Keutamaan Puasa ‘Asyura dan Tasu’a bimbingan islam
Keutamaan Puasa ‘Asyura dan Tasu’a bimbingan islam

Keutamaan Puasa ‘Asyura dan Tasu’a

Ikhawatal Iman Ahabbakumulloh, saudara-saudariku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Allah.. Di Muharram ini ada Ibadah Spesial yang tidak layak kita tinggalkan, tentu saja selain ibadah umum yang pahalanya masih berlipat ganda karena masuk dalam rangkaian bulan Harom. Apa ibadah spesial tersebut? Puasa ‘Asyura dan Tasu’a.

Kenapa disebut spesial? Apalagi kalau bukan karena berlapisnya keutamaan dan ganjaran bagi yang mengamalkannya. Sampai-sampai disebutkan dalam Riwayat Imam Muslim bahwa Nabi sholAllahu ‘alaihi wasallam memerintahkan salah satu sahabatnya untuk mengumumkan kepada khalayak agar berpuasa pada hari itu

بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَأَمَرَهُ أَنْ يُؤَذِّنَ فِي النَّاسِ مَنْ كَانَ لَمْ يَصُمْ فَلْيَصُمْ وَمَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيُتِمَّ صِيَامَهُ إِلَى اللَّيْلِ

Rosululloh sholAllahu ‘alaihi wasallam mengutus seorang laki-laki dari suku Aslam pada hari ‘Asyura dan memerintahkan padanya untuk mengumumkan kepada orang banyak; “Siapa yang belum puasa (sudah niat puasa) di hari ini, hendaklah ia berpuasa. Dan siapa yang telah makan (belum niat puasa), hendaklah ia juga menyempurnakan puasanya sampai malam tiba.”
[HR Muslim 1918]

Imam Nawawi menjelaskan tentang kisah diatas;

أَنَّ مَنْ كَانَ نَوَى الصَّوْمَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ وَمَنْ كَانَ لَمْ يَنْوِ الصَّوْمَ وَلَمْ يَأْكُلْ أَوْ أَكَلَ فَلْيمسِكْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ حُرْمَةً لِلْيَوْمِ

“Barang siapa yang telah niat puasa, hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Dan barang siapa yang belum berniat puasa serta belum makan (di hari itu) maka hendaklah ia menahan (untuk tidak makan) di sisa hari tersebut untuk menghormati hari (‘Asyura)”
(Syarhu Nawawi ‘Ala Muslim 8/13)

Itulah sebabnya mengapa Ibnu ‘Abbas rodhiAllahu ‘anhu menyampaikan pada kita betapa spesialnya puasa ‘Asyura dimata Nabi sholAllahu ‘alaihi wasallam

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ

“Tidak pernah aku melihat Nabi sholAllahu ‘alaihi wasallam sengaja berpuasa pada suatu hari yang Beliau spesialkan dibanding hari-hari lainnya kecuali hari ‘Asyura dan bulan ini, yaitu bulan Romadhon
[HR Bukhori 1867]

Adapun Puasa tasu’a, telah jelas disebutkan bagaimana Nabi meniatkannya untuk tahun mendatang sebelum akhirnya Beliau diwafatkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Pada tahun depan Insya Allah kita akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharram)”

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Tahun depan itu pun tak kunjung tiba hingga Rosululloh sholAllahu ‘alaihi wasallam wafat”
[HR Muslim 1916]

Karenanya dalam Fatwa Islam (nomor 21785) dikatakan:

قال الشافعي وأصحابه وأحمد وإسحاق وآخرون : يستحب صوم التاسع والعاشر جميعا ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم صام العاشر ، ونوى صيام التاسع

“Imam Syafi’i beserta pengikutnya (dari madzhab Syafi’i), begitupula Imam Ahmad, Ishaq bin Rohuyah, dan ulama lainnya mengatakan: Dianjurkan puasa hari kesembilan dan kesepuluh (Muharam) tanpa terkecuali. Karena Nabi sholAllahu ‘alaihi wasallam telah melaksanakan puasa di tanggal 10 dan beliau telah meniatkan puasa tanggal 9 (Muharram)”

Ikhwatal Iman Ahabbakumulloh, saudara saudariku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Allah.. Sungguh telah banyak tulisan dari para guru-guru dan ustadz-ustadz kita tentang Keutamaan Puasa ‘Ayuro maupun Tasu’a, maka dalam tulisan singkat ini izinkan kami untuk sedikit membahas keutamaan yang ditinjau dari beberapa sisi;

Dari sisi Ganjaran atau Balasan: Menghapus Dosa Satu Tahun Yang Lalu dan lapisan pahala berlipat dari amal sholih di Bulan Harom

Dalilnya hadits Abu Qotadah rodhiAllahu ‘anhu, Nabi sholAllahu ‘alaihi wasallam bersabda

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Adapun puasa pada hari ‘Asyura, aku memohon kepada Allah agar puasa tersebut bisa menghapus dosa setahun sebelumnya”
[HR Muslim 1976]

Apakah menghapus segala jenis dosa? Tidak, menurut jumhur ulama ganjaran dari puasa ‘Asyura ini hanya menghapus dosa-dosa kecil saja, karena dosa-dosa besar hanya bisa dihapus dengan bertaubat yang sebenar-benarnya taubat. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh mengatakan;

“وتكفير الطهارة، والصلاة وصيام رمضان، وعرفة، وعاشوراء للصغائر فقط”

“Gugurnya dosa karena Bersuci, Sholat, Puasa Romadhon, Puasa Arofah, Puasa ‘Asyura hanya untuk dosa-dosa kecil saja”
(Al-Fatawa Al-Kubro 4/428)

Juga dalil puasa bulan Muharram dari hadits Abu Huroiroh rodhiAllahu ‘anhu,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Romadhon adalah puasa pada bulan Allah Muharram”
[HR Muslim 1982].

