Hukum Kuliah di Kampus Umum

Hukum Kuliah di Kampus Umum

Hukum Kuliah di Kampus Umum

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Ustadz saya hendak tanya:

Ibu ingin saya kuliah, tapi saya takut kalau kuliah akan banyak mudharatnya dan ada ikhtilath nya. Bagaimana nasehatnya ustadz? (Ibu ingin ambil jurusan arsitektur karena sesui jurusan saat di smk ).

Tanya Jawab AISHAH – akademi shalihah
(Disampaikan Oleh Fulanah – SahabatAISHAH Klaten 2)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

alhamdulillāh wa shalātu wa salāmu ‘alā rasūlillāh.

Ada sebuah fatwa yang berkaitan dengan masalah ini (hukum kuliah yang masih ada ikhtilath), dan ana cukup nukilkan:

فالاختلاط الشائع اليوم في الجامعات أمر منكر، يجرّ إلى المجتمع كثيراً من البلايا والفتن، ويفتح أبواب الفساد والشرور وعليه؛ فالأصل الامتناع من الدراسة في الجامعات المختلطة، لكن إذا لم يكن بد من الدراسة في الجامعات المختلطة، فالواجب مراعاة أحكام الشرع وآدابه في التعامل بين النساء والرجال الأجانب، فمن ذلك غض البصر، واجتناب الخلوة المحرمة، وترك الكلام بغير حاجة

“Ikhtilat yang terjadi di kampus – kampus  pada zaman sekarang adalah sebuah kemungkaran yang membawa banyak musibah dan fitnah, membuka pintu kerusakan dan keburukan. Oleh karena itu, pada asalnya janganlah seorang belajar di kampus yang di dalamnya ada ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan) , namun apabila harus untuk belajar disana, maka wajib baginya untuk menjaga hukum dan adab syariat ketika bergaul dengan non mahram, seperti harus menundukkan pandangan, tidak berdua- duaan, dan tidak ngobrol kecuali benar – benar ada keperluan.”

فإن كانت دراستك في هذه الجامعة تعرضك للخلوة، أو الاختلاط المريب بالرجال الأجانب، أو توقعك في محرمات لا تسلمين منها إلا بترك الدراسة في هذه الجامعة، فلا تلزمك طاعة والديك في إكمالها، بل لا يجوز لك ذلك

“Tapi, apabila dengan belajarnya anda di kampus tersebut menjerumuskan anda untuk berdua – duan dengan non mahram, atau keharaman – keharaman lainnya yang tidak mungkin anda hindari kecuali dengan meninggalkan kampus tersebut, maka tidak ada kewajiban bagi anda untuk menaati kedua orang tua anda untuk menyelesaikannya, bahkan tidak boleh anda menaati keduanya.”
(Sumber : Islamweb fatwa No. 208042)

Maka perhatikanlah keadaan diri anda, apakah anda bisa menghindari kemudharatan tersebut atau tidak, sembari memberi pengertian kepada kedua orang tua dengan cara yang lembut, semoga Allah melembutkan hati orang tua anda.

 

Wallahu a’lam,
Wabillahit taufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Jum’at, 01 Dzulhijjah 1440 H / 02 Agustus 2019 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS