Hukum meminta angpao saat imlek kepada orang yang merayakan .... Hukum asal menerima hadiah dari orang kafir pada hari biasa adalah boleh, namun ....

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Maaf saya mau bertanya bagaimana hukum meminta angpao saat imlek kepada orang yang merayakan?

(Dari Lili Anggota Grup WA Bimbingan Islam T04-20)

 

Jawaban :

 

Bismillaah

وعليكم السلام ورحمة الله وبر كاته

Hukum asal menerima hadiah dari orang kafir pada hari biasa adalah boleh, namun jika hadiah tersebut diberikan kepada kita di hari raya orang kafir, maka pendapat yang benar ialah hendaknya dijauhi hadiah tersebut. Adapun meminta-minta hadiah kepada mereka adalah perbuatan tercela. Jangankan meminta kepada orang kafir, meminta kepada orang islam saja juga tidak boleh.

Jika kasusnya kita diberi hadiah oleh orang kafir baik di hari-hari biasa maka boleh kita menerimanya. Berdasarkan firman Allah ta’ala :

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanan : 8).

Ketika menjelaskan ayat ini Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

قدمت قتيلة على ابنتها أسماء بنت أبي بكرٍ بهدايا: صناب وأقطٌ وسمنٌ، وهي مشركةٌ، فأبت أسماء أن تقبل هديتها تدخلها بيتها، فسألت عائشة النّبيّ صلّى اللّه عليه وسلّم، فأنزل اللّه، عزّ وجلّ: {لا ينهاكم اللّه عن الّذين لم يقاتلوكم في الدّين} إلى آخر الآية، فأمرها أن تقبل هديّتها، وأن تدخلها بيتها.

“Qutailah datang kepada anaknya Asma’ binti Abu Bakar dengan membawa serta beberapa hadiah ; Daging, keju dan minyak samin dan ia adalah seorang wanita musyrik. Maka Asma’ enggan menerima hadiah itu dan enggan menyuruhnya masuk ke dalam rumah.

Lantas ‘Aisyah bertanya kepada nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka turunlah firman Allah ta’ala ; “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dst hingga akhir ayat.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam lantas menuruh Asma’ untuk menerima hadiah tersebut dan menyuruhnya agar memasukkan ibunya ke dalam rumah”. (Tafsir Ibnu Katsir : 1860).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah menerima hadiah dari penguasa Mesir yang kafir sebagaimana tersebut di dalam riwayat berikut :

أهدى مقوقس القبطي لرسول الله صلى الله عليه و سلم جاريتين إحداهما أم إبراهيم بن رسول الله صلى الله عليه وسلم والأخرى وهبها رسول الله صلى الله عليه وسلم لحسان بن ثابت وهي أم عبد الرحمن بن حسان وأهدى له بغلة

“Maqauqis Al Qibthi (penguasa Mesir kala itu-pent) memberi hadiah kepada rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dua orang budak. Yang pertama Ummu Ibrahim/ibunya Ibrahim anak nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam (namanya Maria Al Qibthi-pent) budak yang kedua beliau berikan kepada Hasan bin Tsabit, ia adalah Ummu Abdurrahman bin Hassan, dan nabi juga diberi seekor bighal dan beliau menerimanya”. (Majma’uz Zawaaid : 4/155).

Namun kebolehan ini tidak berlaku serta merta begitu saja. Makanya Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid mengetengahkan beberapa syarat akan kebolehan menerima hadiah dari orang kafir. Syarat-syarat tersebut ialah :

Tidak berupa hewan sembelihan yang disembelih di hari raya mereka.
Tidak berupa barang yang berpotensi membantu syiar agama mereka (seperti topi sinterklas misalnya-pent).
Disertai penjelasan prinsip wala’ wal bara’ (loyalitas dan memusuhi) pada anak-anak kita agar mereka tidak tertipu.
Misi dari menerima hadiah mereka ini adalah karena kita ingin mendakwahi orang kafir ini.

Lihat : (http://islamqa.info/ar/85108).

