63]

Dan masih banyak dalil-dalil lain yang menjelaskan tercelanya kemunafikan beserta ancaman dosa dan hukuman bagi para pelaku kemunafikan, kita berlindung dari keburukan sifat kemunafikan.

Dalam pembahasan tema akidah, di kitab “ushulu al-iman fi dhoui al-kitab wa al-sunnah hal:67” misalnya , oleh para ulama kemunafikan dibagi menjadi dua:

1. Nifak I’tiqodi / Kemunafikan Secara Ideologi

Hal ini dikategorikan oleh para ulama sebagai kekufuran akbar/kufur besar, konsekuensinya mengeluarkan pelakunya dari agama islam, jenis dari kemunafikan i’tiqodi ini memiliki 6 bentuk, diantaranya:

– mendustakan Nabi sallallahu alaihi wa sallam
– mendustakan sebagian yang dibawa oleh Nabi
– memurkai Rasul
– memurkai apa yang dibawa oleh Rasul
– merasa senang dengan meredupnya cahaya islam
– merasa benci dengan kejayaan islam

Baca:  Sepenggal Kisah Dari Kaum Luth

2. Nifak ‘amali / Kemunafikan Secara Perbuatan

Jenis kemunafikan yang kedua ini masuk pada kategori kekufuran ashgor/kufur kecil, tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari islam, namun walau demikian perbuatan ini tidak bisa untuk diremehkan, ia termasuk pada perbuatan dosa besar, beberapa diantaranya disebutkan oleh Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam hadistnya:

أَربعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقاً ، وَإِنْ كَانَتْ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ فِيْهِ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفاقِ حَتَّى يَدَعَهَا : مَنْ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ

“Ada empat tanda seseorang disebut munafik. Jika salah satu perangai itu ada, ia berarti punya watak munafik sampai ia meninggalkannya. Empat hal itu adalah: (1) jika berkata, berdusta; (2) jika berjanji, tidak menepati; (3) jika berdebat, ia berpaling dari kebenaran; (4) jika membuat perjanjian, ia melanggar perjanjian (mengkhianati).” [HR. Bukhari, no. 2459, 3178 dan Muslim, no. 58]

Juga disebutkan dalam hadist yang lain:

آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga, (1) jika berbicara ia berdusta, (2) bila berjanji ia tidak menepati janjinya, dan (3) apabila diberi amanah ia mengkhianatinya” (HR. Al-Bukhari no:33).

Baca:  Panduan Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban di Masa New Normal

Dari kedua hadits di atas, dapat disimpulkan ada 4 ciri orang munafik dengan kemunafikan ‘amali, keempat ciri tersebut diantaranya sebagai berikut:

– Ketika berbicara berdusta
– Tidak Menepati Janji
– Mengkhianati Amanah
– Jika berdebat, ia berpaling dari kebenaran

Berangkat dari penjelasan singkat di atas, bisa kita ketahui beberapa ciri dan tanda seseorang terjerumus dalam sifat kemunafikan, bisa saja seseorang masuk kepada kemunafikan i’tiqodi yang merupakan kufur besar jika ia mendustakan Nabi sallallahu alaihi wa sallam, atau mendustakan sebagian yang dibawa oleh Nabi, atau memurkai Nabi, atau memurkai apa yang dibawa oleh Nabi, atau merasa senang dengan meredupnya cahaya islam, atau merasa benci dengan kejayaan islam, jika kita dapati seseorang dengan tanda-tanda ini, ketahuilah, bahwa ia telah terjatuh pada perilaku nifak i’tiqodi yang masuk kategori kufur akbar.

Adapun ciri-ciri orang yang terjatuh pada nifak ‘amali yang merupakan kekufuran kecil, yaitu ketika anda melihat seorang muslim namun mempunyai perangai ketika berbicara berdusta, tidak menepati janji, mengkhianati amanah, dan jika berdebat, ia berpaling dari kebenaran, dia telah melakukan perbuatan dosa besar.

Kita berlindung dari perbuatan kemunafikan apapun bentuk dan klasifikasinya, sebagaimana dahulu para sahabat mereka juga berlindung dari kemunafikan, Ibnu Abi Malikah mengatakan:

Baca:  7 Bahaya Hasad

أدركت ثلاثين من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم كلهم يخاف النفاق على نفسه ما منهم أحد يقول إنه على إيمان جبريل وميكائيل

“Aku telah menjumpai tiga puluh shahabat Nabi, seluruhnya takut akan nifak. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengatakan bahwa dirinya memiliki iman seperti imannya Jibril dan Mikail”. (Sahih Bukhary, Kitab al-Iman, Bab Khoufu al-Mukmin Min An Yahbatho Amaluhu Wa Huwa La Yasy’uru, juz:1, hal:27)

Kalau para sahabat saja dengan tingkat keimanan dan ketakwaan yang luar biasa sangat takut terjerumus dalam sifat kemunafikan, harusnya kita yang jelas tingkat keimanan dan ketakwaannya tidak sampai seperti derajat mereka, untuk menjadi lebih takut terjerumus dalam perangai orang-orang munafik, semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita semua dan mengampuni dosa-dosa kita.

Wallahu a’lam

Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله  
klik disini