Ibadah

Bagaimana Hukum Menjawab Suara Iqamah?

Bagaimana Hukum Menjawab Suara Iqamah

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Bagaimana Hukum Menjawab Suara Iqamah, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Assalamu’alaykum warahmatullah ustadz. Izin bertanya. Saya pernah membaca bahwa iqomah sama dengan adzan. Apakah kita juga disunnahkan menjawab panggilan iqomah ustadz? Dan apabila jarak antara adzan dan iqomah sangat singkat apakah kita lebih baik menyelesaikan doa setelah adzan ataukah menjawab iqomah ustadz? Jazakallahu khairan ustadz

جزاك الله خيرا

(Dari Fulan Anggota Grup Whatsapp Sahabat BiAS)


Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, amma ba’du.

Para ulama berbeda pendapat di dalam masalah menirukan suara Iqamah, sebagian menyatakan disunnahkan untuk menjawab Iqamah dengan cara menirukan lafadz Iqomah sama seperti saat kita menjawab adzan. Dengan alasan karena Iqamah juga merupakan Adzan. Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz menyatakan saat ditanya dengan pertanyaan serupa :

نعم، يُستحبّ أن يُجيب المقيم كما أجاب المؤذن.

“Iya, disunnahkan untuk menjawab tukang Iqamah sama dengan dengan menjawab tukang adzan.” (Fatawa Syeikh Bin baz no. 31709).

Dan pendapat ini merupakan pendapat jumhur/ mayoritas.

Namun sebagian ulama yang lain menyatakan tidak disyariatkan karena meski Iqamah disebut Adzan namun itu hanya sebagai bentuk penyebutan yang dominan saja.

المتابعة في الإقامة فيها حديث أخرجه أبو داود ، لكنه ضعيف لا تقوم به الحجة ، والراجح : أنه لا يُتابع

“Mengikuti bacaan Iqamah di dalamnya ada hadits yang dikeluarkan oleh Abu Dawud akan tetapi ia adalah hadits yang dha’if tidak mencukupi sebagai dalil, pendapat yang rajih iqamah tidak ditirukan.” (Majmu’ Fatawa Syeikh Ibni Utsaimin : 12/201 soal no. 129).

Syeikh Muhammad Ali Farkus Al Jazairi pula menyatakan:

أمَّا عن مشروعية المُتابَعة في الإقامة فالظاهرُ عَدَمُ مشروعيتها؛ لأنَّ حديث «بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ»(٤)، ذُكِر على سبيلِ تغليبِ التذكير على التأنيث كالقمرين [الشمس والقمر]، والأبوين [الأب والأمِّ]، وحَمْلَ أحَدِ الاسمين على الآخَرِ شائعٌ في كلام العرب؛ لأنَّ «الأَصْلَ فِي العِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ مَا لَمْ يَرِدْ دَلِيلٌ»، ولم يُعْلَم عن الصحابة رضي الله عنهم أنهم كانوا يُتابِعون المُقيمَ في ألفاظ الإقامة، مع احتمالِ أَنْ يكون اسْمُ الأذانِ حقيقةً لكُلٍّ منهما؛ لأنَّ الأذان في اللغة بمعنى الإعلام، وهو ـ في الاصطلاح ـ إعلامٌ بحضور الوقت، والإقامةُ إعلامٌ بحضور فعلِ الصلاة.

فالحاصل: أنَّ مَن يرى أنَّ الإقامة أذانٌ أَنْزَلَ أحكامَ الأذانِ على الإقامة، ومَن رأى أنَّها ليست بأذانٍ، وإنَّما ذُكِرَتْ على وجه التغليب قال بعدَمِ مشروعية مُتابَعتِه في ألفاظ الإقامة حتَّى يأتيَ الدليلُ، ولعلَّ هذا القولَ أقربُ إلى الصواب.

والعلمُ عند الله تعالى

“Adapun menirukan lafadz Iqamah pendapat yang lebih tampak kebenarannya adalah hal tersebut tidak disyariatkan.

Karena hadits yang berbunyi ; ‘Antara dua adzan ada shalat’. Adalah penyebutan yang bertujuan untuk menjelaskan lebih dominannya mudzakar dari pada muannats (bukan untuk menyamakan keduanya dari berbagai sisi-pent). Seperti Dua Bulan untuk menyebut matahari dan bulan, dan Dua Ayah untuk menyebut ayah dan ibu. Dan membawa salah satu kata kepada kata yang lain adalah satu perkara yang banyak terjadi di kalangan bangsa arab.

Dan karena hukum asal dari sebuah ibadah adalah Tauqif (berhenti tidak boleh dilakukan) selama tidak ada dalilnya. Dan belum diketahui dari para sahabat radhiyallahu anhum bahwa mereka menirukan tukang Iqamah saat mengucapkan lafadz Iqamah. Bersamaan dengan adanya kemungkinan benarnya istilah adzan untuk menyebut keduanya (adzan dan iqomah). Karena adzan secara bahasa artinya memberitahu. Dan adzan secara istilah artinya memberitahu sudah masuknya waktu shalat, dan Iqamah memberi tahu sudah masuknya waktu pelaksanaan shalat.

Walhasil siapa yang berpendapat bahwa Iqamah adalah adzan maka ia memberlakukan hukum adzan terhadap Iqamah. Dan barangsiapa berpendapat bahwa Iqamah itu bukan adzan. Namun Iqamah disebut Adzan hanya sebagai penyebutan dominasi saja, maka ia berpendapat akan tidak disyariatkannya menirukan lafadz Iqamah sampai ada dalil. Barangkali pendapat yang ini yang lebih dekat dengan kebenaran. Dan ilmu ada di sisi Allah.” (Fatawa Syeikh Muhammad Ali Farkus no. 599).

Kami mengingatkan diri kami sendiri bahwa masalah ini adalah masalah khilafiyah ijtihadiyah yang kita diperbolehkan untuk berbeda di dalam memilih pendapat ulama yang kita anggap lebih benar. Dengan tanpa menghina, memvonis sesat orang lain yang berbeda dengan kita, Syeikh Muhammad Ibnu Utsaimin menyatakan :

قوله عند إقامة الصلاة: أقامها الله وأدامها ـ قد ورد فيه حديث، ولكن في صحته نظر، فمن قالها لا ينكر عليه، ومن تركها لا ينكر عليه

“Ucapan seseorang ketika (menirukan lafadz-pent) Iqamah ; Aqamahallahu wa adaamaha- ada hadits yang tersebut tentangnya akan tetapi status keshahihannya perlu ditinjau ulang. Barangsiapa mengucapkannya maka tidak boleh diingkari dan barangsiapa meninggalkannya juga tidak boleh diingkari.” (Majmu’ Fatawa Syeikh Muhamammd Ibnu Utsaimin : 13/ 16 soal no. 368).

Wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA. حفظه الله
Kamis, 14 Rabiul Awal 1443 H/ 21 Oktober 2021 M


Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Pemahaman Mengenai Ibadah Mahdhah & Ghairu Mahdhah

Ustadz Abul Aswad Al Bayati, BA.

Beliau adalah Alumni S1 MEDIU Aqidah 2008 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Malang tahunan dari 2013 – sekarang, Dauroh Solo tahunan dari 2014 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Koordinator Relawan Brigas, Pengisi Kajian Islam Bahasa Berbahasa Jawa di Al Iman TV

Related Articles

Back to top button