AqidahArtikelManhaj

Cara Membersihkan Kotoran Syubhat Dan Syahwat

Cara Membersihkan Kotoran Syubhat Dan Syahwat

Pertanyaan: Assalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuh, izin mau bertanya apa itu kotoran Syubhat dan bagaimana cara membersihkannya?.

Jawab:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته ,بسم الله، الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan tentang fitnah syubhat dan syahwat di dalam kitab beliau yang bernama Ighâtsatul Lahfân fi Mashâyidisy Syaithân, II/887-891 dan ana ringkas sebagai berikut; “ bahwa ada dua jenis fitnah (ujian atau cobaan besar) yang bisa menyesatkan manusia: fitnah syubhat dan fitnah syahwat.

Pertama fitnah syubhat adalah fitnah yang muncul karena lemahnya ilmu dan kurangnya pemahaman terhadap agama. Apalagi jika disertai dengan niat yang buruk dan dorongan hawa nafsu, maka ini menjadi musibah besar. Orang yang terkena fitnah ini biasanya menjadikan hawa nafsunya sebagai hakim (penentu), bukan petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya. Ia pun tidak mengenal ajaran Rasulullah secara mendalam. 

Orang seperti ini termasuk dalam firman Allah Ta’ala:

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ

“… Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya …” QS. An-Najm: 23.

Allah juga memperingatkan bahwa mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan seseorang dari jalan yang benar. Allah berfirman kepada Nabi Dawud:

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

“Wahai Dawud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah di bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shad: 26).

Ujung dari fitnah syubhat ini bisa membawa pada kekufuran dan kemunafikan. Inilah fitnah yang menimpa kaum munafik dan pelaku bid’ah. Mereka terjerumus ke dalam kebid’ahan karena tertipu oleh syubhat, yaitu ketika kebenaran terlihat seperti kebatilan, dan petunjuk terlihat seperti kesesatan.

Satu-satunya cara untuk selamat dari fitnah ini adalah dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam setiap perkara agama: besar maupun kecil, yang tampak maupun tersembunyi, dalam keyakinan, ibadah, dan syariat. Ia menerima ajaran Rasulullah seperti ia menerima kewajiban shalat, waktu-waktunya, jumlah roka’at, zakat, wudhu, mandi janabah, dan puasa Ramadhan. Ia tidak memisahkan Rasulullah dalam satu urusan agama dan menolak dalam urusan lainnya. Petunjuk hanya datang dari perkataan dan perbuatan beliau. Segala yang tidak sesuai dengan syariat beliau adalah kesesatan.

Kedua fitnah syahwat, adalah fitnah yang timbul karena cinta dunia dan mengikuti keinginan rendah. Allah menyebutkan dalam firman-Nya:

كَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلَاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلَاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلَاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا ۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Keadaan kalian seperti orang-orang sebelum kalian, mereka lebih kuat, lebih banyak harta dan anak. Mereka menikmati bagian (dunia) mereka, dan kalian pun menikmati bagian kalian seperti mereka, serta kalian berbicara dalam hal yang batil sebagaimana mereka berbicara. Mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan akhirat. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. At-Taubah: 69).

Yang dimaksud “bagian dunia” di sini adalah kesenangan dunia dan hawa nafsu. Adapun pembicaraan yang batil itu adalah syubhat. Maka dalam ayat ini Allah memperingatkan bahwa rusaknya agama bisa karena dua hal:

  1. Meyakini hal yang batil dan menyebarkannya (syubhat).
  2. Berbuat maksiat karena mengikuti hawa nafsu (syahwat).

Oleh karena itu para ulama salaf mengatakan:
“Waspadalah terhadap dua jenis orang: pengikut hawa nafsu yang terjerumus dalam syahwatnya, dan pecinta dunia yang dibutakan oleh dunia.”
“Hati-hatilah dari fitnah orang alim yang fajir (menyimpang) dan ahli ibadah yang bodoh. Karena keduanya adalah fitnah bagi orang-orang yang tertipu.”

Akar dari segala fitnah adalah:
• Mendahulukan akal daripada wahyu, ini adalah akar dari syubhat.
• Mendahulukan hawa nafsu daripada akal, ini adalah akar dari syahwat.
Cara menangkal syubhat adalah dengan keyakinan (ilmu yang benar).
Cara menangkal syahwat adalah dengan kesabaran.

Karena itu, Allah menjadikan kepemimpinan dalam agama tergantung pada dua hal: sabar dan yakin. Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24).

Allah juga menggabungkan keduanya dalam surat Al-‘Ashr:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“…Serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 3).

Nasihat dalam kebenaran menangkal syubhat, sedangkan nasihat dalam kesabaran menangkal syahwat.
Allah juga memuji para nabi dengan dua keutamaan ini:

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya‘qub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi).” (QS. Shad: 45).

Yang dimaksud dengan al-Aidii adalah kekuatan dalam beribadah, dan al-Abshâr adalah ilmu dalam agama. Dengan kesempurnaan akal dan kesabaran, kita dapat melawan syahwat. Dan dengan kesempurnaan ilmu dan keyakinan, kita dapat melawan syubhat.”

Wallahul musta‘an


بارك الله فيك

Back to top button