Bolehkah Tinggal di Negeri Kafir Karena Bekerja?

Bolehkah Tinggal di Negeri Kafir Karena Bekerja?

Bolehkah Tinggal di Negeri Kafir Karena Bekerja?

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Afwan Ustadz,

Suami saya mendapat tugas dari kantor ke London UK selama 8 bulan untuk urusan pekerjaan sebagai IT support. Saya, suami dan anak-anak sudah saling ridho. Setiap dua bulan sekali suami pulang ke Indonesia.
Suami saya berencana memperpanjang masa tugasnya bertambah menjadi satu tahun (atasannya pun menawarkan perpanjangan masa tugasnya) dengan alasan ingin berangkat Haji dari London yang tidak ada masa tunggu seperti di Indonesia. (Haji di London bayar tahun ini berangkat pun di tahun yang sama). Bolehkah hal ini dilakukan ?
Mengingat di London suami merasa ibadahnya kurang karena tidak bisa sholat berjamaah 5 waktu di masjid seperti yang biasa ia lakukan di Indonesia?
(Di London jarak mesjid jauh dari kantor dan dari tempat tinggal sehingga kesulitan untuk sholat berjamaah)

Jazaakumullah khairan Ustadz.

(Disampaikan oleh Ummu Fulanah, Sahabat BiAS T06 G-17)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Tidak boleh ini dilakukan apalagi meninggalkan shalat jamaah selama berbulan-bulan lamanya. Ini hanya setitik dari kerusakan yang ditimbulkan dari tinggalnya seorang muslim di negeri kafir.

Belum lagi gaya hidup orang-orang kafir yang tak jarang mempengaruhi jiwa seorang muslim, merusak akhlaknya serta mengancam agama dan aqidahnya. Ditambah lagi aurat yang diumbar secara liar, sex bebas, dan seabreg kerusakan yang dipamerkan setiap hari setiap saat.
Sungguh aneh akan keberadaan seorang muslim yang masih memiliki kecemburuan agama tetapi mereka rela, nyaman dan bahkan bangga tinggal di negeri kafir. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَنَا بَرِيءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِينَ

“Aku berlepas diri dari setiap orang Islam yang tinggal di tengah-tengah orang kafir.”
(HR Abu Dawud : 2645, Tirmidzi : 1604 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil : 5/30).

Ini semua satu sisi, adapun dari sisi yang lain jika seorang muslim tinggal di negeri kafir dan ia tetap bisa mempertahankan agamanya, shalat jamaahnya bahkan ia berdakwah menyebarkan agama Islam di negeri kafir maka ia tidak dicela atas tinggalnya ia di negeri kafir. Bahkan itu menjadi sebuah kebaikan bagi dirinya dan orang-orang yang ia dakwahi. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh menyatakan :

حديث : ( مَن جَامَعَ الْمشرِك أَو سَكن مَعَه فهوَ مِثله ) وحديث : ( أَنا بَرِيءٌ مِن مسلِم بَات بَين ظهرَاني الْمشرِكِين ) هذان الحديثان هما من الوعيد الشديد المفيد غلظ تحريم مساكنة المشركين ومجامعتهم ، كما هما من أَدلة وجوب الهجرة من بلد الشرك إلى بلد الإسلام ، وهذا في حق من لم يقدر على إظهار دينه

وأَما من قدر على إظهار دينه : فلا تجب عليه الهجرة ، بل هي مستحبة في حقه

وقد لا تستحب إذا كان في بقائه بين أَظهرهم مصلحة دينية من دعوة إلى التوحيد والسنة وتحذير من الشرك والبدعة 

Hadits : Barangsiapa berkawan dengan orang-orang musyrik atau tinggal bersama mereka maka ia sama dengan mereka.

Dan hadits : Aku berlepas diri dari seorang muslim yang tinggal di tengah-tengah orang musyrik ( di negri mereka).

Dua hadits ini adalah termasuk ancaman dahsyat yang memberi pelajaran akan kerasnya pengharaman tinggal bersama orang-orang musyrikin serta berkawan dengan mereka. Sebagaimana pula kedua hadits tadi menerangkan wajibnya hijrah/ pindah dari negeri syirik menuju ke negeri Islam.

Ini semua berlaku bagi orang yang tidak memiliki kemampuan untuk menampakkan syiar-syiar agamanya (salah satu contohnya tak mampu melaksanakan shalat jamaah dll – pent). Adapun bagi orang yang mampu menampakkan syiar agamanya maka tidak wajib hijrah. Akan tetapi hijrah menjadi anjuran bagi dirinya ketika itu.

Dan terkadang tidak dianjurkan bagi dia untuk hijrah jika dengan tinggalnya ia di negeri kafir membawa manfaat agama. Berupa dakwah atau seruan mengajak manusia kepada tauhid dan sunnah serta peringatan dari syirik dan bid’ah.”
(Fawata War Rasail Syaikh Muhammd bin Ibrahim : 1/91-92).

Simak keterangan tentang hukum bersafar ke negeri kafir pada tautan sebagai berikut :

Hukum Safar Ke Negri Kafir

 

Wallahu a’lam
Wabillahit taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati, حفظه الله تعالى
Senin, 21 Dzulhijjah 1440 H/ 22 Agustus 2019 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS