Jangan Biarkan Riba Menyusupi Transaksi Jual Beli Anda

Riba adalah salah satu bentuk transaksi mu’amalah yang diharamkan oleh Allah ﷻ. Bahkan riba merupakan transaksi yang pelakunya mendapat ancaman laknat dan dijauhkan dari rahmat Allah. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata:

لعن رسول الله آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه, وقال: هم سواء

“Rasulullah melaknat orang yang memakan harta riba, pemberi harta riba, penulis akad riba, dan saksi transaksi riba. Mereka semuanya sama”.
(H.R Muslim : 1597)

Riba tidak hanya satu jenis, namun banyak pintu dan macamnya, sehingga seorang muslim hendaklah berhati-hati tatkala bermuamalah dengan orang lain, jangan sampai dia terjatuh ke dalam transaksi riba, Rasulullah ﷺ bersabda:

الرِّبا سَبْعُونَ حُوبًا أيْسَرُها أنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ

“Riba memiliki 70 macam dosa. Dosa yang paling ringan seperti dosa berzina dengan ibunya sendiri”
(HR. Ibnu Majah: 2274).

Riba jual beli (Riba ba’i)

Yaitu, tukar menukar harta dengan adanya penambahan atau penundaan pada komoditi ribawi. Rasulullah ﷺ bersabda:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).”
(HR. Muslim no. 1587).

Baca Juga:  Mengikuti & Tasyabbuh Dengan Orang Kafir Adalah Sebab Kehancuran

Berdasarkan hadits diatas, riba pada transaksi jual beli terbagi menjadi dua:

  1. Riba fadhl, jika terjadi penambahan.  ini tidak berlaku jika objek transaksi berbeda jenis. Seperti : tukar menukar antara emas dan perak, maka tidak disyaratkan disini kesamaan dalam timbangan.
  2. Riba Nasi’ah, jika terjadi penundaan dalam serah terima objek transaksi.

Ibnu Abdil Barr berkata:

فاسْتَقَرَّ الأمْرُ عِنْدَ العُلَماءِ عَلى أنَّ الرِّبا فِي الِازْدِيادِ فِي الذَّهَبِ بِالذَّهَبِ وفِي الوَرِقِ بِالوَرِقِ كَما هُوَ فِي النَّسِيئَةِ سَواءٌ فِي بَيْعِ أحَدِهِما بِالآخَرِ وفِي بَيْعِ بَعْضِ كُلِّ واحِدٍ مِنهُما بِبَعْضٍ وهَذا أمْرٌ مُجْتَمَعٌ عَلَيْهِ لا خِلافَ بَيْنِ العُلَماءِ فيه مع توتر الآثارِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ بِذَلِكَ

“Telah menjadi ketetapan dikalangan para ulama bahwasanya riba berlaku pada penambahan saat tukar-menukar emas dan perak, begitu pula jika terjadi penundaan, baik tukar menukar tersebut pada keseluruhan objek jual beli atau sebagiannya. Ini adalah perkara yang disepakati, tidak ada perselisihan dikalangan ulama, begitu pula banyaknya hadits yang diriwayatkan dari rasulullah ﷺ yang menjelaskan hal tersebut”.
(At-tamhid : 6/287).

Begitu pula dengan empat komoditi lainnya selain emas dan perak, berlaku pula aturan kesamaan dalam timbangan atau takaran dan tunai dalam majelis akad. Ini adalah madzhab sahabat, tabi’in, dan para ahli fikih. (Lihat : At – Tamhid : 4/84).

Baca Juga:  Seputar Sholat Malam dan Tata Cara Pelaksanaan (Bagian Terakhir)

Apakah komoditi ribawi hanya dikhususkan pada enam benda riba yang disebutkan oleh rasulullah ﷺ?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa benda-benda lain pun bisa terhitung komoditi ribawi jika ada kesamaan illat (sebab hukum) dengan enam komoditi yang disebutkan oleh rasulullah ﷺ.

Apa illat pada enam komoditi ribawi yang disebutkan rasulullah ﷺ?

Para ulama sepakat bahwa emas dan perak memiliki illat yang sama, dan 4 komoditi lainnya pun memiliki illat yang sama, namun mereka berbeda pendapat dalam menentukan illatnya.

Ibnu Qudamah berkata:

واتَّفَقَ المُعَلِّلُونَ عَلى أنَّ عِلَّةَ الذَّهَبِ والفِضَّةِ واحِدَةٌ، وعِلَّةَ الأعْيانِ الأرْبَعَةِ واحِدَةٌ، ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي عِلَّةِ كُلِّ واحِدٍ مِنهُما

“Para ulama yang menetapkan illat pada komoditi riba yang disebutkan rasulullah ﷺ sepakat bahwa illat yang ada pada emas dan perak sama, begitupula illat yang ada pada empat komoditi lainnya juga sama, kemudian ,mereka berselisih pendapat dalam menentukan illat tersebut”
(Al – Mughny : 4/5).

Prof. DR. Sulaiman Ar-ruhaily –salah seorang ulama Saudi arabia- menguatkan pendapat bahwa:

  1. Illat dalam emas dan perak adalah tsamaniyyah, yaitu alat tukar menukar atau patokan harga barang.
  2. Sedangkan illat dalam empat komoditi lainnya adalah makanan yang ditakar atau ditimbang.
Baca Juga:  Bolehkah Wakaf Dengan Uang yang Akan Dibelikan Tanah

Oleh karenanya, uang kartal yang ada pada zaman sekarang masuk ke dalam komoditi ribawi dan berlaku padanya hukum riba karena memiliki illat yang sama dengan emas dan perak yaitu tsamaniyyah, sehingga dianalogikan dengan kedua benda tersebut.
Namun, mata uang suatu negara berbeda jenis dengan mata uang negara lainnya, seperti emas yang berbeda jenis dengan perak, namun memiliki illat yang sama.

10.000 rupiah tidak boleh ditukar dengan 50.000 rupiah, karena hal tersebut termasuk ke dalam riba fadhl karena adanya penambahan dalam tukar-menukar dua komoditi ribawi yang sejenis.
Akan tetapi dibolehkan untuk menukar 50.000 rupiah dengan 5 dolar karena berbeda mata uang yang berarti berbeda jenis namun tetap disyaratkan tunai, karena tunai adalah syarat tukar menukar dua komoditi ribawi yang sama illatnya.

Disarikan dari kitab dhawabitur riba karya Prof. DR. Sulaiman Ar – Ruhaily.

Wallahu a’lam

Disusun oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Selasa, 14 Jumadil Ula 1442 H / 29 Desember 2020 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini