AqidahKonsultasi

Menyikapi Keluarga Yang Masih Melakukan Kesyirikan

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Menyikapi Keluarga Yang Masih Melakukan Kesyirikan

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Menyikapi Keluarga Yang Masih Melakukan Kesyirikan, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga ustadz sehat dan senantiasa berada dalam lindungan Alloh, Aamiin Allohumma aamiin. Ijin bertanya ustadz. Saya tinggal berlainan kota dengan saudara saya, sehingga kami jarang bertemu. Suatu saat saya berkesempatan bermalam di rumahnya dan mendapati sangat banyak maksiat, bid’ah dan kesyirikan di rumahnya. Seperti memasang jimat, memasang ayat alqur’an di kertas dan menempelkannya di dinding, bemudah-mudah ke dukun, memelihara anjing, membiarkan anaknya tidak menutup aurat, dan hal-hal lain. Darimana saya harus mulai berdakwah dan bagaimana caranya, mengingat usia mereka jauh lebih tua dari saya, dan mengingat ketika pernah saya coba tegur supaya makan dengan tangan kanan dan saya tegur saat melakukan tahlil keluarga yg meninggal, tanggapannya kurang baik dengan mengatakan : semua orang punya keyakinan masing masing jadi jangan mengganggu keyakinan orang, jangan merasa paling benar, dan jangan merasa menjadi golongan yang berhak masuk surga, Saya menyayangi mereka dan takut dosa jika tidak berdakwah melihat semua itu.

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Menyikapi Keluarga Yang Masih Melakukan Kesalahan

Sebagai seorang adik atau yang paling muda dalam keluarga, hendaklah kita bersikap dengan lebih baik (rendah hati),lemah lembut, dan saling tolong menolong di atas kebaikan dan takwa, demikian juga kepada keluarga lain muamalah dan akhlak yang mulia selalu dikedepankan.

Berdakwah itu butuh ilmu dengan segala perinciannya plus kesantunan dan kelembutan saat menyampaikan kepada yang lain. Berilah uzur dan pahamilah, bahwa keluarga kita bersikap antipati terhadap nasehat kita, karena kemungkinan besar mereka belum memahami tentang kewajiban mengikuti agama dan tuntunan sunnah Nabi dalam kehidupan, maka hendaklah disampaikan dengan baik lagi sopan. Bukan dengan sikap kita menggurui atau ilmu agama kita di atas angin. Bisa dengan share tulisan pada waktu yang tepat (grup WA kalau ada), bisa dengan media video, bisa dengan percakapan dengan cara yang paling baik, dan semua ini tentunya membutuhkan ilmu fiqhu dakwah yang cemerlang.

Untuk urusan ibadah, maka perlu diingat bahwa ibadah itu memang membutuhkan tuntunan, bukan sekedar adat kebiasaan dan perasaan. Sebab kalau ibadah tidak membutuhkan tuntunan, maka tidak perlu diutus Rasul dan diturunkan kitab suci.

Rasulullah pernah mengutus sahabat Muadz bin Jabal untuk berdakwah, maka mulailah dengan tauhid, dan rukun islam dulu, hal yang paling pokok dalam agama kita. Jangan masuk dalam ranah perbedaan pendapat ulama.

Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ »

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19).

Kesimpulan.

Sampaikan kepada mereka dengan cara terbaik pada waktu dan kesempatan yang tepat. Bicara dari hati ke hati, tanpa emosional. Jika mereka menerima, itulah yang diinginkan. Jika mereka tidak menerima, maka bersabarlah dan tetaplah bergaul kepada mereka dengan akhlak yang lebih baik lagi. Namun tidak mengikuti acara mereka yang tidak ada tuntunannya dan melanggar batasan syariat (ini juga butuh ilmu). Memang hidup adalah ujian, maka kita harus bersabar di dalam menjalankan agama Allah. Hendaklah banyak berdoa dan mengadu kepada Allah, sesungguhnya segala sesuatu berada di dalam kekuasaan-Nya. Hati manusia berada di antara jari-jari Ar-Rahman, dan Dia membolak-balikkan sesuai dengan kehendak-Nya dan hikmah-Nya.

Semoga Alloh memberikan ketabahan kepada anda, danmemberikan hidayah kepada keluarga.

Wallahul Musta’an.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Fadly Gugul, S.Ag. حافظه الله

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button