Fiqih

Bolehkah Membaca Al-Qur’an Tanpa Berwudhu Dan Berhadast Kecil?

Bolehkah Membaca Al-Qur’an Tanpa Berwudhu Dan Berhadast Kecil?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan bolehkah membaca al-qur’an tanpa berwudhu dan berhadast kecil? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualikum ustadz, menanggapi bab pelajaran fiqih perihal yang tidak boleh dilakukan dalam hadas kecil, salah satunya menyentuh mushaf Al-Qur’an, maksudnya hadas kecil yang seperti apa Ustadz? Apa buang air kecil atau keluar angin dari dubur?

Dan kalau keluar angin dari dubur sehabis sholat dan kita membaca mushaf Al-Qur’an asli bukan dari HP, apakah batal harus berwudhu lagi ustadz atau tetap melanjutkan dan sah ustadz?

Dan bagaimana kalau kita habis buang air kecil kita pegang mushaf Al-Qur’an? Karena ini banyak khilafiyah, jadi apa pendapat yang rojih Ustadz?

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Benar, yang dimaksudkan dengan hadast kecil seperti yang Anda sebutkan ia adalah hadats yang tidak mewajibkan seseorang mandi jinabah, seperti kentut, kencing, makan daging unta, dll.

Terkait dengan membaca al-Quran, maka mayoritas para ulama membolehkan seseorang membaca al-Quran tidak dalam keadaan suci.

Membaca tanpa menyentuh mushaf secara langsung hukumnya boleh. Baik ia membacanya dari hafalan yang dimiliki atau membacanya dari selain al-Quran selain HP dan media lainnya.

Berkata Syaikh bin Baz ketika menjawab permasalahan semisal,”

وأما القراءة فلا بأس أن يقرأ وهو محدث عن ظهر قلب أو يقرأ ويمسك له القرآن من يرد عليه ويفتح عليه فلا بأس بذلك، لكن الجنب صاحب الحدث الأكبر لا يقرأ، لأنه ثبت عن النبي ﷺ أنه كان لا يحجبه شيء عن القراءة إلا الجنابة، وروى أحمد بإسناد جيد عن علي t: أن النبي ﷺ خرج من الغائط وقرأ شيئًا من القرآن، وقال هذا لمن ليس بجنب أما الجنب فلا ولا آية والمقصود أن ذا الجنابة لا يقرأ لا من المصحف ولا عن ظهر قلب حتى يغتسل، وأما المحدث حدثا أصغر وليس بجنب فله أن يقرأ عن ظهر قلب ولا يمس المصحف.

“Dan tentang membaca dari hafalannya maka tidak mengapa membacanya dalam keadaan berhadast atau ia baca dari mushaf yang disodorkan dan dibukakan untuknya, maka tidak mengapa.

Namun, seorang yang junub yang memiliki hadast besar maka tidak boleh membaca al-Quran, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Nabi (ﷺ) bahwa ia tidak ada yang menghalangi dari membaca al-Quran kecuali dalam keadaan junub.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad baik dari Ali Radhiyallahu a`nhu bahwa Nabi (ﷺ) keluar dari buang air besar dan membaca sesuatu dari al-Quran, dan beliau bersabda,” ini (boleh) untuk seorang yang tidak junub, adapun junub maka tidak boleh walaupun hanya satu ayat.” maksudnya bahwa orang yang junub tidak boleh membaca al-Quran, baik dari mushaf atau dari hafalannya juga tidak boleh memegang mushaf.”

Walaupun begitu, bolehnya membaca tidak dalam keadaan berwudhu, jika mudah dan mungkin untuk bersuci maka hal ini lebih baik dan lebih sempurna untuk memuliakan al-Quran.

Berbeda antara orang yang junub yang tidak dibolehkan membaca al-Quran, dengan seorang yang haidh atau nifas, karena waktunya yang panjang yang dialami seorang wanita pada masa itu dan kekhawatiran akan hilangnya hafalannya atau jauhnya dari dzikir maka para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, antara yang membolehkan dan tidak membolehkan.

Hukum memegang Al-Quran tanpa berwudhu?

Apakah wajib berwudhu ketika membaca al-Quran langsung dari mushaf?

Mayoritas ulama mengatakan wajibnya bersuci ketika memegang al-Quran.

Sehingga tidak diperbolehkan memegang mushaf al-Quran untuk dibaca atau membawanya tanpa menggunakan alas/kain.

Berkata Syaikh Bin Baz terkait dengan hal ini, beliau menjelaskan:

لا يجوز للمسلم مس المصحف وهو على غير وضوء عند جمهور أهل العلم وهو الذي عليه الأئمة الأربعة y وهو الذي كان يفتي به أصحاب النبي عليه الصلاة والسلام، قد ورد في ذلك حديث صحيح لا بأس به من حديث عمرو بن حزم t: أن النبي ﷺ كتب إلى أهل اليمن: أن لا يمس القرآن إلا طاهر وهو حديث جيد له طرق يشد بعضها بعضا، وبذلك يعلم أنه لا يجوز مس المصحف للمسلم إلا على طهارة من الحدثين الأكبر والأصغر.

وهكذا نقله من مكان إلى مكان إذا كان الناقل على غير طهارة لكن إذا كان مسه أو نقله بواسطة كأن يأخذه في لفافة أو في جرابة أو بعلاقته فلا بأس، أما أن يمسه مباشرة وهو على غير طهارة فلا يجوز على الصحيح الذي عليه جمهور أهل العلم لما تقدم.

“Tidak boleh seorang muslim memegang mushaf al-Quran tanpa memiliki wudhu, sebagaimana menurut mayoritas ulama dan pendapat dari imam empat dan apa yang telah difatwakan oleh sahabat-sahabat Nabi (ﷺ). Sebagaimana hadist shahih dari hadist Amr bin Hazm, bahwa Nabi (ﷺ) ketika menulis untuk warga Yaman, beliau menuliskan,” Hendaknya tidak menyentuh al-Quran itu kecuali orang yang dalam keadaan bersuci.” Hadist jayyid dengan jalan riwayat yang saling menguatkan. Dari riwayat hadist tersebut dipahami bahwa tidak boleh memegang mushaf bagi seorang muslim kecuali dalam keadaan suci dari dua hadast, besar dan kecil. Begitupula ketika ia memindah/membawa mushaf dari satu tempat ke tempat yang lain.

Bila yang menyentuhnya atau memindahkannya dengan perantara/tidak secara langsung menyentuhnya seperti mengambilnya dengan kain atau kantong atau dengan perantara lainnya maka hukumnya boleh. Jika menyentuhnya secara langsung padahal ia tidak suci maka tidak dibolehkan menurut pendapat mayoritas ulama sebagaimana di atas.” . (https://binbaz.org.sa/fatwas/928)

Juga disebutkan di dalam Islamweb pada nomor 12540,”

فالمحدث حدثاً أصغر تجوز له قراءة القرآن بإجماع العلماء، والأفضل أن يكون متوضئاً لها. قال النووي ( أجمع المسلمون على جواز قراءة القرآن للمحدث، والأفضل أن يتطهر لها)

أما مسه المصحف وحمله، فقد ذهب جمهور العلماء ومنهم الأئمة الأربعة إلى تحريم ذلك، وذهب الحاكم وحماد وداود الظاهري إلى جواز ذلك، وقولهم هذا مرجوح،

“Orang yang berhadast kecil maka boleh membaca al-Quran dengan ijma` para ulama, namun yang lebih utama ia dalam keadaan berwudhu”.

Telah berkata Imam Nawawi,” para ulama sepakat atas bolehnya membaca al-Quran bagi orang yang berhadats, dan yang lebih utama hendaknya ia bersuci untuk membacanya.”

Adapun menyentuh al-Quran dan membawanya, mayoritas ulama di antaranya para empat imam berpendapat dengan haramnya hal tersebut. Alhakim, Hammad, Dawud addhairi berpendapat boleh. Namun perkataan ini adalah lemah…” (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/12540)

Sehingga, bila tidak ada hal darurat dan memungkinkan membaca al-Quran dalam keadaan suci, maka ini lebih utama. Kemudian, bila ia akan menyentuh al-Quran tanpa menggunakan alas, baik mau membacanya atau memindahkannya, bila tidak ada keadaan yang menyulitkannya untuk bersuci, bukan seorang yang haid/nifas maka hendaknya ia berwudhu terlebih dahulu.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Rabu, 6 Dzulhijjah 1443 H/8 Juli 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid
Back to top button