KeluargaNikah

Hukum Memakai Kondom Untuk Mengatur Jarak Kehamilan, Dilarang?

Hukum Memakai Kondom Untuk Mengatur Jarak Kehamilan, Dilarang?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan hukum memakai kondom untuk mengatur jarak kehamilan, apakah dilarang? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bagaimana hukum syariat Islam tentang suami memakai kondom untuk mengatur jarak si istri melahirkan?

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Bismillah.

Para ulama menjadikan kondom seperti fungsi ‘azl yang dilakukan pada zaman sahabat dahulu, di mana ‘azl adalah mengeluarkan air mani suami dari dalam kemaluan istri ketika melakukan hubungan jima`.

Sebagaimana perkataan sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu,

كنا نعزل على عهد النبي صلى الله عليه وسلم.

“Kami (para sahabat) melakukan ‘azl pada zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” (HR.Bukhari no. 5207/ 5208-5209, Muslim no. 1440)

Di riwayat lainnya,

كنا نعزل على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فلم ينهنا عنه.

“Kami melakukan ‘azl di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau tidak melarang kami darinya.” (Shahih Muslim no. 1440, Musnad Abi Ya’laa no. 2255)

Dipahami dari hukum ‘azl dan kondom, bila dilihat dari kesamaan niat dan tujuan,maka hukum keduanya menjadi sama, karena adanya kesamaan dari illah/sebab pada ke dua perkara tersebut.

Sebagaimana yang dijawab oleh Syaikh bin Baz terkait dengan hukum bolehnya memakai sesuatu (semisal: kondom) dengan maksud menjaga jarak atau mengatur kelahiran karena alasan untuk mewujudkan tarbiyah Islam terhadap keturunannya, beliau menjelaskan,”

إذا كانت المرأة لديها أولاد كثيرون ، ويشق عليها أن تربيهم التربية الإسلامية لكثرتهم ، فلا مانع من تعاطي ما ينظم الحمل لهذه المصلحة العظيمة ، حتى يكون الحمل على وجه لا يضرها ، ولا يضر أولادها ، كما أباح الله العزل لهذه المصلحة وأشباهها ” .

انتهى من (” فتاوى نور على الدرب لابن باز ) ” (21/394) .

“Bila seorang wanita mempunyai anak yang banyak, sulit baginya untuk memberikan hak pendidikan Islam karena banyaknya, maka tidak dilarang untuk melakukan hal yang dapat mengatur/mengendalikan kelahirannya untuk kemaslahan besar. Sehingga kehamilannya tidak mencelakakan dirinya dan anak anaknya. Sebagaimana halnya Allah membolehkan urusan ‘azl karena adanya kemaslahatan, dan semisalnya.” (Fatawa Nur alad Darbu, syekh Ibnu Baz ( 21/394).

Juga berkata Syekh bin Utsaimin rahimahullah ta`ala,”

محاولة منع الحمل في الأصل جائزة ؛ لأن الصحابة رضي الله عنهم كانوا يعزلون في عهد الرسول صلى الله عليه وسلم ، ولم يُنْهَوْا عن ذلك ، ولكن هي خلاف الأولى ؛ لأن تكثير الأولاد أمرٌ مشروعٌ ومطلوب انتهى من )” فتاوى نور على الدرب للعثيمين “( (22/ 2،

“Usaha untuk mencegah kelahiran pada asalnya hukumnya boleh. Karena sahabat radhiyahu anhum mereka melakukan ‘azl (menumpahkan air mani di luar) pada zaman Rasulullah sallahu a`laihi wasallam, mereka tidak dilarang dengannya. Walaupun hal itu menyelisihi keutamaan, karena memperbanyak keturunan adalah perkara yang syar`i dan perkara yang di minta/diharapkan.” (Fatawa Nur alad Darb, Ibnu Utsaimin : 2/22).

Sehingga, bila seorang suami memakai kondom dalam rangka mengatur jarak kehamilan istrinya, juga dalam memberikan hak anak-anak lainnya dalam pendidikan karena kemampuan/keterbatasan diri yang tidak bisa diberikan bila ditambah lagi, tanpa ada rasa benci dan ingin menantang takdir dan hukum Allah atau ketakutan dengan kemiskinan yang “pasti” melanda bila mempunyai anak banyak, seolah Allah tidak akan bisa memberikan rezeki kepada anak barunya maka perbuatan ini tidak di perbolehkan, karena ia tidak percaya dengan kekuasaan Allah dalam mengatur rezeki dan nikmatNya.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Senin, 28 Dzulqo’dah 1443 H/ 27 Juni 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button