ArtikelTafsir

Kufur Nikmat, Sebab Turunnya Bencana, (Tadabbur QS Al Baqarah: 61)

Bagian #2

MEMINTA GANTI DENGAN YANG LEBIH RENDAH   

Allah ta’ala berfirman tentang keinginan mereka 

⁠فَٱدۡعُ لَنَا رَبَّكَ یُخۡرِجۡ لَنَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلۡأَرۡضُ مِنۢ بَقۡلِهَا وَقِثَّاۤىِٕهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَاۖ قَالَ أَتَسۡتَبۡدِلُونَ ٱلَّذِی هُوَ أَدۡنَىٰ بِٱلَّذِی هُوَ خَیۡرٌۚ

“maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami wahai Musa, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti: sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah. Dia (Musa) menjawab, Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik?” (QS Al Baqarah: 61)

Mereka meminta pada Allah sesuatu yang biasa mereka makan sebelum nya sebagai pengganti apa yang biasa Allah berikan kepada mereka. Nabi Musa alaihissalam pun menegur mereka karena permintaan tersebut. “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik?!”. 

Mengapa Manna & Salwa lebih baik daripada apa yang mereka minta? Al Qurthubi rahimahullah berkata:

وَاخْتُلِفَ فِي الْوُجُوهِ الَّتِي تُوجِبُ فَضْلَ الْمَنِّ وَالسَّلْوَى عَلَى الشَّيْءِ الَّذِي طَلَبُوهُ وَهِيَ خَمْسَةٌ: 

Para ulama berbeda pendapat mengenai alasan yang menjadikan Manna & Salwa lebih utama daripada apa yang mereka minta. Ada 5 pendapat yang disebutkan:

الْأَوَّلُ- أَنَّ الْبُقُولَ لَمَّا كَانَتْ لَا خَطَرَ لَهَا بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْمَنِّ وَالسَّلْوَى كَانَا أَفْضَلَ، قَالَهُ الزَّجَّاجُ. 

Pertama, Sayur-mayur tidak memiliki nilai yang sebanding dengan Manna dan Salwa, sehingga keduanya lebih utama. Ini pendapat Az-Zajjaj.

 

الثَّانِي- لَمَّا كَانَ الْمَنُّ وَالسَّلْوَى طَعَامًا مَنَّ اللَّهُ بِهِ عَلَيْهِمْ وَأَمَرَهُمْ بِأَكْلِهِ وَكَانَ فِي اسْتِدَامَةِ أَمْرِ اللَّهِ وَشُكْرِ نِعْمَتِهِ أَجْرٌ وَذُخْرٌ فِي الْآخِرَةِ، وَالَّذِي طَلَبُوهُ عَارٍ مِنْ هَذِهِ الْخَصَائِلِ كَانَ أَدْنَى فِي هَذَا

Kedua, Manna dan Salwa adalah makanan yang Allah anugerahkan kepada mereka dan Allah perintahkan untuk dimakan. Dalam menjalankan perintah Allah dan mensyukuri nikmat-Nya terdapat pahala dan simpanan untuk akhirat, sedangkan apa yang mereka minta tidak memiliki keutamaan tersebut, sehingga lebih rendah dari sisi ini.

الْوَجْهِ. الثَّالِثُ- لَمَّا كَانَ مَا مَنَّ اللَّهُ بِهِ عَلَيْهِمْ أَطْيَبَ وَأَلَذَّ مِنَ الَّذِي سَأَلُوهُ، كَانَ مَا سَأَلُوهُ أَدْنَى مِنْ هَذَا الْوَجْهِ لَا مَحَالَةَ

Ketiga, apa yang Allah berikan kepada mereka lebih lezat dan lebih nikmat daripada yang mereka minta, maka yang mereka minta jelas lebih rendah dari sisi ini.

الرَّابِعُ- لَمَّا كَانَ مَا أُعْطُوا لَا كُلْفَةَ فيه ولا تعب، والذي طلبوه لا يجئ إِلَّا بِالْحَرْثِ وَالزِّرَاعَةِ وَالتَّعَبِ كَانَ أَدْنَى.

Keempat, apa yang mereka terima tidak membutuhkan usaha dan tidak pula keletihan, sedangkan yang mereka minta hanya bisa diperoleh dengan bercocok tanam, bertani, dan kerja keras, sehingga lebih rendah dari sisi ini.

الْخَامِسُ- لَمَّا كَانَ مَا يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ لَا مِرْيَةَ فِي حِلِّهِ وَخُلُوصِهِ لِنُزُولِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ، الحبوب وَالْأَرْضُ يَتَخَلَّلُهَا الْبُيُوعُ وَالْغُصُوبُ وَتَدْخُلُهَا الشُّبَهُ، كَانَتْ أدنى من هذا الوجه.

Kelima, apa yang turun kepada mereka (Manna & Salwa) tidak diragukan kehalalan dan kemurniannya karena datang langsung dari Allah. Adapun hasil bumi dan biji-bijian bercampur dengan transaksi terlarang, kemungkinan perampasan, dan syubhat, sehingga lebih rendah dari sisi ini. (Tafsir Al Qurthubi)

 

KEBURUKAN YANG MENIMPA MEREKA

وَضُرِبَتۡ عَلَیۡهِمُ ٱلذِّلَّةُ وَٱلۡمَسۡكَنَةُ وَبَاۤءُو بِغَضَبࣲ مِّنَ ٱللَّهِۗ 

“Kemudian mereka ditimpa kehinaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah.” (QS Al Baqarah: 61)

Karena mereka tidak bersyukur dengan nikmat Allah, maka Allah pun menimpakan pada mereka kehinaan & kemiskinan. As Sa’di rahimahullah berkata 

ولما كان الذي جرى منهم فيه أكبر دليل على قلة صبرهم واحتقارهم لأوامر الله ونعمه، جازاهم من جنس عملهم فقال: ﴿وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ﴾ التي تشاهد على ظاهر أبدانهم ﴿وَالْمَسْكَنَةُ﴾ بقلوبهم، فلم تكن أنفسهم عزيزة، ولا لهم همم عالية، بل أنفسهم أنفس مهينة، وهممهم أردأ الهمم، ﴿وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللهِ﴾ أي: لم تكن غنيمتهم التي رجعوا بها وفازوا، إلا أن رجعوا بسخطه عليهم، فبئست الغنيمة غنيمتهم، وبئست الحالة حالتهم.

“Apa yang mereka lakukan itu merupakan bukti terbesar atas ketidaksabaran mereka serta sikap meremehkan mereka terhadap perintah & nikmat Allah, maka Allah membalas mereka sesuai dengan jenis perbuatan mereka. Lalu Allah berfirman:

“Dan ditimpakan kepada mereka kehinaan,” yaitu kehinaan yang tampak pada lahir tubuh mereka, “dan kemiskinan,” yaitu pada hati-hati mereka. Jiwa-jiwa mereka tidaklah mulia, dan mereka tidak memiliki cita-cita yang tinggi. Bahkan jiwa mereka adalah jiwa yang hina, dan cita-cita mereka adalah cita-cita yang paling rendah.

“Dan mereka kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah,” yakni tidaklah keuntungan yang mereka bawa pulang dan mereka peroleh, kecuali bahwa mereka kembali dengan membawa kemurkaan-Nya. Maka sungguh buruk keuntungan yang mereka peroleh, dan sungguh buruk keadaan mereka”. (Tafsir as Sa’di)

KEBURUKAN BANI ISRAIL, JANGAN DIIKUTI

ذَ ٰ⁠لِكَ بِأَنَّهُمۡ كَانُوا۟ یَكۡفُرُونَ بِـَٔایَـٰتِ ٱللَّهِ وَیَقۡتُلُونَ ٱلنَّبِیِّـۧنَ بِغَیۡرِ ٱلۡحَقِّ

“Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar” (QS Al Baqarah: 61)

Allah sebutkan keburukan Bani Israil agar tidak diikuti oleh umat Nabi Muhammad dan itulah yang menyebabkan mereka mendapatkan kehinaan & kemiskinan. Keburukan tersebut adalah kekufuran mereka pada ayat & perintah Allah dan mereka membenci para Nabi & Rasul sampai mereka bunuh.

Ath Thabari rahimahullah berkata 

وقد بينا فيما مضى من كتابنا أن معنى”الكفر”: تغطية الشيء وستره،  وأن”آيات الله” حججه وأعلامه وأدلته على توحيده وصدق رسله. فمعنى الكلام إذا: فعلنا بهم ذلك، من أجل أنهم كانوا يجحدون حجج الله على توحيده وتصديق رسله، ويدفعون حقيقتها، ويكذبون بها

“Telah kami jelaskan sebelumnya dalam kitab kami bahwa makna “kufur” adalah menutupi dan menyembunyikan sesuatu, dan bahwa “ayat-ayat Allah” adalah hujjah-hujjah-Nya, tanda-tanda-Nya, serta dalil-dalil-Nya atas tauhid pada-Nya dan kebenaran para rasul-Nya.

Maka makna firman Allah ini adalah: Kami melakukan hal itu terhadap mereka karena mereka dahulu mengingkari hujjah-hujjah Allah atas tauhid kepadaNya dan pembenaran terhadap para rasulNya; mereka menolak kebenarannya dan mendustakannya.” (Tafsir Ath Thabari)

MAKSIAT & MELAMPAUI BATAS

 ذَ ٰ⁠لِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ یَعۡتَدُونَ 

“Yang demikian itu karena mereka bermaksiat dan melampaui batas.” [QS Al-Baqarah: 61]

Allah sebutkan kembali keburukan Bani Israil yang tidak boleh diikuti oleh umat Islam. Mereka bermaksiat terhadap perintah Allah sehingga mereka melalaikannya & melakukan yang diharamkan. Mereka pun melampaui batas terhadap apa yang Allah bolehkan sehingga mereka menerjang yang haram. 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata 

وَهَذِهِ عِلَّةٌ أُخْرَى فِي مُجَازَاتِهِمْ بِمَا جُوزُوا بِهِ، أَنَّهُمْ كَانُوا يَعْصُونَ وَيَعْتَدُونَ، فَالْعِصْيَانُ فِعْلُ الْمَنَاهِي، وَالِاعْتِدَاءُ الْمُجَاوَزَةُ فِي حَدِّ الْمَأْذُونِ فِيهِ أو المأمور به. والله أعلم.

“Dan ini adalah sebab lain mengapa mereka dibalas dengan apa yang mereka terima: yaitu karena mereka dahulu berbuat maksiat dan melampaui batas.

Kemaksiatan adalah melakukan perkara-perkara yang dilarang, sedangkan melampaui batas adalah melampaui batasan dalam perkara yang diizinkan atau dalam perkara yang diperintahkan. Wallahu a’lam” (Tafsir Ibnu Katsir)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga memperingatkan umatnya untuk tidak mendekati perkara-perkara yang haram dengan melakukan syubhat, sesuatu yang masih samar antara halal & haram. Kenapa? Karena perkara syubhat ini akan membawa seseorang pada perkara yang diharamkan.

Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, 

إِنَّ الحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاس، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرأَ لِدِيْنِهِ وعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِيْ الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ. أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمَىً. أَلا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، أَلاَ وإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهيَ اْلقَلْبُ) 

“Sesungguhnya perkara yang halal itu telah jelas dan perkara yang haram itu telah jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang (samar), tidak diketahui oleh mayoritas manusia. Barangsiapa yang menjaga diri dari perkara-perkara samar tersebut, maka dia telah menjaga kesucian agama dan kehormatannya. Barang siapa terjatuh ke dalam perkara syubhat, maka dia telah terjatuh kepada perkara haram, seperti  seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar daerah larangan, dikhawatirkan dia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap raja itu mempunyai tanah larangan, ketahuilah bahwa tanah larangan Allah subhanahu wa ta’ala adalah segala yang Allah haramkan. Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia terdapat sepotong daging. Apabila daging tersebut baik maka baik pula seluruh tubuhnya dan apabila daging tersebut rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah hati.” (HR Bukhari Muslim)

Demikian beberapa hal yang bisa kita renungkan dari ayat ini. Semoga kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Semoga Allah jauhkan kita dari keburukan & kekufuran di dunia & akhirat. 

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Amrullah Akadhinta, S.T.

Ustadz Amrullah Akadhinta ST

Beliau adalah Alumni S1 Teknik Sipil UGM, Alumni Ma'had Al-'Ilmi, | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial sebagai Pengasuh Twitulama. Ketua Yayasan Bimbingan Islam. Sekretaris KIPMI. Pembina Yayasan Muslim Merapi
Back to top button