Ibnu Katsir menukilkan perkataan Ibnu ‘Abbas rodhiAllahu ‘anhu tentang penjelasan amal sholih di bulan harom secara umum, termasuk didalamnya bulan Muharram

ثم اختص من ذلك أربعة أشهر فجعلهن حراما … وجعل الذنب فيهن أعظم، والعمل الصالح والأجر أعظم

“Kemudian Allah mengkhususkan empat bulan sebagai bulan-bulan harom.. Allah jadikan perbuatan dosa yang dilakukan didalamnya lebih besar, begitupula amal sholih dan ganjaran yang didapatkan didalamnya lebih besar”
(Tafsir Ibnu Katsir III/26).

Dari sisi Histori atau Sejarah: Keistimewaan ‘Asyura sejak zaman dulu, yakni Allah selamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dan Bani Isroil pada hari tersebut

Dalilnya hadits Ibnu ‘Abbas rodhiAllahu ‘anhu,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ فَقَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْهَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ فَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ

Ketika Rosululloh sholAllahu ‘alaihi wasallam belum lama tiba di Madinah, didapatinya orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Lalu mereka pun ditanya (alasan berpuasa di hari itu) dan mereka menjawab, ‘Hari ini adalah hari kemenangan Musa dan Bani Isra`il atas Fir’aun, karena itu kami puasa pada hari ini untuk menghormati Musa’.
Maka Nabi sholAllahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Sejatinya kami lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian”
[HR Muslim 1910]

Dari sisi Penyelisihan Terhadap Kaum Yahudi: Telah kita nukilkan diatas tentang niat Nabi sholAllahu ‘alaihi wasallam untuk berpuasa di tanggal sembilan bulan Muharram, dan sejatinya itu adalah salah satu bentuk ketegasan Beliau untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa di tanggal sepuluh.

Pantang dalam Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah untuk mengikuti adat kebiasaan yang menjadi kekhususan atau syiar agama lain, Nabi sholAllahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”
[HR Abu Daud 3512]

Imam An-Nawawi rohimahulloh menjelaskan dalam kitabnya Al-Majmu’ tentang beberapa hikmah dari disyariatkannya Puasa Tasu’a, dan salah satunya adalah untuk Menyelisihi Yahudi:

وَاتَّفَقَ أَصْحَابُنَا وغيرهم علي استحباب صوم عاشورا وتاسوعا وَذَكَرَ الْعُلَمَاءُ مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ فِي حِكْمَةِ اسْتِحْبَابِ صَوْمِ تَاسُوعَاءَ أَوْجُهًا

Telah disepakati dalam madzhab kami (Syafi’iyyah) dan juga yang lainnya tentang Sunnah Puasa ‘Asyura serta Tasu’a. Para ‘Ulama dari madzhab kami dan yang lainnya juga menyebutkan hikmah dari Sunnahnya Puasa Tasu’a, diantaranya;

أَحَدُهَا: أَنَّ الْمُرَادَ مِنْهُ مُخَالَفَةُ الْيَهُودِ فِي اقْتِصَارِهِمْ عَلَى الْعَاشِرِ وَهُوَ مَرْوِيٌّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَفِي حَدِيثٍ رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ وَصُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا وَبَعْدَهُ يَوْمًا

Pertama, maksud dari puasa ini adalah Menyelisihi Yahudi, yang mana mereka hanya puasa di tanggal 10 saja. Sebagaimana disebutkan dalam hadits (mauquf) dari Ibnu ‘Abbas rodhiAllahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad; Ibnu ‘Abbas berkata,
“Rosululloh sholAllahu ‘alaihi wasallam bersabda puasalah kalian di Hari ‘Asyura, dan selisihilah Yahudi (dengan) berpuasa sehari sebelumnya (Tasu’a) dan sehari setelahnya (11 Muharram)”

الثَّانِي: أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ وَصْلُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ بِصَوْمٍ كَمَا نهى أن يصوما يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَحْدَهُ ذَكَرَهُمَا الْخَطَّابِيُّ وَآخَرُونَ

Kedua, maksud dari puasa ini adalah mengiringi puasa ‘Asyura dengan puasa dihari lainnya, sebagaimana larangan puasa di hari Jum’at saja, dijelaskan pula oleh Al-Khotthobi dan lainnya

الثَّالِثَ : الِاحْتِيَاطُ فِي صَوْمِ الْعَاشِرِ خَشْيَةَ نَقْصِ الْهِلَالِ وَوُقُوعِ غَلَطٍ فَيَكُونُ التَّاسِعُ فِي الْعَدَدِ هُوَ الْعَاشِرُ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ

Ketiga, bentuk kehati-hatian dalam puasa ‘Asyura karena dikhawatirkan ada kesalahan saat penentuan hilal masuknya bulan Muharram, bisa jadi masih terhitung tanggal 9 padahal sudah masuk tanggal 10.
(Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab VI/383)

Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat, WAllahu A’lam.

Ditulis oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Rabu, 07 Muharram 1441 H/ 26 Agustus 2020 M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله  
klik disini