
KOTAK TABUT, TANDA KEBESARAN ALLAH PADA THALUT
Selain menjelaskan sebab-sebab logis yang membuat Thalut layak menjadi pemimpin mereka, Allah pun menjelaskan sebab syar’i yang menjadi tanda kepemimpinan Thalut dan bahwa itu adalah ketetapan Allah. Sebab tersebut adalah turunnya sebuah kotak yang menjadi sebab keberkahan pada Bani Israil, kotak Tabut.
Allah ta’ala berfirman:
{ وَقَالَ لَهُمۡ نَبِیُّهُمۡ إِنَّ ءَایَةَ مُلۡكِهِۦۤ أَن یَأۡتِیَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِیهِ سَكِینَةࣱ مِّن رَّبِّكُمۡ وَبَقِیَّةࣱ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَـٰرُونَ تَحۡمِلُهُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُۚ إِنَّ فِی ذَ ٰلِكَ لَـَٔایَةࣰ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِینَ }
“Dan nabi mereka berkata kepada mereka, Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah datangnya Tabut kepadamu, yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, yang dibawa oleh malaikat. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah) bagimu, jika kamu orang beriman.” [QS Al-Baqarah: 248]
Ath Thabari rahimahullah berkata dalam tafsirnya tentang Tabut tersebut
وهو التابوت الذي كانت بنو إسرائيل إذا لقوا عدوا لهم قدموه أمامهم، وزحفوا معه، فلا يقوم لهم معه عدو، ولا يظهر عليهم أحد ناوأهم، حتى ضيعوا أمر الله، وكثر اختلافهم على أنبيائهم، فسلبهم الله إياه مرة بعد مرة، يرده إليهم في كل ذلك، حتى سلبهم آخرها مرة فلم يرده عليهم، ولن يرد إليهم آخر الأبد.
“Tabut adalah peti suci yang dahulu Bani Israil gunakan: apabila mereka menghadapi musuh, mereka mendahulukannya di hadapan mereka dan maju bersamanya. Maka tidak ada musuh yang mampu berdiri menghadapi mereka, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan mereka.
Namun ketika mereka menyia-nyiakan perintah Allah dan banyak berselisih terhadap nabi-nabi mereka, maka Allah mencabut (mengambil) tabut itu dari mereka berulang kali. Setiap kali itu pula dikembalikan kepada mereka, hingga pada akhirnya diambil sekali lagi dan tidak dikembalikan kepada mereka.” (Tafsir ath Thabari)
Maka, sebagai tanda bahwa apa yang disampaikan Sang Nabi tentang pengangkatan Thalut sebagai pemimpin itu benar, Allah pun mengirimkan malaikat untuk membawa kotak Tabut yang selama ini hilang. Ath Thabari membawakan riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma
حدثنا القاسم قال، حدثنا الحسين قال، حدثني حجاج، عن ابن جريج قال، قال ابن عباس: جاءت الملائكة بالتابوت تحمله بين السماء والأرض وهم ينظرون إليه، حتى وضعته عند طالوت.
“Telah menceritakan kepada kami al-Qasim, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Husain, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Hajjaj, dari Ibnu Juraij, ia berkata: Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata, “Para malaikat datang membawa tabut (peti suci), mereka memikulnya di antara langit dan bumi, sementara manusia melihatnya, hingga mereka meletakkannya di hadapan Thalut.” (tafsir ath Thabari)
UJIAN BAGI MEREKA YANG PERGI BERPERANG
Walhasil, Bani Israil pun akhirnya mengakui kepemimpinan Thalut atas mereka dan akhirnya mereka pun pergi berperang di bawah kepemimpinan Thalut. Namun, sebelum peperangan benar-benar berlangsung, Allah pun menguji pasukan tersebut.
Dalam keadaan haus dan lelah karena perjalanan, pasukan tersebut melewati sebuah sungai. Namun, Allah menentukan bahwa tak boleh ada yang meminum air sungai tersebut kecuali sedikit saja. Allah ta’ala berfirman:
{ فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِٱلۡجُنُودِ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ مُبۡتَلِیكُم بِنَهَرࣲ فَمَن شَرِبَ مِنۡهُ فَلَیۡسَ مِنِّی وَمَن لَّمۡ یَطۡعَمۡهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّیۤ إِلَّا مَنِ ٱغۡتَرَفَ غُرۡفَةَۢ بِیَدِهِۦۚ فَشَرِبُوا۟ مِنۡهُ إِلَّا قَلِیلࣰا مِّنۡهُمۡۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ قَالُوا۟ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلۡیَوۡمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦۚ قَالَ ٱلَّذِینَ یَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَـٰقُوا۟ ٱللَّهِ كَم مِّن فِئَةࣲ قَلِیلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةࣰ كَثِیرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِینَ }
“Maka ketika Thalut membawa bala tentaranya, dia berkata, Allah akan menguji kamu dengan satu sungai. Maka barangsiapa meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan barang siapa tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku kecuali menciduk seciduk dengan tangan. Tetapi mereka meminumnya kecuali sebagian kecil dari mereka. Ketika dia (Thalut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya. Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS Al-Baqarah: 249]
Al Baghawi berkata dalam tafsirnya
فَاجْتَمَعَ لَهُ ثَمَانُونَ أَلْفًا مِمَّنْ شَرَطَهُ وَكَانَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ فَشَكَوْا قِلَّةَ الْمَاءِ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ عَدُوِّهِمْ فَقَالُوا: إِنَّ الْمِيَاهَ قَلِيلَةٌ لَا تَحْمِلُنَا فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يُجْرِيَ لَنَا نَهْرًا.
