Fiqihhot

Berwudhu Menggunakan Air Kran, Lebih Utama?

Pendaftaran Mahad Bimbingan Islam

Berwudhu Menggunakan Air Kran, Lebih Utama?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan mengenai berwudhu menggunakan air kran, lebih utama? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, saya ingin bertanya apa ada dalil yang menerangkan bahwa berwudhu dengan air yang mengalir misal dari keran lebih afdhol dari air yang ada di bak?

Jika berwudhu dengan air yang diam di bak, apa ada syarat berapa minimal ukuran bak? Jazakallahukhairan.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumslam warahmatullah wabaarokatuh.

Sejauh yang kami ketahui, tidak ada dalil yang menyatakan keutamaan berwudhu dengan menggunakan air di keran. Selama air itu suci dan menyucikan, potensi najis jauh dari media tersebut, maka menggunakan air dari keran, bak, ember, gayung, botol dan yang lainnya tidak menjadi masalah.

Begitu pula dalam berwudhu, maka berwudhu di media mana pun tidak ada ketentuannya. Selama air yang ada di dalamnya suci dan tidak tercampur dengan najis, maka boleh bersuci darinya. Bahkan Rasulullah pernah bersuci dari sebuah baskom/wadah yang kecil.

Baca Juga:  Mengusap Kaos Kaki Ketika Berwudhu, Bolehkah?

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النِّسَآءُ وَالرِّجَالُ يَتَوَضَّئُوْنَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَ يُشْرِعُوْنَ فِيْهِ جَمِيْعًا [رواه أحمد].

Dari Abdullah bin Umar (diriwayatkan), ia berkata, adalah perempuan-perempuan dan laki-laki pada masa Rasulullah () berwudhu pada bejana yang satu, maka semuanya menggunakan air itu. [HR. Ahmad No. 6001]

عَنْ مَيْمُنَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ مِنَ الْجَنَابَةِ [أخرجه الترمذى وقال حسن صحيح].

Dari Maimunah radhiyallahuanha (diriwayatkan), ia berkata, aku dan Rasulullah () pernah mandi janabah dari satu bejana [Ditakhrij oleh at-Tirmidzi, no. 57 dan dikatakan hasan shahih].

Wallahu waliyyuttaufiq, wallahu ta`ala a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Selasa, 16 Syawal 1443 H/ 17 Mei 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button