KeluargaNikah

Istri Enggan Berhubungan Intim Dengan Suami Karena Kurang Air, Bolehkah?

Mahad Bimbingan Islam (BIAS) belajar Islam terstruktur

Istri Enggan Berhubungan Intim Dengan Suami Karena Kurang Air, Bolehkah?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab Istri Enggan Berhubungan Intim Dengan Suami Karena Kurang Air, Bolehkah? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad.

Sebelumnya saya cerita dulu ya ustadz masalahnya.

Di rumah saya kan penggunaan air menggunakan air PDAM, sementara sudah beberapa minggu airnya bermasalah, sering tidak mengalir. Tadi pagi menjelang siang suami saya mengajak berhubungan badan ustadz karena dia mau berangkat bekerja, dan saya menolak ustadz dengan baik-baik, saya jelaskan dengan alasan keadaan air yang belum tentu keluar siang atau sore ini. Sehingga kami kekurangan air untuk mandi junub, dan kebutuhan lain seperti memasak dan memandikan anak.

Pertanyaan saya, apakah saya bersalah dan berdosa jika saya menolak atas dasar itu?

Mohon pencerahan dan bantuannya ustadz.

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS via Instagram Bimbingan Islam)

Daftar Grup WA Bimbingan Islam Gratis

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Kewajiban seorang istri adalah memenuhi ajakan suaminya ke tempat tidur. Bahkan saking pentingnya kewajiban ini, siapa saja dari isteri yang menolak ajakan suaminya tanpa uzur syar’i, maka ia akan dilaknat oleh Malaikat, sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ (فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا) لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur (untuk jima’/bersetubuh) dan ia menolaknya [sehingga (membuat) suaminya murka], maka si istri akan dilaknat oleh Malaikat hingga (waktu) Shubuh.” (HR. Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 1436).

Kalau tekstual hadits, yang dimaksud adalah ajakan untuk hubungan intim di malam hari karena faktor pendorong untuk berhubungan intim di malam hari lebih besar. Namun ini bukan sama sekali menunjukkan bahwa berhubungan intim di siang hari itu tidak boleh (si istri tetap mendapatkan ancaman ini juga). (Lihat Fathul Bari, karya Ibnu Hajar, 9/294).

Oleh karenanya, Rasul Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam sampai bersumpah menunjukkan pentingnya istri melayani suami, sesibuk apa pun ia sebagai istri, dalam sabdanya yang mulia:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤَدِّى الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّى حَقَّ زَوْجِهَا وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ

“Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang wanita tidak akan bisa menunaikan hak Allah sebelum ia menunaikan hak suaminya. Andaikan suami meminta dirinya padahal ia sedang berada di atas punggung unta, maka ia (isteri) tetap tidak boleh menolak.” (Hadits shahih, HR. Ahmad, 4/381, Ibnu Majah, no. 1853, dan lainnya, Lihat Aadabuz Zifaaf, oleh Albani, hal. 284).

Khusus perempuan, apakah kamu tahu Akademi Shalihah (AISHAH) Online?

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan;

“. .akan tetapi, jika istri ada halangan di dalam melayani suami, seperti sakit atau kecapekan, maka itu termasuk uzur dan suami harus memaklumi hal ini. Beliau rahimahullah berkata, “Ini adalah dalil haramnya wanita enggan mendatangi ranjang jika tidak ada uzur. Termasuk haid bukanlah uzur karena suami masih bisa menikmati istri di atas (selain di dalam) kemaluannya.” (lihat Syarh Shahih Muslim, 10/10).

Belajar Bersiasat Yang Baik

Adapun perkara kurangnya air di rumah, maka bisa disiasati dengan bijak. Untuk mandi junub, suami istri bisa mandi bersama untuk menghemat air, untuk masak ditunda dulu dengan beli makanan di warung atau rumah makan di luar, anak-anak bisa berangkat sekolah dalam keadaan tidak mandi dulu, ini semua adalah termasuk perkara tidak darurat yang bisa ditunda, atau ada solusi lain yang lebih prima, seperti membeli air.

Wajib bagi suami mengadakan air di rumah untuk kebutuhan mendesak dan keadaan tertentu yang insidental. Misalkan persiapan beli air di luar dengan galon atau datangkan tangki air. Semua ini bisa diperkirakan dengan teliti dan bijak, butuh persiapan matang untuk masalah dadakan seperti ini, tujuannya tak lain adalah untuk kemasalahatan dan kepentingan bersama.

Wallahu Ta’ala A’lam.


Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Selasa, 8 Jumadil Akhir 1443 H/ 11 Januari 2022 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Baca Juga:  Menolak Permintaan Suami Untuk Berjualan Online, Bolehkah?
Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button