Hukum Simbol Love Dengan Dua Jari Ala Korea (Finger Heart), Apakah Boleh bimbingan islam
Hukum Simbol Love Dengan Dua Jari Ala Korea (Finger Heart), Apakah Boleh bimbingan islam

Hukum Simbol Love Dengan Dua Jari Ala Korea (Finger Heart), Apakah Boleh?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki tuturkata mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang hukum simbol love dengan dua jari ala korea (finger heart), apakah boleh?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga ustadz dan keluarga selalu dalam lindungan Allah subhanahu wata’ala.

Ustadz mau menanyakan tentang simbol dua jari membentuk love (finger heart) apakah seseorang akan otomatis murtad jika mengikuti simbol membuat love dengan dua jari seperti di drama korea (infonya yang beredar simbol 2 jari membentuk love itu adalah tanda salib)?
Mohon nasehatnya ustadz

Jazaakallahu khairan

(Disampaikan oleh Fulanah, Sahabat BiAS T08)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du
Ayyatuhal Akhwat baarakallah fiikunna.

Hukum Finger Heart Dalam Islam

Gerakan tangan atau jari yang membentuk love atau sebagainya (bukan simbol salib, melainkan happy fun saja, atau gaya-gayaan) tidak membuat Murtad, karena bukan termasuk hal-hal yang secara jelas membatalkan keislaman seseorang, dan juga  tidak ada dalilnya secara sharih/jelas dan penjelasan khusus dari salaf (sahabat, tabi’in, dan sebagainya), untuk amalan seperti ini.
Wallahu Ta’ala A’lam.

Bagaimana Ungkapan Cinta Dalam Islam?

Hanya saja di beberapa keadaan ikut bergaya seperti ini (gerakan tangan membentuk love dan semisalnya) karena ikut gaya orang korea misalkan (bukan merupakan kekhususan mereka, karena baru muncul di abad milenial ini saja ketika booming Drakor dan KPop, menurut sepengetahuan kami – wallahu Ta’ala A’lam -) tetap masuk pada perkara menyelisihi muruah (kebaikan) akhlak dan jati diri seorang muslim yang sejati.

Yang dilakukan ketika seorang senang dan cinta (karena Allah) kepada orang lain (bukan lawan jenis) adalah mengabarkannya (lewat lisan).
Dahulu sahabat yang mulia Habib menjumpai Miqdam ibnu Ma’di Kariba radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ أَحَبَّهُ

“Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya hendaklah dia memberitahu saudaranya itu bahwa dia mencintainya.”
(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 421/542, dihukumi sebagai hadits shahih oleh Muhaddits Al Albani)

Dari Mujahid (tabi’in) rahimahullah, beliau menuturkan :

لقيني رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فأخذ بمنكبي من ورائي. قال: أما إني أحبّك. قال : أحبك الله الذي أحببتني له. فقال : لولا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ” “إذا أحب الرجل الرجل فليخبره أنه أحبه”. ما أخبرتك. قال: ثم أخذ يعرض علي الخطبة. قال: أما إن عندنا جارية، أما إنها عوراء

“Ada salah seorang sahabat  Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu denganku lalu ia memegang pundakku dari belakang dan berkata :

أما إني أحبّك

“Sungguh saya mencintaimu.”

Dia lalu berkata :

أحبك الله الذي أحببتني له

“Semoga Allah yang membuatmu mencintaiku turut mencintaimu.”

Dia berkata, “Sekiranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bersabda :
“Jika seorang pria mencintai saudaranya hendaklah dia memberi tahu bahwa dia mencintainya“, maka tentulah ucapanku tadi tidak kuberitahukan kepadamu.”
(lihat kisahnya dalam Adabul Mufrod 422/543. HR. Bukhari. Muhaddits Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Inilah ajaran Islam yang mengajarkan untuk saling mencintai. Ketika kita mencintai saudara kita karena Allah, maka ungkapkanlah cinta tersebut dengan mengatakan, “Inni uhibbuk” atau “Inni uhibbuk fillah”.
Lalu ketika saudaranya mendengar, maka balaslah dengan mengucapkan “ahabbakallahu alladzi ahbabtani lahu” (Semoga Allah turut mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintaiku karena-Nya).
Dan ini menunjukkan hendaknya cinta dan benci pada orang lain dibangun karena Allah, bukan karena ngikuti trend orang Korea atau “Barat” atau orang-orang yang tidak beriman Kepada Allah Yang Maha Esa, baik untuk  maksud dunia semata apalagi hawa nafsu sesat.
Wallahu Ta’ala A’lam.

Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Selasa, 23 Shafar 1441 H/ 22 Oktober 2019 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini