Hukum Meminum Susu Pada Bangkai Kambing
Hukum Meminum Susu Pada Bangkai Kambing

Hukum Meminum Susu Pada Bangkai Kambing

Para ulama berselisih pendapat tentang hukum mengkonsumsi susu yang ada pada bangkai, Imam Ibnu Rusyd rahimahullahu ta’ala menyatakan :

وَاخْتَلَفُوا مِنْ هَذَا الْبَابِ فِي لَبَنِ الْمَيِّتَةِ، وَسَبَبُ الْخِلَافِ هَلْ يَتَنَاوَلُهَا الْعُمُومُ؟ أَوْ لَا يَتَنَاوَلُهَا؟

“Dan para ulama berbeda pendapat dalam bab ini tentang susu yang ada pada bangkai, penyebab timbulnya perbedaan pendapat ini adalah apakah ia termasuk ke dalam keumuman ataukah tidak.”
(Bidayatul Mujtahid : 3/64).

Disebutkan pula di dalam Ensiklopedia Fiqih :

اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي نَجَاسَةِ اللَّبَنِ الْخَارِجِ مِنْ مَيْتَةِ الْحَيَوَانِ الْمَأْكُول اللَّحْمِ عَلَى قَوْلَيْنِ:

أَحَدُهُمَا: لأَِبِيْ حَنِيفَةَ وَأَحْمَدَ فِي رِوَايَةٍ

عَنْهُ، وَهُوَ أَنَّهُ طَاهِرٌ مَأْكُولٌ شَرْعًا (1) ، وَدَلِيلُهُمْ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَل: {وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأَْنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ} (2) ، حَيْثُ إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَصَفَهُ بِكَوْنِهِ خَالِصًا، فَلاَ يَتَنَجَّسُ بِنَجَاسَةِ مَجْرَاهُ، وَوَصَفَهُ بِكَوْنِهِ سَائِغًا، وَهَذَا يَقْتَضِي الْحِل، وَامْتَنَّ عَلَيْنَا بِهِ، وَالْمِنَّةُ بِالْحَلاَل لاَ بِالْحَرَامِ.

وَالثَّانِي: لِجُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ وَالصَّاحِبَيْنِ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ وَهُوَ أَنَّهُ نَجِسٌ، لاَ يَحِل تَنَاوُلُهُ، وَذَلِكَ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ} (3) حَيْثُ إِنَّ تَحْرِيمَ الْمَيْتَةِ تَحْرِيمٌ لِجَمِيعِ أَجْزَائِهَا، وَمِنْهَا اللَّبَنُ، وَلأَِنَّهُ مَائِعٌ فِي وِعَاءٍ نَجِسٍ، فَتَنَجَّسَ بِهِ، أَشْبَهَ مَا لَوْ حُلِبَ فِي إِنَاءٍ نَجِسٍ

“Para ulama ahli fiqih berselisih pendapat tentang najisnya susu yang keluar dari bangkai hewan yang dagingnya halal dimakan menjadi dua pendapat ;

1. Pendapat Abu Hanifah dan Ahmad, dalam riwayat lain beliau (Ahmad) menyatakan bahwa susu bangkai itu suci dan boleh dikonsumsi menurut syariat.
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala ; “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih/murni antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS Al-An’am : 66).
Yang mana Allahh mensifati susu sebagai sesuatu yang “bersih/murni” sehingga tidak najis hanya karena lokasi alirannya najis. Dan Allah mensifati susu “Mudah ditelan”, ini memberi konsekwensi halal, dan Allah memberikan anugrah itu kepada kita sedangkan anugrah Allah itu dengan sesuatu yang halal bukan yang haram.

2. Pendapat mayoritas ulama Fiqih dari kalangan Malikiyyah, Syafi’iyyah dan dua sahabat Abu Hanifah (Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan) yang menyatakan susu bangka itu najis dan haram dikonsumsi.
Berdasarkan firman Allah ta’ala ; “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai” (QS Al-Maidah : 3). Yang mana pengharaman bangkai itu memberikan kosekwensi pengharaman seluruh bagian bangkai tersebut termasuk ke dalamnya susu. Dan karena susu bangkai itu benda cair yang ada di dalam wadah yang najis sehingga ia menjadi najis karenanya. Sama kasusnya dengan susu yang diambil dari bejana yang najis.”

(Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah : 39/388)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu ta’ala menyatakan pula :

لبن الميتة نجس، وإن لم يتغيَّر بها؛ لأنه مائع لاقى نجساً فتنجَّس به، كما لو سقطت فيه نجاسة ـ وإلا فهو في الحقيقة منفصل عن الميتة قبل

أن تموت ـ لكنهم قالوا: إنها لمَّا ماتت صارت نجسةً، فيكون قد لاقى نجاسةً فتنجَّس بذلك.

واختار شيخ الإِسلام أنَّه طاهر (2) بناءً على ما اختاره من أن

الشيء لا ينجس إلا بالتغيُّر (1)، فقال: إِن لم يكن متغيِّراً بدم الميتة، وما أشبه ذلك فهو طاهر.

“Susu dari bangkai itu najis meskipun tidak berubah, karena ia berupa cairan yang bersinggungan langsung dengan benda najis (bangkai) maka ia berubah menjadi najis. Sama kasusnya jika jatuh benda najis ke dalam cairan tadi.
Jika tidak susu ini hakikatnya terpisah dari bangkai sebelum mati, akan tetapi para ulama menyatakan : Ia mati sehingga menjadi bangkai sehingga susu nya bersinggungan langsung dengan benda najis maka ikut berubah menjadi najis karena hal itu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu ta’ala memilih pendapat yang menyatakan susu bangkai itu suci (Silahkan periksa : Majmu’ Fatawa : 21/95, Al-Ikhtiyarat Al-Fiqhiyyah : 26, Al-Inshaf : 1/162-163),  berdasarkan pendapat yang beliau pilih bahwasanya sesuatu benda itu tidak bisa najis kecuali jika ia berubah. Jika tidak ada perubahan dikarenakan darah dari bangkai tadi, atau benda lainnya maka susu tadi tetap suci.”
(Asy-Syarhul Mumti’ : 1/92)

Pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang menyatakan sucinya susu bangkai kambing kemudian dirinci oleh beliau alasannya, beliau menyatakan :

وَالْمُطَهِّرُونَ احْتَجُّوا بِأَنَّ الصَّحَابَةَ أَكَلُوا جُبْنَ الْمَجُوسِ مَعَ كَوْنِ ذَبَائِحِهِمْ مَيِّتَةً

“Para ulama’ yang memilih pendapat sucinya susu bangkai (dari hewan yang halal dimakan-pent) berdalil dengan perilaku para sahabat yang memakan keju nya orang-orang majusi, padahal sembelihan orang majusi itu statusnya bangkai.”
(Majmu’ Fatawa : 21/533).

Di dalam lokasi yang lain dalam kitab Daqaiqut Tafsir beliau menyatakan :

فصل وَأما لبن الْميتَة وأنفحتها فَفِيهِ قَولَانِ مشهوران للْعُلَمَاء

أَحدهمَا أَن ذَلِك طَاهِر كَقَوْل أبي حنيفَة وَغَيره وَهُوَ إِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَن الإِمَام أَحْمد

وَالثَّانِي أَنه نجس كَقَوْل الشَّافِعِي وَالرِّوَايَة الْأُخْرَى عَن أَحْمد

“Pasal tentang adapun susu bangkai dan abomasa-nya maka ada dua pendapat yang masyhur di kalangan para ulama’
Pendapat pertama bahwa keduanya suci sebagaimana ini pendapat Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Ahmad.
Pendapat kedua menyatakan najis sebagaimana pendapat Asy-Syafii dan salah satu riwayat dari Ahmad.”

Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan lagi :

وَالْأَظْهَر أَن أنفحة الْميتَة ولبنها طَاهِر لِأَن الصَّحَابَة لما فتحُوا بِلَاد الْعرَاق أكلُوا من جبن الْمَجُوس وَكَانَ هَذَا ظَاهرا سائغا بَينهم

“Pendapat yang lebih tampak kebenarannya bahwa Abomase bangkai dan susu-nya itu suci. Karena para sahabat tatkala menaklukkan negri Irak mereka memakan keju buatan orang Majusi dan fenomena ini sangat tampak serta sangat luas tersebar di kalangan para sahabat.”
(Daqa’iqut Tafsir : 2/12).

Kemudian anggapan bahwa susu itu bersinggungan langsung dengan benda najis (bangkai) maka otomatis menjadi najis, hal ini juga dibantah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah beliau bertutur :

وَأَيْضًا فاللبن والأنفحة لم يموتا وَإِنَّمَا نجسها من نجسها لكَونهَا فِي وعَاء نجس فَتكون مَائِعا فِي وعَاء نجس فالنجس مَبْنِيّ على مقدمتين على أَن الْمَائِع لَاقَى وعَاء نجسا وعَلى أَنه إِذا كَانَ كَذَلِك صَار نجسا فَيُقَال أَولا لَا نسلم أَن الْمَائِع ينجس بملاقاة النَّجَاسَة وَقد تقدم أَن السّنة دلّت على طَهَارَته لَا على نَجَاسَته وَيُقَال ثَانِيًا الملاقاة فِي الْبَاطِن لَا حكم لَهَا كَمَا قَالَ تَعَالَى {من بَين فرث وَدم لَبَنًا خَالِصا سائغا للشاربين} وَلِهَذَا يجوز حمل الصَّبِي الصَّغِير فِي الصَّلَاة مَعَ مَا فِي بَاطِنه وَالله أعلم

“Demikian pula susu dan abomase itu tidak mati, akan tetapi najisnya susu dikarenakan ia ada di sebuah wadah yang najis sehingga ia berstatus sebagai benda cair di dalam wadah yang najis. Kenajisan itu dibangun di atas dua muqadimah : Benda cair ada di dalam wadah yang najis sehingga menjadi najis.

Anggapan ini dibantah ; yang pertama kita tidak bisa menerima bahwa benda najis bersinggungan dengan najis maka menjadi najis. Sunnah telah menunjukkan bahwa kesuciannya bukan najis.

Yang kedua persinggungan yang terjadi di dalam perut itu tidak termasuk ke dalam hukum, sebagaimana firman Allah ta’ala ; Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih/murni antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS Al-An’am : 66).

Maka dari itu boleh hukumnya menggendong bayi tatkala shalat bersamaan dengan apa (benda najis-pent) yang ada di dalam perut si bayi tadi, wallahu a’lam.”
(Daqa’iqut Tafsir : 2/13)

Wallahu a’lam

Keterangan : Infihah atau Abomase adalah enzim yang diambil dari perut ke-empat dari sapi yang menyusu yang digunakan untuk pembuatan keju, disebutkan di dalam Ensiklopedia Fiqih :

هي مادة بيضاء صفراوية في وعاء جلدي يستخرج من بطن الجدي أو الحمل الرضيع يوضع منها قليل في اللبن الحليب فينعقد ويصير جبنا يسميها بعض الناس في بعض البلاد “مجبنة”

“Ia adalah satu zat (disebut enzim Rennin-pent) yang berwarna putih kekuningan yang ada di dalam wadah semacam kulit. Dikeluarkan dari perut domba atau anak sapi yang masih menyusu, dilambil, diletakkan sedikit ke dalam susu yang diperah sehingga susu itu menjadi menggumpal dan menjadi keju. Sebagian manusia di sebagian negri menyebutnya Mujabbinah.”
(Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah : 5/155).

 

Disusun oleh:
Ustadz Abul Aswad al Bayati حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA حفظه الله
Beliau adalah Alumni Mediu, Dewan konsultasi Bimbingan Islam, dan da’i di kota Klaten.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA حفظه الله  
klik disini