Fiqih

Perlukah Mengganti Pakaian Saat Tayamum, Jika Keluar Mani?

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Perlukah Mengganti Pakaian Saat Tayamum, Jika Keluar Mani?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan perlukah mengganti pakaian saat tayamum, jika keluar mani? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillah, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan untuk ustadz dan keluarga. Perihal adanya udzur untuk melakukan tayamum sebagai pengangkat hadast besar. Jika kasusnya keluar mani (baik karena jima atau mimpi basah), maka perlukah mencuci kemaluan beserta mengganti pakaian juga jika melakukan tayamum?

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Aamiin, semoga Allah juga memberikan kebahagiaan kepada kita semua.

Biasanya, proses keluarnya mani didahulukan dengan keluarnya madzi (cairan bening karena munculnya syahwat), setelahnya baru keluar mani. Sehingga, bisa dibedakan menjadi dua kondisi: bila diyakini tidak ada keluarnya madzi, hanya keluar mani maka tidak harus membersihkannya, karena mani tidak najis, walaupun ada pendapat yang mengatakan najisnya mani.

Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu:

أما المني فإنه طاهر لا يلزم غسل ما أصابه إلا على سبيل إزالة الأثر فقط

“Adapun mani maka dia suci, tidak wajib mencuci apa yang dikenainya kecuali hanya sekadar menghilangkan bekas saja” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Syeikh ‘Utsaimin 11/222 no:169 )

Bila ternyata mani tercampur pula dengan madzi maka harus dicuci, karena madzi adalah najis, sebagaimana hadist yang disebutkan di atas tentang najisnya madzi.

Hadits yang diriwayatkan dari Ali –radhiyallahu ‘anhu- berkata:

كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَجَعَلْتُ أَغْتَسِلُ حَتَّى تَشَقَّقَ ظَهْرِي فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ ذُكِرَ لَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( لَا تَفْعَلْ ، إِذَا رَأَيْتَ الْمَذْيَ فَاغْسِلْ ذَكَرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ) رواه أبو داود (206)، وصححه الشيخ الألباني رحمه الله .

Saya adalah seorang yang sering mengeluarkan madzi, maka saya bersuci dengan mandi besar sampai punggungku seakan menjadi pecah, maka saya menyampaikan hal itu kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- atau telah diberitakan oleh orang lain, maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Janganlah kau lakukan!, jika kamu melihat madzi maka cucilah kemaluanmu dan berwudhu’lah dengan wudhu’ yang sama dengan wudhu’nya shalat”. (HR. Abu Daud 206 dan dishahihkan oleh Albani –rahimahullah-)

Sehingga, sebaiknya dan lebih aman, ketika keluar mani hendaknya di cuci kemaluan /sekitarnya dan mengganti/membersihkan bajunya yang diperkirakan terkena mani atau madzi, kecuali tidak ada air untuk melakukannya, maka tidak perlu dicuci, cukup di percikkan air atau dibersihkan dengan tisu atau dikerik.

Sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلمكَانَ يَغْسِلُ الْمَنِىَّ ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى الصَّلاَةِ فِى ذَلِكَ الثَّوْبِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى أَثَرِ الْغَسْلِ فِيهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mencuci bekas mani (pada pakaiannya) kemudian beliau keluar untuk melaksanakan shalat dengan pakaian tersebut. Aku pun melihat pada pakaian beliau bekas dari mani yang dicuci tadi.”(HR. Muslim no. 289)

Sebagaimana ucapan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

إِنَّمَا هُوَ بِمَنْزِلَةِ النُّخَام وَالْبُزَاقِ أَمِطْهُ عَنْكَ بِإِذْخِرَةٍ .

Artinya: “Dia (mani) itu seperti dahak dan ludah, hilangkanlah dengan idzkhirah (sejenis rumput yang harum baunya).” (Dikeluarkan oleh Ad-Daruquthny di dalam As-Sunan 1/225 no:448 , cet. Mu’assasatur Risalah)

Berkata At-Tirmidzy rahimahullahu:

وَحَدِيثُ عَائِشَةَ أَنَّهَا غَسَلَتْ مَنِيًّا مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم– – لَيْسَ بِمُخَالِفٍ لِحَدِيثِ الْفَرْكِ لأَنَّهُ وَإِنْ كَانَ الْفَرْكُ يُجْزِئُ فَقَدْ يُسْتَحَبُّ لِلرَّجُلِ أَنْ لاَ يُرَى عَلَى ثَوْبِهِ أَثَرُهُ

Artinya: “Dan hadist ‘Aisyah di mana beliau mencuci mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bertentangan dengan hadist yang menyatakan bahwa ‘Aisyah menggosok mani tersebut, karena meskipun bila digosok sudah mencukupi akan tetapi dianjurkan untuk menghilangkan bekasnya” (Sunan At-Tirmidzy 1/201-202)

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Rabu, 6 Dzulhijjah 1443 H/8 Juli 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik disini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button