Jenggotmu, Biarkan Saja Dia Tumbuh bimbingan islam jenggot
Jenggotmu, Biarkan Saja Dia Tumbuh bimbingan islam jenggot

Jenggotmu, Biarkan Saja Dia Tumbuh

Allah menjadikan untuk lelaki beberapa hal dari anggota tubuhnya yang membedakan ia dengan wanita, diantaranya adalah tumbuhnya jenggot di dagunya, mungkin memang tidak semua berjenggot secara alamiah, namun mayoritas lelaki dewasa mereka dianugrahi jenggot oleh Allah ta’ala, untuk semakin menampilkan kegagahannya, kejantanannya, dan perbedaannya dengan kaum wanita.

Masalah jenggot ternyata dalam sudut pandang agama kita memiliki keterkaitan dengan syariat, ada sisi ibadah yang berhubungan dengannya, dan dibahas hukumnya oleh para ulama.
Kalau kita lihat, ternyata para Nabi terdahulu adalah sosok sosok yang memiliki jenggot, diantaranya adalah Harun alaihis salam, sebagaimana disebutkan dalam al-Quran:

قَالَ يَبۡنَؤُمَّ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِى وَلَا بِرَأۡسِىٓ ۖ إِنِّى خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِىٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِى

“Harun menjawab: Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”.
(Taha: 94)

Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wa sallam pun juga beliau seorang yang berjenggot, disebutkan dalam hadist:

سَأَلْنَا خَبَّابًا أَكانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَقْرَأُ في الظُّهْرِ والعَصْرِ؟ قالَ: نَعَمْ، قُلْنَا: بأَيِّ شيءٍ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ؟ قالَ: باضْطِرَابِ لِحْيَتِهِ

“Kami bertanya kepada Khabbab, apakah dahulu Nabi sallallahu alaihi wa sallam tetap membaca bacaan pada solat dhuhur dan ashar?
Khabbab menjawab: Iya, beliau tetap membaca (walau sir), kami bertanya: dengan tanda apa kalian mengetahui bahwa beliau membaca?
Khabbab menjawab: dengan bergeraknya jenggot beliau (karena rahang bergerak)”.
(H.R Bukhari no 760)

Kedua dalil di atas paling tidak sekilas memberikan informasi kepada kita bahwa para Nabi terutama Nabi kita sallallahu alaihi wa sallam memiliki jenggot.

Hukum Membiarkan Jenggot Tumbuh

Membiarkan jenggot tumbuh hukumnya wajib atas kaum lelaki, hal tersebut didasarkan atas dalil-dalil berikut:

1. Nabi sallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk memelihara jenggot, dan perintah itu memberikan makna wajib pada sesuatu yang diperintahkan, dan tidak ditemukan adanya indikator yang memalingkan hukum wajib ini kepada derajat mandub/anjuran, beberapa hadist yang memerintahkan diantaranya:

Hadist dari sahabat Abdullah ibnu Umar rodiyallahu anhuma bahwa Rasul bersabda:

خَالِفُوا المُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

“Selisihilah orang-orang musyrik. Peliharalah jenggot dan cukurlah kumis kalian.”
(HR. Al-Bukhari no:5892)

Begitupula sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam dari sahabat Abu Huroiroh rodiyallahu anhu bahwa Nabi bersabda:

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ

“Cukurlah kumis dan biarkanlah jenggot kalian. Selisihilah orang-orang Majusi.”
(HR. Muslim no:260)

2. Dalil kedua, jika jenggot dicukur maka akan menyerupai orang-orang kafir, sebagaimana disebutkan dalam dua hadist sebelumnya.

3. Ketiga, karena ketika jenggot dicukur merupakan bentuk dari merubah ciptaan Allah, dan perwujudan ketaatan kepada syaiton, Allah berfirman:

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا

“Dan aku (syaiton) benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya”.
Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata”.
(al-Nisa: 119)

4. Keempat, ketika jenggot dicukur akan ada penyerupaan dengan kaum wanita, padahal disebutkan dalam hadist:

لعن رسول الله المتشبهين من الرجال بالنساء

“Rasul sallallahu alaihi wa sallam melaknat para lelaki yang menyerupai kaum wanita”.
(H.R Bukhory no 5885)

Oleh karenanya syaikhul islam Ibnu Taimiyyah termasuk yang mengharamkan mencukur jenggot, bahkan Ibnu Hazm dan sebagian ulama yang lain menukilkan adanya ijma’/konsensus ulama atas haramnya mencukur jenggot.
(Maratibu al-Ijma’ dan Raddu al-Muhtar 2/116)

Apakah Boleh Mencukur Jenggot Yang Melebihi Satu Genggaman Tangan?

Sebagian ulama berpendapat bolehnya memotong jenggot yang melebihi satu genggaman tangan (di semua keadaan), yaitu seseorang yang jenggotnya panjang kemudian ia menggenggamnya dengan salah satu tangannya, kemudian jenggot yang panjangnya melebihi dari genggaman tersebut boleh dia potong, mereka berdalilkan dengan “Perbuatan Abdullah ibnu umar bahwa beliau ketika berhaji atau berumrah, setelahnya ketika tahallul beliau menggemgam jenggot beliau, dan jenggot yang melebihi genggaman tangan kemudian beliau potong”.
(H.R Muslim 259)

Para ulama tersebut mengatakan: Ibnu Umar adalah sahabat yang meriwayatkan hadist perintah memelihara jenggot (yang disebutkan di atas), dan Ia adalah orang yang paling paham tentang sesuatu yang beliau riwayatkan.

Kita katakan bahwa para ulama yang membolehkan memotong jenggot di semua keadaan, mereka sejatinya tidak memiliki hujjah dari atsar perbuatan Abdullah bin umar tersebut, alasannya sebagai berikut:

A. Perbuatan Abdullah ibnu Umar hanya dilakukan ketika beliau tahallul dari ihram berhaji atau umroh, adapaun para ulama tersebut membolehkannya di semua keadaan.

B. Perbuatan Abdullah ibnu Umar ini dikeluarkan dari hasil tafsiran beliau atas ayat yang menjelaskan mimpi Nabi sallallahu alaihi wa sallam bahwa kelak Nabi dan para sahabatnya akan mendapat kesempatan memasuki masjidil haram dalam kondisi aman dan :

مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ

“Dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya”.
(Al-Fath: 27)

Beliau menafsirkannya bahwa “mencukur” itu untuk rambut kepala, adapun “mengguntingnya” ini untuk jenggot.
(Lihat Syarh al-Kirmani atas Sahih Bukhari 21/11)

C. Bahwa sahabat ketika menyampaikan statemen atau melakukan perbuatan yang menyelisihi apa yang ia riwayatkan, maka tetap yang diambil adalah apa yang ia riwayatkan, bukan pemahaman dan perbuatan sahabat yang menyelisishi hadist yang diriwayatkannya, jadi yang diambil tetap hadist yang disandarkan kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam.

Dari sedikit paparan di atas, maka pendapat yang kami anggap lebih kuat adalah wajibnya memelihara jenggot, membiarkan ia tumbuh alami tanpa memotongnya, dengan mengaplikasikan lafadz-lafadz umum yang memerintahkan kita untuk memelihara dan membiarkannya tumbuh, wallahu a’lam.

Pembahasan disarikan dari kitab Sahih Fiqih al-Sunnah jilid: 1 hal:87-88 oleh Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid Salim hafidzohullah.

Wallahu a’lam

Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله 
klik disini