Muamalah

Keuntungan Koperasi Simpan Pinjam Halal? Simak Penjelasannya!

Keuntungan Koperasi Simpan Pinjam Halal? Simak Penjelasannya!

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan tentang keuntungan koperasi simpan pinjam, apakah halal? Simak penjelasannya! Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabaraktuh.

Sebuah koperasi simpan pinjam di sebuah kantor menetapkan jasa serta keuntungan secara bersama-sama dan musyawarah, di mana jasa serta keuntungan yang didapat dari simpan dan meminjam kan uang nantinya kembali kepada anggota.

1) Apakah uang keuntungan dari yang dibagikan kepada anggota itu hukumnya halal (tidak termasuk riba)?

2) Bolehkah uang tersebut digunakan untuk membayar hutang?

Jazakumullahu khayran katsiran ustadz, semoga ustadz dan keluarga selalu diberi kesehatan aamiin.

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS melalui Grup WA)

Baca Juga:  Bagaimana Hukum Berjualan Barang Black Market?

Jawaban:

Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jika yang dimaksud adalah menyewa tempat penyimpanan uang, semisal brankas, maka hal ini adalah boleh, dengan catatan bukan melihat besarnya uang yang disimpan, tetapi bagusnya kualitas brankas penyimpanan, dan sistem keamanannya.

Adapun jasa atas pinjaman, dengan kesepakatan di awal, maka hal ini termasuk riba dan tidak boleh. Karena mengambil manfaat dari pinjaman adalah riba jahiliyah yang diharamkan dalam Al-Qur`an.

Allah Ta’âlâ berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian adalah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 278).

Kemudian, pada ayat setelahnya, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ memerintah untuk mengambil pokok pinjaman saja tanpa memungut tambahan,

وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Dan jika kalian bertaubat (dari pengambilan riba), bagi kalian pokok harta kalian; kalian tidak menganiaya tidak pula dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 279).

Selain itu, kaidah yang para ulama sepakati dalam masalah ini berbunyi,

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا

“Setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat adalah riba.”

Adapun soal uang yang digunakan untuk membayar utang, maka sangat jelas dari kesepakatan para ulama adalah pembayarannya harus bersumber dari penghasilan yang halal, bukan syubhat apalagi uang yang bersumber dari keharaman (jelas tidak boleh).

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag.
حفظه الله
Kamis, 6 Muharram 1443 H/ 4 Agustus 2022 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik di sini

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button