Faedah Hadist

Fawaid Hadist #183 | “Mencintai Kebaikan untuk Sesama”

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. [البخاري (١٣)، ومسلم (٤٥) (٧١)].

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ beliau bersabda: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” Muttafaq ‘alaih. [HR. Bukhari 13, Muslim 45, 71]

Pelajaran Penting dari Hadits ini

1. Mencintai kebaikan untuk sesama muslim termasuk tanda kesempurnaan iman

Dan konsekuensinya adalah ia juga membenci untuk saudaranya apa yang ia benci untuk dirinya sendiri. Seseorang benar-benar mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, jika hatinya bersih dari hasad, dengki, dendam, dan tipu daya.

2. Hadits ini menafikan kesempurnaan iman yang wajib bagi seorang muslim, sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri

Baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Jika ia melihat saudaranya ada kekurangan dalam agamanya, maka ia bersungguh-sungguh memperbaikinya, dan ia pun berusaha memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan. Di dalam hadits ini juga ada dalil bahwa orang-orang beriman itu berbeda-beda tingkat keimanannya.

[Referensi utama : Kitab Riyadhus Shalihin Wa ma’ahu hasyiyatul Fawaid hal. 164]

Wallohu a’lam

👤Ditulis oleh Ustadz  Nurhadi Nugroho hafidzhohulloh

Back to top button