Adapun menerima hadiah dari orang kafir bertepatan dengan moment hari raya mereka, maka terlarang menurut pendapat yang lebih benar. Kelompok ulama yang membolehkan menerima hadiah dari orang kafir di hari raya mereka berargument dengan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di dalam kitab Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, beliau berkata :

وأما قبول الهدية منهم يوم عيدهم, فقد قدمنا عن علي بن أبي طالب- رضي الله عنه: أنه أتي بهدية النيروز فقبلها

“Adapun menerima hadiah dari orang kafir di hari raya mereka, kami telah sampaikan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau diberi hadiah Nairuz dan beliau menerimanya”.

Kemudian syaikhul islam Ibnu Taimiyyah berkata lagi :

فهذا كله يدل على أنه لا تأثير للعيد في المنع من قبول هديتهم, بل حكمها في العيد وغيره سواء؛ لأنه ليس في ذلك إعانة لهم على شعائر كفرهم

“Ini semua menunjukkan bahwasanya tidak ada pengaruhnya sama sekali menolak hadiah orang kafir di hari raya mereka. Bahkan hukumnya di hari raya dan hari selainnya sama saja. Karena perbuatan ini tidak ada unsur menolong syiar kekufuran mereka”. (Iqtidha’ Shiratil Mustaqim : 2/50).

Alasan ini kurang tepat karena atsar yang menceritakan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menerima hadiah di hari raya Nairuz adalah atsar yang dha’if, karena Muhammad bin Sirin tidak pernah mendengar langsung dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan kata lain terdapat keterputusan sanad.

Dan pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang tidak ada bedanya menerima hadiah orang kafir di hari raya dan hari selainnya dikomentari oleh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah :

هذا غريب من الشيخ -رحمه الله- ؛ لأن هدية الأعاجم تشعر بأنه رضا, ولكن في آثار الصحابة -رضوان الله عنهم- كانوا يقبلون الهدية بقوة الإسلام في ذلك الوقت, وأن الناس لن ينخدعوا بذلك, وأن الكفار أنفسهم يعلمون أن الإسلام أعلى, لكن في الوقت الحاضر لو قبل المسلمون هدية الكفار لفرحوا وقالوا: إن المسلمين وافقونا على أن هذا اليوم عيد, فلهذا ينبغي أن نُفَصِلَ في هذه المسألة. ويقال: إذا خيف أن يترافع الكفار وأن يستعرضوا وأن يظنوا أن هذا موافقة منا بأعيادهم, فإنه لا يقبل سواء كان مما يشترط فيه الزكاة أو لا

“Ini satu hal yang mengherankan dari beliau -semoga Allah senantiasa merahmati beliau- , karena hadiah dari orang asing ini seolah menunjukkan keridhaan. Namun atsar dari para sahabat -semoga Allah meridhai mereka semua- menunjukkan mereka kala itu menerima hadiah dengan membawa islam yang kuat (ini jika atsarnya shahih, kenyataanya atsar ini dhaif) dan manusia tidak akan tertipu karenanya. Bahkan orang kafir sendiri kala itu sadar bahwa Islam itu tinggi.

Tapi di zaman ini seandainya kaum muslimin menerima hadiah orang-orang kafir, niscaya orang-orang kafir ini akan berbangga sembari berkata ; ‘Sesungguhnya orang islam menyetujui kita bahwa hari ini adalah hari raya’.

Maka dari itu selayaknya kita merinci dan memutuskan ; Apabila dikhawatirkan (jika kita menerima hadiah hari raya mereka) orang kafir akan merasa tinggi hati dan menyangka bahwa penerimaan kita ini menjadi tanda bahwa kita menyetujui hari raya mereka, maka tidak boleh diterima hadiah orang kafir semuanya”. (Syarah Iqtidha’ Shirotil Mustaqim : 348-349).

Dan ucapan Syaikh Ibnu Utsaimin ini dikuatkan dengan realita hari ini yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Betapa seringnya kita mendengar bahkan menyaksikan dengan kedua biji mata kita akan keberadaan kaum muslimin yang menukar agamanya dengan beberapa bungkus mie instant yang diberikan orang-orang kafir dengan menggunakan kedok hadiah dan menebar kasih di hari raya mereka.

Kemudian yang perlu kita pertanyakan juga ialah apakah kaum muslimin yang menerima hadiah dari orang kafir di hari raya mereka, menerimanya karena maslahat dakwah, adakah tindak lanjut ataupun aksi nyata dari klaim dakwah tersebut. Yang kami ketahui selama ini tidak ada.

Ini semua menjadi bukti nyata benarnya ucapan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, bahwa para sahabat dulu menerima hadiah dengan membawa aqidah yang kokoh, dan orang kafir mempersembahkan hadiah dengan perasaan hina. Namun di zaman ini keadaan sudah berbalik. Ini kita katakan dengan anggapan atsar tersebut shahih, pada kenyataanya atsar tersebut tidak shahih wallahu a’lam.

Di samping itu ternyata, syaikhul islam Ibnu Taimiyyah juga melarang menerima hadiah dari orang kafir pada saat hari raya mereka di lokasi lain di kitab beliau. Beliau berkata :

ومن أهدى للمسلمين هدية في هذه الأعياد, مخالفة للعادة في سائر الأوقات غير هذا العيد, لم تقبل هديته, خصوصاً إن كانت الهدية مما يستعان بها على التشبه بهم

“Dan barangsiapa menghadiahkan kepada kaum muslimin pada hari raya-hari raya ini, dengan model hadiah yang menyelisihi kebiasaan dalam semua waktu kecuali pada hari raya ini, maka tidak boleh diterima hadiahnya. Lebih-lebih lagi jika hadiah tersebut memiliki potensi mengarahkan kaum muslimin menyerupai orang-orang kafir”. (Iqtidha’ Shirotil Mustaqim : 2/12).

Sampai-sampai Ibnu Nuhas memperingatkan dengan keras dan tegas bahaya menerima hadiah dari orang kafir bertepatan dengan hari raya-hari raya mereka :

واعلم أن أقبح البدع وأشنعها موافقة المسلمين للنصارى في أعيادهم بالتشبه بهم في مأكلهم وأفعالهم والهدية إليهم وقبول ما يهدونه من مأكلهم في أعيادهم, وقد عانى هذه البدعة أهل بلاد مصر

“Dan ketahuilah bahwa diantara bentuk bid’ah yang paling buruk dan paling jelek ialah setujunya kaum muslimin terhadap orang-orang nasrani di hari raya mereka dengan cara menyerupai mereka di dalam makanan, minuman, perilaku, memberi hadiah kepada mereka serta menerima hadiah dari mereka berupa makanan mereka di hari raya mereka. Dan hal ini banyak terjadi di negri Mesir”. (Tanbihul Ghafilin : 307-310).

Terakhir mengenai hukum meminta angpao dari orang kafirini, jelas ini tidak dilakukan melainkan di hari raya mereka dan telah kita baca bersama keterangan seputar masalah ini. Namun selain itu kita juga harus menyadari bahwa sikap meminta-minta itu sendiri adalah bagian dari akhlak yang kurang baik. Kurang baik menurut sudut pandang islam maupun kearifan lokal kita sebagai orang timur. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا زَالَ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.

“Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya”. (HR al-Bukhâri : 1474, Muslim : 1040).

Wallahu a’lam

Referensi :
Tafsir Ibnu Katsir oleh Imam Ibnu Katsir
Majma’uz Zawaid oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami
Fatwa Syaikh Muhammad Al Munajjid : (http://islamqa.info/ar/85108).
Iqtidha’ Shiratil Mustaqim oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Syarah Iqtidha’ Shiratil Mustaqim oleh Syaikh Ibnu Utsaimin.
Tanbihul Ghafilin oleh Ibnu Nuhas.
Makalah Syaikh Abdurrahman bin Muhammad Al-‘Umaisan : (http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=141698).

Konsultasi Bimbingan Islam
Ustadz Abul Aswad Al Bayati