KeluargaNikahWanita

Onani/Masturbasi Menggunakan Tangan Istri, Haram?

Onani/Masturbasi Menggunakan Tangan Istri, Haram?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan onani/masturbasi menggunakan tangan istri, haram? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Apabila suami jima kepada istrinya sedangkan istrinya sedang haid apakah si istri boleh onani kepada suaminya?

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Bismillah.

Diperbolehkan bagi suami istri yang melakukan hubungan seksual untuk menyalurkan hasrat dan menyenangkan pasangannya, selama tidak melanggar apa yang dilarang di dalam syariat.

Di antaranya dengan dengan tidak melakukan penetrasi ketika melakukan hubungan seksual dengan istri melaui dubur.

Menukilkan apa yang disebutkan di dalam Islamweb pada no fatwa 122336 terkait dengan pertanyaan yang serupa, di antara yang disebutkan antara lain:

فإن الاستمناء المحرم هو إخراج المني بغير جماع أو مباشرة من الزوج لزوجته أو العكس، ويحرم كذلك التلذذ بمداعبة الأعضاء الجنسية، ولو لم يؤد ذلك لاخراج المني، فقد قال الله تبارك وتعالى في وصف عباده المؤمنين الذين ضمن لهم الفلاح: وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ * إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ * فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ {المؤمنون:5-7}.

فالاستمناء باليد أو غيرها ،عدا الزوجة وما ملكت اليمين ، من الاعتداء المذكور في الآية الكريمة، فيجب حفظ الفرج من ذلك كله ولو لم يخرج المني.

“Bahwa onani hukumnya haram, yaitu mengeluarkan mani dengan tanpa jima atau hubungan seksual suami istri. Dan juga diharamkan seseorang mempermainkan organ seksualnya (sendiri), walaupun tidak sampai mengeluarkan mani. Sebagaimana firman Allah ta`ala dalam mensifati para hambaNya yang beriman dengan sifat bahagia, yang di antara sifat orang yang beriman dan berbahagia sebagaimana dalam salah satu firmanNya,”

Baca Juga:  Bolehkah Seorang Ayah Mertua Ikut Campur Dalam Urusan Rumah Tangga Anaknya?

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mu’minun Ayat 5-7)

Maka onani dengan menggunakan tangan atau selain tangan selain dengan istrinya dan dari budaknya, dari macam-macam udzur yang disebutkan di dalam ayat, maka wajib untuknya menjaga kemaluannya dari itu semua walaupun mani tidak keluar.

وأما استمناء الزوج بيد الزوجة أو غير ذلك من جسدها فلا حرج فيه، لقول الله تعالى: وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ* إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ {المؤمنون:5-6}

وهذا من صور الاستمتاع المباح بالزوجة فلا حرج فيه، وكان صلى الله عليه وسلم يباشر زوجاته من غير جماع وهن حائضات، فقد روى البخاري ومسلم وأبو داود وغيرهم من حديث عائشة رضي الله عنها أنها قالت: كانت إحدانا إذا كانت حائضاً فأراد رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يباشرها أمرها أن تتزر في فور حيضتها ثم يباشرها.

Dan adapun onani dengan tangan istrinya atau organ tubuh istri yang lain, maka tidak mengapa. Sebagaimana firman Allah ta`ala: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki” (QS. Al-Mu’minun Ayat 5-6).

Ini adalah bentuk onani yang diperbolehkan yang dilakukan oleh istri kepada suaminya. Rasulullah sallahu alaihi wasallam pernah menggauli para istrinya -tanpa penetrasi- dan mereka (radhiyahu anhunna) dalam keadaan haid.

Sebagaimana telah diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud dan selainnya dari hadist Aisyah radhiyahuhu anhaa, ia berkata,” bahwa salah satu kami bila dalam keadaan haid dan Rasulullah sallahu alahi wasallam berhasyat untuk menggauli maka beliau perintahkan (istrinya) untuk menutup kain/sarung di sumber haidnya ( kemaluan), kemudian menggaulinya.”

وقد نص أهل العلم على جواز الاستمناء بيد الزوجة قال صاحب الإقناع: وللزوج الاستمتاع بزوجته كل وقت على أي صفة كانت إذا كان في القبل، وله الاستمناء بيدها. انتهـى

“Dan para ulama menyatakan atas bolehnya onani dari tangan istrinya, sebagaimana dinyatakan oleh Penulis kitab al iqna`: “dan bagi suami bolehnya menggauli istrinya, kapan pun dan dengan sifat apa pun bila dilakukan (penitrasi hanya) di kelaminnya, dan bagi (suami) boleh dilakukan onani dengan tangan (istri)nya.”

وقال ابن حجر الهيتمي في تحفة المحتاج في تعريف الاستمناء: وهو استخراج المني بغير جماع حراما كان كإخراج بيده أو مباحا كإخراجه بيد حليلته. انتهى.

Berkata Ibnu Hajar al-Haitami di dalam kitab Tuhfatuh Muhtaj dalam menjelaskan makna istimna`/onani: mengeluarkan mani tanpa hubungan senggama, hukumnya haram, seperti ia lakukan dengan tangannya. Dan hukumnya boleh, bila mani dikeluarkan dengan tangan istrinya.”

وقال شيخ الإسلام زكريا الأنصاري في الغرر البهية: (والبعل) أي: الزوج (كل تمتع) بزوجته جائز (له) حتى الاستمناء بيدها، وإن لم يجز بيده وحتى الإيلاج في قبلها من جهة دبرها. انتهى

Dan berkata Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari di dalam Algharar al-Bahiyah: “Dan seorang suami boleh melakukan apa pun berbuatan untuk bersenang senang dengan istrinya, bahkan walaupun bila dilakukan onani dengan tangan istrinya. Padahal hal tersebut dilarang dilakukan dengan tangannya sendiri. Dan begitu pula (bolehnya) melakukan penetrasi ke kemaluan istrinya walaupun dilakukan dari arah belakang.”

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Senin, 28 Dzulqo’dah 1443 H/ 27 Juni 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Baca Juga:  Mengira Sudah Bersih dari Haid Lalu Berpuasa

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button