Adab & AkhlakKeluarga

Kaidah-Kaidah Ketaatan Pada Orang Tua

Kaidah-Kaidah Ketaatan Pada Orang Tua

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan tentang kaidah-kaidah ketaatan pada orang tua. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin bertanya ustadz, bagaimana hukumnya orang tua melarang anak bersedekah dengan alasan khawatir akan masalah finansial dan orang tua melarang anak untuk sholat sunnah dengan alasan khawatir dengan kesehatan anak. Terima kasih sebelumnya ustadz, jazakallahu khairan

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh.

Secara umum menjadi kewajiban seorang anak untuk menaati orang tuanya, terlebih seorang ibu yang hak beliau lebih besar dari manusia lainnya.

Kewajiban seseorang untuk menaati perintah ibunya bila memang alasan larangan/perintah tersebut bisa di terima, karena perbuatan yang ingin dilakukan hukumnya sunnah dan menaati orang tuanya hukumnya wajib.

Ada beberapa kaidah yang perlu dipahami dalam masalah ketaatan kepada makhluk terutama kepada orang tuanya.

Sebagaimana yang disebutkan dalam fatwa Lajnah Daimah, ketika ditanya apakah hukum puasa sunnah tanpa ridha dari kedua orang tuanya, maka dijawab sebagai berikut,”

وفي فتاوى اللجنة الدائمة: ما حكم صيام النفل بدون رضا الوالدين؟ فأجابت بقولها: طاعة الوالدين واجبة، وصيام النافلة سنة، فإذا أمرك والداك بترك الصيام النفل وجب عليك طاعتهما. اهـ.

“Taat kepada kedua orang tua hukumnya wajib dan puasa nafilah hukumnya sunnah, maka apabila orang tua memerintahkanmu untuk meninggalkan puasa sunnah maka wajib atasmu untuk menaati keduanya.”

وسئل الشيخ ابن باز رحمه الله تعالى: عمن تمنعه والدته من صيام التطوع، وتقول له: لقد صمت كثيرًا، وفيه الكفاية، فهل أصوم، أم أترك صيام التطوع، مع العلم بأن جسمي ضعيف ولا أستطيع؟ فأجاب بقوله: عليك طاعة والدتك، لأنها بارة بك محسنة فيك، وحريصة عليك، فعليك السمع والطاعة لما تقول لك الوالدة في صوم النافلة. اهـ.

“Dan ditanya Syekh Bin Baz rahimahullah ta`laa terkait dengan pelarangan ibunya terhadap dirinya untuk melakukan puasa sunnah, ibunya berkata kepada anaknya,” bahwa kamu telah banyak puasa, maka sudah cukup.”

Apakah dengannya aku tetap boleh melakukan puasa atau aku tidak berpuasa? Untuk diketahui memang kenyataannya tubuhku lemah dan aku sebenarnya tidak mampu.

Maka Syekh Bin Baaz menjawab, “Wajib bagimu menaati ibumu, karena beliau menginginkan kebaikan atasmu dan sangat perhatian dengan keadaanmu. Karenanya wajib bagimu untuk mendengar dan taat dengan apa yang dikatakan oleh ibu dalam berpuasa sunnah.”

Perlu dicatat, jikalau seseorang meninggalkan perbuatan sunnah karena menaati ibu atau orang tuanya, dengan niat baik yang ada berharap Allah akan berikan pahala kepadanya karena ada sesuatu penghalang/udzur sehingga tidak bisa melakukan kebaikan tersebut, karena menjalankan perkara yang wajib dalam menaati ibunya.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh ibnu Abbas radhiyallahu anhumaa,”

عَن ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ رسول الله صلى الله عليه وسلم فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ: (إِنَّ الله كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ؛ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمائَةِ ضِعْفٍ إِلىَ أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ. وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ له سَيِّئَةً وَاحِدَةً) رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullah, beliau bersabda tentang sesuatu yang beliau riwayatkan dari Rabbnya Tabaraka wa Ta’ala: “Sesungguhnya Allah menetapkan adanya kebaikan dan kejelekan, kemudian Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang berniat untuk mengerjakan amal kebaikan namun belum terlaksana, maka Allah akan catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Dan jika dia berniat untuk kebaikan dan mengerjakannya, maka Allah akan catat baginya dengan 10 kebaikan hingga 700 kali lipat, bahkan sampai berlipat–lipat banyaknya. Sebaliknya, apabila dia berniat untuk mengerjakan amalan kejelekan namun belum terlaksana, maka Allah akan catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Dan apabila dia berniat untuk kejelekan dan mengerjakannya, maka Allah akan mencatat baginya satu kejelekan saja.” (HR. Al Bukhari 6491 dan Muslim : 131).

(Lihat link berikut : https://www.islamweb.net/ar/fatwa/252808/)

Perlu dicatatkan, bawa di sana ada beberapa kaidah dalam menaati perintah orang tua, mana yang akan didahulukan, apakah dengan perintah yang dianggap baik, namun orang tua melarangnya, apakah mutlak harus dilaksanakan dalam setiap keadaan dengan segala perintahnya?

Sebagaimana yang disebutkan di dalam Islamweb no fatwa 76303 ketika ditanya terkait larangan dari ibunya untuk melakukan shalat sunnah dan shalat rawatib, apakah harus ditaati?,”

Maka dijawab ,”

فإذا كان للوالدة غرض صحيح من منعك من صلاة النوافل كحاجتها إليك في معونة وخدمة ونحو ذلك فطاعتها لازمة، وإن لم يكن لها غرض صحيح فلا طاعة لها لأن أمرها نشأ عن هوى وصد عن خير لغير قصد معتبر، وقد ذكر العلماء لوجوب طاعة الوالدين ضوابط، حاصلها ثلاثة:

الأول: أن يكون في غير معصية لقول النبي صلى الله عليه وآله وسلم: لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق. رواه أحمد وغيره وصححه السيوطي.

الثاني: أن يكون لهما غرض صحيح من الأمر بترك المندوب والمباح أو الأمر بمقارفة المكروه.

الثالث: أن لا يكون في ذلك ضرر على الولد فيما أمراه به، وقد نص على هذا طائفة من أهل العلم، قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: ويلزم الإنسان طاعة والديه في غير المعصية وإن كانا فاسقين، وهو ظاهر إطلاق أحمد، وهذا فيما فيه منفعة لهما ولا ضرر، فإن شق عليه ولم يضره وجب وإلا فلا.

“Bila seorang ibu mempunyai maksud yang benar ketika melarang dari shalat sunnah karena beliau membutuhkanmu untuk membatu atau melayaninya atau semisalnya, maka menaatinya hukumnya wajib. Namun bila ternyata niatnya tidak benar maka tidak ada kewajiban menaatinya karena ia telah keluar dari hawa nafsu dan menghalangi dari kebaikan tanpa tujuan yang benar.

Kaidah dalam Menaati Orang Tua

Para ulama menyebutkan bahwa kewajiban menaati kedua orang tua ada beberapa kaidah, intinya ada 3 kaidah:

Pertama: (Perintah tersebut) bukan dalam kemaksiatan

Sebagaimana sabda Rasulullah shallahu alaiihi wasallam,” bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta. (HR. Ahmad dan selainnya dan di shahihkan oleh Imam Suyuthi)

Kedua: hendaknya ada maksud yang benar dengan perintah keduanya,

Baik ketika melarang perkara yang sunnah atau mubah atau dalam perintah untuk menjalankan perkara yang di makruhkan.

Ketiga: hendaknya apa yang diperintahkah keduanya tidak sampai mencelakakan sang anak,

Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh sebagian para ulama. Berkata syekh islam ibnu Taimiyah rahimahullah ta`ala,” wajib bagi seseorang untuk menaati kedua orang tuanya bukan dalam kemaksiatan, walaupun keduanya seorang yang fasik.

Sebagaimana pendapat Imam Ahmad secara umum, juga perintah tersebut dalam perkara yang bermanfaat dan tidak sampai mencelakakan. Bila ada perintah yang ternyata memberatkan si anak namun tidak sampai membahayakannya maka ia tetap harus menaatinya, namun bila membahayakan maka tidak wajib menaatinya.” (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/76303/)

Taati orang tua dalam perkara yang boleh

Sehingga, dari penjelasan di atas bisa dipahami, bila seorang anak dilarang dengan perkara yang dianggap sunnah dan dasar larangan tersebut masuk akal atau bisa diterima maka hendaknya ia menaati perintah tersebut.

Namun bila larangan tersebut karena ketidaksukaan terhadap syariat atau tanpa dasar maka perintah tersebut bisa di abaikan, dengan tetap bersabar mendakwahkan dan memberikan masukan kepada orang tua atau selainnya dengan cara yang benar dan bijaksana.

Terkait dengan mencari pekerjaan dengan cara memanfaatkan koneksi atau kenalan “orang dalam”, maka selama tidak menzalimi orang lain yang lebih berhak dengan pekerjaan tersebut, kemudian ia memang berhak atau mempunyai keahlian dalam hal itu dan tanpa melakukan suap kepada si orang dalam tersebut maka diperbolehkan melakukannya, namun bila tidak maka tidak diperkenankan untuk melakukannya.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Selasa, 22 Rabiul Awal 1444 H/ 18 Oktober 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid
Back to top button