AqidahKonsultasi

Bagaimana Agar Kita Memiliki Tauhid Yang Kuat

Bagaimana Agar Kita Memiliki Tauhid Yang Kuat

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Bagaimana Agar Kita Memiliki Tauhid Yang Kuat, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz mohon izin bertanya. Bagaimana agar kita memiliki tauhid yang kuat kepada Allah?

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Untuk memiliki tauhid yang kuat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1- Memahami tauhid dengan benar.

Kata tauhid dalam bahasa Arab adalah mashdar (kata kerja yang dibendakan), berasal dari kata kerja:

وَحَّدَ – يُوَحِّدُ – تَوْحِيْدًا

wahhada – yuwahhidu –  tauhidan

artinya: “Menjadikan satu”.

Adapun secara istilah agama, tauhid artinya: Mengesakan Allah dengan sesuatu yang merupakan kekhususan-Nya. (Al-Qaulul Mufid, hal:5, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin)

Pembagian Tauhid,

Kekhususan Allah meliputi tiga perkara: Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma’ wash-shifat, sehingga tauhid terbagi menjadi tiga bagian tersebut. Yang ketiganya tersebut merupakan satu kewajiban yang harus diimani, tidak boleh dipisah-pisahkan.

1.Tauhid Rububiyah.

Tauhid Rububiyah adalah: Meyakini keesaan Rububiyah Allah terhadap makhluk-Nya, yaitu di dalam mencipta, memiliki, dan mengatur atau menguasai seluruh alam semesta ini.

Atau dengan ungkapan lain: Meyakini keesaan perbuatan Allah terhadap makhluk-Nya. Hal itu meliputi: mencipta, memiliki, menghidupkan, mengatur atau menguasai mematikan, memberi rizqi, mendatangkan kebaikan, mendatangkan bencana, dan lainnya yang termasuk perkara-perkara taqdir dan ketetapan-ketetapan Allah terhadap alam atau makhluk.

Dengan demikian kita meyakini bahwa Pencipta, Pemilik, dan Pengatur atau Penguasa seluruh alam semesta ini hanya Allah Ta’ala, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”. (QS. Al-Fatihah/1:2)

2.Tauhid Uluhiyah.

Artinya: Mengesakan Allah Ta’ala dengan ibadah.

Yaitu bahwa yang berhak diibadahi hanyalah Allah Ta’ala, tidak boleh memberikan ibadah kepada selain Allah, walaupun kepada makhluk yang dekat kepada-Nya, seperti malaikat atau rasul Allah. Apalagi kepada makhluk yang derajatnya di bawah mereka, seperti: planet, bintang, manusia, binatang, pohon, batu, senjata, atau pun lainnya.

Tauhid uluhiyah ini terkandung di dalam perkataan Laa ilaaha illa Allah, karena maknanya adalah tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah.

Rukun Tauhid Uluhiyah:

Tauhid Uluhiyah memiliki dua rukun yang harus terpenuhi, yaitu:

1.) An-Nafyu (meniadakan), dari perkataan Laa ilaaha, maknanya: berlepas diri dari kemusyrikan dan pelakunya.

2.) Al-Itsbat (menetapkan), dari perkataan illa Allah, maknanya: mengikhlaskan ibadah hanya kepada kepada Allah semata.

3.Tauhid Wa Shifat.

Yaitu: Mengimani dan menetapkan seluruh nama-nama Allah Al-Husna dan sifat-sifat-Nya yang sempurna, sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya, yang tersebut di dalam Kitab Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih, dengan tanpa tahrif (ta’wil), ta’thil, takyif, tamtsil (tasybih), dan tawfidh.

  • Tahrif : artinya merubah, sering disebut dengan ta’wil, ini dibagi menjadi dua:

1.) Merubah lafzh nash: dengan cara menambah atau mengurangi kata atau huruf, atau merubah harakat.

2.) Merubah makna nash.

  • Ta’thil: artinya mengosongkan; meniadakan; membiarkan.

Yang dimaksudkan meniadakan sifat-sifat Allah, baik sebagian atau seluruhnya.

  • Takyif: artinya menentukan atau menetapkan atau menggambarkan hakekat sifat Allah.
  • Tamtsil (tasybih): artinya menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk.
  • Tawfidh: artinya menyerahkan makna sifat kepada Allah, yakni tidak menetapkan sifat bagi Allah.

Sedangkan Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah menetapkan makna sifat tetapi menyerahkan hakekat sifat kepada Allah.

2- Meyakini sifat-sifat Allah yang sempurna.

Allah Ta’ala memiliki sifat-sifat sebagaimana yang diberitakan oleh Allah di dalam kitab-Nya, yaitu Al-Qur’an, atau yang diberitakan oleh Rasul-nya di dalam hadits-hadits yang shohih. Dan sifat-sifat Allah itu sempurna sesuai denagn kesempurnaan Allah Ta’ala.

Seperti meyakini sifat ilmu Allah.

Bahwa ilmu Allah sempurna meliputi semua yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi.

Bahwa ilmu Allah meliputi semua yang ada, baik berkaitan dengan diri Allah atau makhluk-Nya, baik lahir atau batin, baik yang terlihat atau yang tidak terlihat.

Seperti meyakini sifat Qudroh (kekuasaan) Allah.

Bahwa Qudroh (kekuasaan) Allah sempurna terhadap segala sesuatu.

3- Beribadah kepada Allah dengan sifat-sifat Nya.

Yaitu ketika kita meyakini bahwa Allah Maha Melihat, maka di manapun kita berada, kita merasa dilihat oleh Allah Ta’ala.

Ketika kita meyakini bahwa Allah Maha Mendengar, maka di manapun kita berada, kita meyakini perkataan kita didengar oleh Allah Ta’ala.

Ketika kita meyakini bahwa Allah Maha Kuasa, maka di dalam keadan apapun, kita bergantung kepada Allah.

4- Beriman kepada qodar Allah.

Yaitu bahwa segala sesuatu yang terjadi telah diketahui oleh Allah Ta’ala, ditulis di dalam kitab di sisi-Nya, terjadi dengan kehendak Allah, dan diciptakan oleh Allah.

Sehingga semua perkara yang telah ditulis, pasti akan menimpamu, tidak akan meleset.

Dan semua perkara yang tidak ditulis, tidak akan menimpamu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ibnu Abbas:

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ،

وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ،

رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ””

“Ketahuilah, bahwa jika umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tulis untukmu.

Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakaimu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa mencelakaimu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tulis padamu.

Pena (qodar) telah diangkat dan lembaran-lembaran (qodar) telah kering”.

(HR. Tirmidzi, no. 2516; Ahmad, no. 2669. Imam Tirmidzi berkata, “Hadits Hasan Shahih”. Syaikh Al-Albani berkata, “Shahih”.)

Demikian sedikit penjelasan kami, semoga Allah memberikan kepada kita keimanan yang benar, tauhid yang lurus, semangat kuat untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.

Wallohu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Muslim Al Atsari. حافظه الله

Ustadz Muslim Al-Atsary

Beliau adalah Pengajar di Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafi, Sragen
Back to top button