﴿قَالَ﴾ طَالُوتُ ﴿إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ﴾ مُخْتَبِرُكُمْ لِيَرَى طَاعَتَكُمْ -وَهُوَ أَعْلَمُ – ﴿بِنَهَرٍ﴾ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَالسُّدِّيُّ: هُوَ نَهْرُ فِلَسْطِينَ، وَقَالَ قَتَادَةُ نَهْرٌ بَيْنَ الْأُرْدُنِ وَفِلَسْطِينَ عَذْبٌ ﴿فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي﴾ أَيْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ دِينِي وَطَاعَتِي ﴿وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ﴾ يَشْرَبْهُ ﴿فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ﴾
“Maka berkumpullah 80.000 orang dari pasukan yang telah memenuhi syarat. Saat itu mereka berada dalam panas yang sangat terik, lalu mereka mengeluhkan sedikitnya air pada mereka dalam menghadapi musuh. Mereka berkata: “Sesungguhnya air sangat sedikit dan tidak cukup untuk kita, maka berdoalah kepada Allah agar Dia mengalirkan sungai untuk kita.”
Thalut berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kalian, untuk melihat ketaatan kalian—dan Dia lebih mengetahui—dengan sebuah sungai.”
Ibnu ‘Abbas dan As-Suddi berkata: itulah sungai di Palestina. Qatadah berkata: sungai antara Yordania dan Palestina, airnya tawar.
“Barang siapa minum darinya, maka dia bukan termasuk golonganku (yakni bukan termasuk orang yang taat kepadaku dan berada di atas agamaku). Dan barangsiapa tidak meminumnya, maka dia termasuk golonganku, kecuali orang yang hanya menciduk satu cidukan dengan tangannya.” (Tafsir Al Baghawi)
Ada juga satu pelajaran penting dari perkataan sebagian pasukan Thalut, yang menunjukkan rasa tawakal yang tinggi kepada Allah ketika menghadapi musuh yang di atas kertas memiliki kekuatan yang jauh lebih besar. Allah abadikan perkataan ini agar kita betul-betul merenungkannya. Yaitu perkataan:
قَالَ ٱلَّذِینَ یَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَـٰقُوا۟ ٱللَّهِ كَم مِّن فِئَةࣲ قَلِیلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةࣰ كَثِیرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِینَ }
“Mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Allah berkata, Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS Al-Baqarah: 249]
Al Qurthubi berkata dalam tafsirnya
وَفِي قَوْلِهِمْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ: “كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ” الْآيَةَ، تَحْرِيضٌ عَلَى الْقِتَالِ وَاسْتِشْعَارٌ لِلصَّبْرِ وَاقْتِدَاءٌ بِمَنْ صَدَّقَ رَبَّهُ. قُلْتُ: هَكَذَا يَجِبُ عَلَيْنَا نَحْنُ أَنْ نَفْعَلَ؟ لَكِنِ الْأَعْمَالُ الْقَبِيحَةُ وَالنِّيَّاتُ الْفَاسِدَةُ مَنَعَتْ مِنْ ذَلِكَ حَتَّى يَنْكَسِرَ الْعَدَدُ الْكَبِيرُ مِنَّا قُدَّامَ الْيَسِيرِ مِنَ الْعَدُوِّ كَمَا شَاهَدْنَاهُ غَيْرَ مَرَّةٍ، وَذَلِكَ بما كسبت أيدينا
“Dalam ucapan mereka semoga Allah meridhoi mereka, pada ayat ‘berapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah’, terdapat dorongan untuk berperang, menumbuhkan rasa sabar, dan meneladani orang-orang yang membenarkan Rabb mereka.
Aku (Al Qurthubi) berkata: beginilah seharusnya yang kita lakukan. Namun perbuatan-perbuatan buruk dan niat-niat yang rusak telah menghalangi hal itu, hingga jumlah yang besar dari kita bisa dikalahkan oleh sedikit musuh, sebagaimana telah kita saksikan berkali-kali. Itu semua disebabkan oleh apa yang diperbuat oleh tangan-tangan kita sendiri.” (Tafsir Al Qurthubi)
Potongan terakhir ayat ini, juga perlu kita perhatikan dan renungkan serta dicatat baik-baik sebagai bekal menghadapi kehidupan dan berbagai macam permasalahannya.
وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِینَ }
“Dan Allah bersama orang-orang yang bersabar” (QS Al Baqarah: 249)
Kebersamaan Allah bersama mereka, sebagaimana ditafsirkan Al Baghawi rahimahullah:
بِالنَّصْرِ وَالْمَعُونَةِ
“Dengan pertolongan & perhatian” (tafsir Al Baghawi)
Allah memperhatikan & menolong orang yang bersabar. Namun bersabar bukanlah diam saja. Bersabar adalah menahan diri untuk tidak melanggar batasan-batasan Allah dan senantiasa mengikuti perintahNya dalam setiap langkah perjalanan kehidupan. Siapa yang memperhatikan batasan-batasan Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun kan memperhatikan dan menolongnya.
Wallahu a’lam.
Bersambung ke bagian #3
Diterjemahkan oleh Ustadz Amrullah Akadhinta, S.T.