Kapan Ucapan Tasbih (Subhanallah) Diucapkan?

Kapan Ucapan Tasbih (Subhanallah) Diucapkan?

Kapan Ucapan Tasbih (Subhanallah) Diucapkan?

Para pembaca Bimbingan islam yang berakhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang kapankah ucapan tasbih disyariatkan untuk diucapkan, selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz ingin bertanya. Bolehkah saya mengucapkan “Subhanallah” / tasbih ketika mendengar kabar dari saudara saya yang melakukan transaksi riba?
Atau apa ucapan yang lebih cocok ?
Soalnya temen yang lain menyalahkan ucapan saya, katanya ucapan tasbih / subhanallah itu untuk takjub terhadap keagungan Allah Ta’ala.

(Disampaikan oleh Fulan, Sahabat BiAS N09 G-01)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Terkait dengan ucapan tasbih, apakah terlarang mengucapkannya saat melihat keburukan? Jawabnya tidak.

Seseorang tidaklah bisa dikatakan salah ketika mengucapkan tasbih saat ia melihat sesuatu yang buruk, terlebih jika hal itu untuk menunjukkan keheranan atau keterkejutan.
Dan kedua hal itu (heran ataupun terkejut) tidak bisa disamakan pada masing-masing orang, tidak ada tolok ukur pastinya, baik itu heran atas (sikap) kebodohan, heran atas (bentuk) hewan yang aneh, dll ataupun terkejut dengan suatu kondisi tertentu, terkejut dengan berita besar, dll.
Kenapa? Karena tingkat sensifitas dan pengetahuan seseorang berbeda-beda.

Misalnya, ada orang yang punya hobi snorkeling dan diving di lautan, ia sudah terbiasa alias tidak kaget melihat banyak bentuk terumbu karang, juga ikan dengan berbagai macam bentuk serta warnanya yang indah. Adapun orang yang tidak pernah, atau baru sekali melihat isinya lautan, ia akan takjub dengan keindahannya, maka tidak salah baginya yang baru pertama kali melihat indahnya terumbu karang dan macam-macam ikan untuk ber-tasbih mengucapkan Subhanalloh.

Begitu pula ketika ada orang yang dari kecil hingga dewasa hidup di kota besar atau metropolitan dengan segala hiruk pikuknya, banyak orang berangkat dalam keadaan masih gelap dan pulang pun juga sudah gelap.
Lalu ia pergi ke kota Jogja, dengan segala kesantunan dan kegigihan menuntut ilmunya, ia heran saat ada orang ba’da subuh sampai sebelum kerja masih bisa ikut majelis ilmu di 2 tempat, sepulang kerja pun bisa dengan santai duduk di majelis ilmu ke 3 di hari itu. Ia heran untuk berangkat kerja tidak perlu pagi buta dan pulang pun masih bisa bercengkrama dengan keluarga.
Maka segala bentuk keheranan dan keterkejutan ini sah-sah saja jika diucapkan melalui kalimat tasbih.

Dalil Ucapan Tasbih

Penjelasan ini semua tentu saja ada dalil yang melatarbelakanginya, mari kita perhatikan bagaimana Hadits dari Ummu Salamah rodhiallohu ‘anha, ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bangun dari tidurnya, lalu ber-tasbih karena heran dengan fitnah besar yang turun pada suatu malam namun orang-orang masih enak terlelap dalam tidurnya :

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ اسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنْ الْفِتَنِ وَمَاذَا فُتِحَ مِنْ الْخَزَائِنِ أَيْقِظُوا صَوَاحِبَاتِ الْحُجَرِ فَرُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ

Dari Ummu Salamah berkata : “Pada suatu malam Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam terbangun lalu bersabda:
“Subhaanalloh (Maha suci Alloh), fitnah apakah yang diturunkan pada malam ini? Dan apa yang dibuka dari dua perbendaharaan (Ramawi dan Persia)?
Bangunlah wahai orang-orang yang ada di balik dinding (kamar-kamar), karena betapa banyak orang hidup menikmati nikmat-nikmat dari Alloh di dunia ini namun akan telanjang nanti di akhirat (tidak mendapatkan kebaikan)”
(HR Bukhori 112)

Contoh lainnya bisa kita dapat dari apa yang diucapkan Aisyah rodhiallohu ‘anha tatkala mendengar fitnah zina dari orang-orang munafik ahlul ifki :

سبجان الله وقد تحدث الناس بهذا؟ 

“Subhaanalloh, orang-orang telah membicarakan ini?”
(HR Bukhori 4381, Potongan hadits panjang yang membahas tentang fitnah Asiyah dengan Shofwan bin Mu’atthol)

Aisyah bertasbih kala itu karena ia tidak menyangka orang-orang bisa dengan mudah menuduhnya berbuat hal yang tidak-tidak, hal ini menunjukkan betapa takjub dan terkejutnya beliau dengan kondisi saat itu.

Semua ini berbeda dengan kalimat Maa Syaa Alloh, sebab lafal Maa Syaa Alloh lebih condong pada hal-hal yang baik saja, entah itu kekaguman saat melihat sesuatu atau mendoakan kebaikan (keberkahan) atas suatu kabar dan apa yang dimiliki seseorang.

Dan jika kita hubungkan kembali ke pertanyaan, tatkala ada orang yang ber-tasbih saat mendengar orang lain memiliki hutang riba, sah-sah saja jika memang ia heran melihat hal tersebut, bisa jadi ia dan keluarganya adalah orang yang sudah lama anti riba, sudah tau hukum riba, dan ia heran ketika di hari ini masih saja ada orang yang belum paham bagaimana syari’at telah mengharamkan riba.

Kembali seperti yang kita sampaikan di atas, bahwa tak ada tolok ukur pasti tentang batasan heran dan takjub yang membolehkan seseorang mengucapkan tasbih, kembali pada tingkat sensifitas/kepekaan, serta keilmuan seseorang.

 

Wallahu A’lam,
Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Selasa, 05 Dzulhijjah 1440 H / 06 Agustus 2019 M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS