ArtikelManhajUmum

Bergembira Dengan Wafat Atau Ditimpakannya Musibah Kepada Musuh Islam, Penyeru Kebidahan Dan Pelaku Terang-terangan Dalam Maksiat

Bergembira Dengan Wafat Atau Ditimpakannya Musibah Kepada Musuh Islam, Penyeru Kebidahan Dan Pelaku Terang-terangan Dalam Maksiat

Alhamdulillahi Robbil aalamin, was sholatu was salamu ala asyrofil anbiyai wal mursalin, wa ba’du.

Dalam berdakwah, menyerukan kebenaran kepada manusia, dan mengingkari kemungkaran yang ada, tentunya hal tersebut tidak selamanya bisa berjalan mulus, akan ada batu rintangan dalam berdakwah, kesulitan dan tantangan pasti ada. Diantara kesulitan dakwah tersebut adalah adanya musuh-musuh yang menghalangi jalan kebenaran dan justru membuat propaganda dalam kemungkaran, yang demikian sudah menjadi sunnatullah yang harus dihadapi bagi para Dai yang mengajak kepada kebaikan, Allah ta’ala berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا َ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)”.
(QS Al-An’am:112)

Setiap Nabi ada musuh dakwahnya, setiap dai pasti juga akan mendapati yang serupa, kemudian ada pertanyaan, musuh-musuh dakwah tersebut, baik orang kafir, fajir, munafik, ahli bidah, ketika mereka ditimpa musibah atau kematian, bolehkah kita merasa senang dan gembira atas hal tersebut?

Dalam fatwa islamqa.com dibawah bimbingan & pengawasan syaikh Muhammad Solih al-Munajjid حفظه الله dikatakan:

الفرح بمهلك أعداء الإسلام وأهل البدع المغلظة وأهل المجاهرة بالفجور أمر مشروع ، وهو من نِعَم الله على عباده وعلى الشجر والدواب ، بل إن أهل السنَّة ليفرحون بمرض أولئك وسجنهم وما يحل بهم من مصائب

“Bergembira dengan dibinasakannya musuh islam, penyeru kebidahan yang berat, juga pelaku kefajiran yang terang-terangan adalah perkara yang disyariatkan, bahkan hal tersebut adalah bagian dari nikmat Allah kepada para hambanya, kepada pepohonan dan hewan-hewan. Justru Ahlus sunnah sangat bergembira dengan penyakit yang ditimpakan kepada mereka, atau pemenjaraan mereka atau musibah apa saja yang menimpa mereka”.

Landasan dan argumen dari apa yang disampaikan adalah nas-nas dalil berikut ini baik ayat al-Quran, hadist, maupun kejadian yang pernah berlalu dari sejarah para salaf, diantaranya:

Baca Juga :  Pendidikan Anak Dengan Menari dan Menyanyi Menurut Islam

1. Firman Allah ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَآءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka (musuh) angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan”.
(al-Ahzab: 09)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa pembinasaan musuh-musuh Allah adalah bagian dari nikmat yang Allah berikan kepada kaum muslimin, yang mana nikmat tersebut pantas untuk disebut dan disyukuri.

2. Hadist Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِيٍّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُرَّ عَلَيْهِ بِجَنَازَةٍ فَقَالَ: ( مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ ) ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ ؟ فَقَالَ :  الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ ، وَالْبِلَادُ ، وَالشَّجَر ُ، وَالدَّوَابُّ 

Dari Abu Qatadah ibnu Rib’iy, bahwa Sesungguhnya Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah dilewati pengiringan jenazah. Kemudian beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
“Ada orang yang nyaman bisa beristirahat, dan ada pula yang orang lain menjadi nyaman & beristirahat karena ketiadaannya”.
Para shahabat bertanya, ‘Siapa itu orang yang nyaman bisa beristirahat dan orang yang orang lain menjadi bisa beristirahat karena ketiadaannya ?”
Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Seorang hamba yang mukmin adalah orang yang beristirahat dari keletihan dunia dan kesulitannya (setelah wafat). Sedangkan seorang hamba yang fajir/gemar maksiat maka hamba Allah yang lain, negeri dan pepohonan serta hewan-hewan bisa beristirahat dari gangguannya (setelah ia wafat)”.
(H.R Bukhory:6147, Muslim:950)

Al-Imam al-Nawawy رحمه الله menjelaskan hadist ini beliau berkata:

“Makna dari hadits adalah bahwa orang yang meninggal dunia ada dua jenis yaitu orang yang beristirahat dan orang yang orang lain dapat beristirahat darinya.
Orang yang beristirahat adalah orang yang beristirahat dari keletihan kehidupan dunia.
Adapun para hamba beristirahat dari orang yang fajir/ahli maksiat maknanya adalah mereka tercegah dari gangguannya. Gangguannya dari berbagai sisi : kezholimannya kepada mereka, melakukan berbagai kemungkaran. Jika mereka mengingkari kemungkarannya maka mereka memikul kesusahan karenanya. Boleh jadi mereka akan mendapatkan bahaya karena hal itu. Namun jika mereka mendiamkan kemungkaran tersebut maka mereka akan mendapatkan dosa. Demikian juga istirahatnya hewan dari gangguannya. Karena dia akan mengganggu hewan, memukulnya dan mempekerjakannya di atas batas kemampuannya serta membuatnya demikian lapar pada beberapa kesempatan.
Sedangkan istirahatnya bumi/suatu negeri dan tumbuhan dari gangguannya karena (kemaksiatannya -pen) akan mencegah turunnya hujan dan akan menimbulkan musibah. Demikian perkataan Ad Dawudi. Sedangkan Al Baji mengatakan, “Karena dia menganiaya dan mencegah hak hewan tersebut seperti minum dan yang semisalnya”
(Syarah Sohih Muslim hal:20,21 juz:7)

3. Dikutipkan juga bahwa gembong kebidahan dan penyimpangan Ibnu Abi Duat ketika tertimpa penyakit hemiplegia/lumpuh sebagian tubuhnya, ahlus sunnah bergembira ketika mengetahui hal tersebut.
(tarikh al-Baghdad oleh Khatib al-Baghdady hal:155 juz:4)

4. Berkata al-Imam al-Khollal رحمه الله :

قيل لأبي عبد الله – أي : الإمام أحمد بن حنبل – : الرجل يفرح بما ينزل بأصحاب ابن أبي دؤاد ، عليه في ذلك إثم ؟ قال : ومن لا يفرح بهذا ؟

“Dikatakan kepada al-Imam Ahmad ibnu Hanbal: jika ada seorang yang bergembira dengan musibah yang menimpa Ibnu Abi Duat (gembong muktazilah) apakah dia berdosa? Al-Imam Ahmad menjawab: dan siapa yang tidak bergembira dengan kabar ini? (beliau membenarkannya pen-).”
(Al-Sunnah hal:121 juz:5)

5. Berkata al-Khatib al-Baghdady رحمه الله ketika beliau membawakan biografi dari Ubaidullah ibnu Abdillah ibnu al-Husain Abu al-Qasim al-Haffaf yang dikenal dengan Ibnu al-Naqib, al-Khatib al-Baghdady mengatakan: saya menulis tentang biografinya, dan dia adalah orang mempunyai pendengaran yang sahih dalam masalah hadist, sangat kuat/tegas dalam perkara sunnah, dan telah sampai kepadaku sebuah kabar bahwa beliau (Ubaidullah) duduk untuk mengucakpan kegembiraan/selamat setelah meninggalnya Ibnu al-Mu’allim pentolan rofidhoh, kemudian ia (Ubaidullah) mengatakan: Aku sudah tidak perduli lagi kapan aku akan mati setelah aku bisa menyaksikan binasanya Ibnu al-Mu’allim”.
(Tarikh al-Baghdad hal:382 juz:10)

Seperti apa yang disampaikan sebelumnya, dan masih banyak argumen yang lain yang menunjukkan bolehnya bergembira atas kebinasaan musuh-musuh islam dan orang yang berbuat tipu daya/makar pada islam, atau binasanya orang-orang zindiq dan gembong kebidahan, binasanya ahli kefajiran dan kerusakan, juga justru ahlus sunnah bergembira dengan musibah yang menimpa mereka, seperti sakitnya mereka, dipenjaranya mereka atau penafian mereka dari menyebarkan pemahaman-pemahaman yang buruk.

Selengkapnya: Fatwa IslamQA هل يجوز الفرح بموت أعداء الإسلام وبما يصيبهم من مصائب دنيوية ؟

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Kamis, 11 Rabiul Akhir 1442 H/ 26 November 2020 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله 
klik disini

Baca Juga :  Hukum Pacaran dalam Islam

Ustadz Setiawan Tugiyono, Lc., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button