Keutamaaan Shalat Malam

Keutamaaan Shalat Malam

KEUTAMAAAN SHALAT MALAM

Saudaraku seiman, shalat sunnah adalah penyempurna kekurangan pada shalat wajib. Shalat sunnah banyak macamnya. Mulai dari shalat sunnah rawatib, shalat sunnah Malam (Qiyamul lail atau Lail atau Tahajud), shalat sunnah dhuha, shalat sunnah hajat, shalat sunnah istikharah, dan lain-lain.

Nah… Mengapa sebaiknya kita rutin melaksanakan shalat sunnah Malam ini? Karena banyak sekali keutamaan dari shalat Malam ini, yang pasti rugi jika kita tinggalkan. Terlebih saat ini kita berada di bulan Ramadhan. Di dalam banyak ayat, Allah Ta’ala menganjurkan kepada Nabi-Nya yang mulia untuk melakukan shalat malam. FirmanNya,

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ

“Dan pada sebagian malam hari shalat Tahajud-lah kamu….” (QS. Al-Israa’ : 79)

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا

“Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (QS. Al-Insaan: 25-26)

Allah Ta’ala pun mensifati orang-orang yang menegakkan shalat Lail dalam ayatNya,

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا

“Lambung-lambung mereka jauh dari pembaringan, karena mereka berdoa kepada Rabb mereka dalam keadaan takut dan berharap kepada-Nya.” (QS. As-Sajadah: 16)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Seutama-utama puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163)

Dari Jabir bin Abdillah dia berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Sesungguhnya di waktu malam terdapat suatu saat, tidaklah seorang muslim mendapati saat itu, lalu dia memohon kebaikan kepada Allah ‘azza wajalla baik kebaikan dunia maupun akhirat, kecuali Allah akan memperkenankannya. Demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. Muslim no. 757)

Para Salaf pun Menganjurkan Shalat Malam

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Kemulian seseorang terletak pada shalatnya di malam hari dan sikapnya menjauhi apa yang ada pada tangan orang lain.” (Mukhtashar Qiyaamil Lail, hal. 63)

Dari Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Kami tidak mengetahui amal ibadah yang lebih berat daripada lelahnya melakukan shalat malam dan menafkahkan harta ini.” (Ash-Shalaatu Wat Tahajjud, hal. 298)

Al-Hasan juga pernah ditanya, “Mengapa orang yang selalu melakukan shalat Tahajud wajahnya lebih indah?” Ia menjawab, “Sebab mereka menyendiri bersama Ar-Rahman (Allah), sehingga Allah memberikan kepadanya cahaya-Nya.” (Diriwayatkan oleh Al-Marwazi. Lihat Mukhtashar Qiyaamil Lail, hal. 58)

Saudaraku, shalat sunnah Malam merupakan shalat sunnah yang dikerjakan pada malam hari. Ada 2 macam shalat sunnah malam yaitu shalat yang genap yaitu shalat tahajud dan shalat tarawih yang dilakukan pada bulan Ramadhan. Serta shalat yang disebut witir yang artinya ganjil.

Beberapa Keutamaan Shalat Malam

[1]. Allah menjamin kedudukan yang terpuji bagi orang yang melaksanakan malam.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

“Dan pada sebagian malam, bertahajud-lah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Israa : 79)

[2]. Shalat Lail atau shalat malam akan menghindarkan seseorang dari fitnah dan tanda kemuliaan baginya.

Sebagaimana dalam hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha,

اسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقَالَ سُبْحَانَ اللهِ مَاذَا أَنْزَلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتَنِ وَمَاذَا فَتَحَ مِنَ الْخَزَائِنِ , أَيْقِظُوْا صَوَاحِبَاتِ الْحُجْرِ فَرُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٌ فِيْ الْآخِرِةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun pada suatu malam lalu bersabda, ‘Subhanallah terhadap segala sesuatu yang diturunkan pada malam ini berupa fitnah dan segala sesuatu yang dibuka berupa berbagai perbendaharaan. Bangunkanlah (para perempuan) pemilik kamar karena (mereka) kadang berpakaian di dunia, (tetapi) telanjang di akhirat.’” (HR. Al-Bukhari no. 115, 1126)

وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ وَعِزَّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

“Ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin adalah shalatnya pada malam hari dan keagungannya adalah perasaan cukupnya terhadap (segala sesuatu yang berada di sisi) manusia.’” (Disnilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 831)

[3]. Malam adalah penggugur kejelekan dan pencegah perbuatan dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ، فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ ، وَهُوَ قُرْبَةٌ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ ، وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ ، وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ

“Hendaknya kalian mengerjakan Malam karena (ibadah) itu adalah rutinitas orang-orang shalih sebelum kalian serta (ibadah) itu adalah hal yang mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, penggugur segala kesalahan, dan pencegah perbuatan dosa.” (HR. At-Tirmidzi, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan selainnya. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 452)

[4]. Sebab baiknya jiwa ia akan terjaga dari kerusakan dan penyakit hati.

Dadanya lapang dan semangatnya anggota badan. Karena terlalu banyak tidur jupa dapat menyebabkan rusaknya hati, karenanya dengan qiyamul lail dia bisa mengurangi tidurnya.

[5]. Sebab dimasukkannya hamba ke surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلاَمَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الأَرْحَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ.

“Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan kerjakanlah shalat pada waktu malam ketika manusia sedang tidur. Niscaya, kalian akan dimasukkan ke dalam surga dengan keselamatan.” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahihah no. 569)

[6]. Orang yang mengerjakan shalat malam termasuk manusia terbaik.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّيْ مِنَ اللَّيْلِ

“Sebaik-baik seorang lelaki adalah Abdullah bin ‘Umar andaikata dia mengerjakan shalat malam.” (HR. Al-Bukhari no. 1121, 1122, dan Muslim no. 2479)

[7]. Orang-orang yang mengerjakan shalat malam tergolong sebagai orang yang banyak berdzikir kepada Allah.

Rasulullah bersabda,

إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ

“Apabila seorang lelaki bangun tidur pada malam hari, kemudian membangunkan istrinya, lalu keduanya mengerjakan shalat dua raka’at, keduanya telah ditulis sebagai golongan laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, Abu Dawud no. 1453, An-Nasa’i dalam Al-Kubra 1/413, Ibnu Majah no. 1335, Ibnu Abid Dunya dalam At-Tahajjud wa Qiyamul Lail no. 233)

Penutup

Sedangkan pada bulan Ramadhan, shalat Lail adalah ibadah yang sangat dianjurkan dan lebih ditekankan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan ibadah tersebut dalam sabdanya,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang qiyam Ramadhan (berdiri untuk mengerjakan shalat pada malam Ramadhan) dengan keimanan dan pengharapan pahala, dosa-dosanya yang telah berlalu telah diampuni.” (HR. Al-Bukhari no. 37, 2008, 2009, dan Muslim no. 759)

Dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Sesungguhnya seorang lelaki, apabila mengerjakan shalat bersama imam sampai selesai, terhitung mengerjakan qiyam satu malam.” (HR. ‘Abdurrazzaq 4/254, Ibnu Abi Syaibah 2/164, Ahmad 5/159, 163, Ad-Darimy 2/42, Ibnul Jarûd no. 403, Abu Daud no. 1375, At-Tirmidzi no. 805, An-Nasa’i 3/83, Ibnu Majah no. 1327, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albany, dalam Irwa’ul Ghalil 2/193/447)

Sedangkan mengenai Lailatul qadar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berdiri (untuk mengerjakan shalat pada) malam lailatul qadar dengan keimanan dan pengharapan pahala, dosanya yang telah berlalu telah diampuni.” (HR. Al-Bukhari no. 35, 1901, 2014, dan Muslim no. 760)

Saudaraku seiman, keutamaan-keutamaan shalat Malam sangat agung sekali, maka setiap dari kita pasti akan sangat rugi jika meninggalkannya. Karena, balasan bagi orang-orang yang memilih bermunajat pada Allah saat orang lain tertidur adalah surga. Allahu a’lam.

 

Ditulis Oleh:
Ustadz Saryanto Abu Ruwaifi’ حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

 

 



Ustadz Saryanto Abu Ruwaifi’, S.Pd.I حفظه الله
Beliau adalah Da’i mukim Yayasan Tebar Da’i Mukim di Bandungan, Kab. Semarang, Alumni STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya, Mahasiswa Pascasarjana Magister Hukum Islam Kelas Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Saryanto Abu Ruwaifi’ S.Pd.I فظه الله  
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS