NikahWanita

Apakah Surganya Terhalangi Ridho Suami?

Apakah Surganya Terhalangi Ridho Suami?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Apakah Surganya Terhalangi Ridho Suami?, Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Semoga tim BiAS dan Para Ustadz yang mengajarkan ilmu, selalu dalam lindungan Allah, selalu dilimpahkan nikmat sehat dan nikmat iman. Aamiin.

Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad)

Terkait hadits di atas, bagaimana jika akhlak dan adab seorang istri buruk terhadap suami? Seperti meninggikan suara ketika berbicara kepada suami, selalu membantah ketika ditegur, tidak meminta maaf ketika suami marah, tidak berusaha mengejar ridho suami. Bagaimana hukumnya ustadz? apakah surganya terhalangi ridho suami?

Syukron, jazakumullahu khayron

(Dari Fulan Anggota Grup Whatsapp Sahabat BiAS)


Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Baca Juga :  Bersabar Terhadap Istri Yang Cerewet

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا؛ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَائَتْ

Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, niscaya dia akan masuk surga dari pintu-pintu surga yang dia sukai.” (HR. Ahmad dalam Musnad : 1661, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya : 4151, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Targhib : 1931).

Dan perintah syariat itu saling melengkapi satu sama lain. Selain dituntut untuk melaksanakan hal hal yang disebut dalam hadits di atas, seorang wanita juga diharuskan untuk belajar dan melaksanakan isi hadits-hadits yang lainnya. Di antaranya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?”

Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.”

(HR. An-Nasai : 3231, Ahmad : 2/251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Dan masih banyak hadits lain yang menjelaskan kriteria seorang istri shalihah. Riwayat-riwayat seperti ini sangat cocok dibaca dan direnungi oleh kaum wanita atau kaum istri.

Sedangkan kaum suami atau kaum lelaki idealnya mempelajari dan mengamalkan riwayat-riwayat yang menjelaskan kriteria suami yang shalih. Jika sudah demikian maka masing-masing pihak baik suami dan istri akan instropeksi diri kenapa istriku tidak shalihah? Atau kenapa suamiku tidak shalih?

Apa yang kurang dari diriku, hak istri atau hak suami yang mana yang belum aku tunaikan. Dan tidak menjadikan hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyerang pasangan. Tidak terlalu sibuk menuntut hak tapi melupakan kewajiban.

Contoh sebagian dalil yang menjelaskan kriteria suami shalih adalah

يَاأَيَّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا

Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim : 6)

Imam Asy Syaukani mengutip perkataan Ibnu Jarir : “Wajib atas kalian untuk mengajarkan anak-anak kita agama Islam, serta mengajarkan kebaikan dan adab-adab Islam.” (Tafsir Fathul Qodir : 5/253).

Demikianlah masing-masing suami istri hendaknya fokus kepada kewajibannya masing-masing dan sering sering menginstrospeksi diri dengan demikian jalannya bahtera rumah tangga bisa berjalan dengan baik sebagaimana yang diharapkan wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA. حفظه الله
Kamis, 26 Rabiul Akhir 1443 H/2 Desember 2021 M

Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Apakah Talak Saat Mabuk Tetap Teranggap Cerai?

Ustadz Abul Aswad Al Bayati, BA.

Beliau adalah Alumni S1 MEDIU Aqidah 2008 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Malang tahunan dari 2013 – sekarang, Dauroh Solo tahunan dari 2014 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Koordinator Relawan Brigas, Pengisi Kajian Islam Bahasa Berbahasa Jawa di Al Iman TV

Related Articles

Back to top button