Aqidah

Apakah Malaikat Juga Merasa Senang dan Sedih Layaknya Manusia?

Apakah Malaikat Juga Merasa Senang dan Sedih Layaknya Manusia?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, Apakah Malaikat Itu Juga Merasa Senang dan Sedih Layaknya Manusia? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum warahmatullah

Izin untuk bertanya. Apakah malaikat pencatat amal manusia, atau malaikat pada umumnya, memiliki perasaan layaknya manusia, bisa tertawa, kecewa, senang maupun sedih? Seperti senang ketika manusia yang didampinginya melakukan amalan shalih, dan kecewa jika manusia melakukan amalan tercela.

Wassalamu’alaikum warahmatullah

(Disampaikan oleh Fulan, penanya dari Grup Whatsapp Bimbingan Islam)


Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh.

Wajibnya Beriman Kepada Malaikat

Beriman kepada malaikat adalah meyakini dan percaya dengan sebenar-benarnya tanpa ada keraguan dengan eksistensi malaikat dan mereka adalah makhluk Allah Ta’ala.

Dan perlu diingat bahwa Iman kepada malaikat itu bisa berupa beriman secara mujmal (global) dan tafshil (rinci). Dengan kata lain, beriman secara mujmal adalah kadar minimal sehingga keimanan seseorang dianggap sah. Iman secara mujmal adalah dengan meyakini wujud (keberadaan) malaikat. Sekali lagi, ini adalah kadar minimal sahnya keimanan seseorang. Sehingga siapa saja yang mengingkari hal ini, dia telah kafir.

Baca Juga :  Apakah Maksiat Juga Merupakan Takdir dan Kehendak Allah?

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an,

وَلَوْ شَاء اللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَائِكَةً

Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat.” (QS. Al-Mu’minuun: 24)

Beriman Kepada Malaikat Secara Rinci

Adapun berkenaan dengan pertanyaan tentang apakah malaikat pencatat amal manusia, atau malaikat pada umumnya, memiliki perasaan layaknya manusia, bisa tertawa, kecewa, senang maupun sedih? Seperti senang ketika manusia yang didampinginya melakukan amalan shaleh, dan kecewa jika manusia melakukan amalan tercela?

Maka untuk menjawab ini, butuh kepada keimanan yang rinci, yang kita tidak akan berucap dan berkomentar kecuali berdasarkan petunjuk wahyu, karena hal ini termasuk pada perkara ghaib.

Untuk malaikat pencatat amal, terdapat petunjuk wahyu dari Al-Qur’an;

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِين

Padahal sesungguhnya bagi kalian itu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (perbuatan kalian), Malaikat yang mulia dan mencatat (amal perbuatan kalian).” (QS. Al-Infithar : 10-11)

Dalam ayat yang lain:

إذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنْ الْيَمِينِ وَعَنْ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيد

Ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu perkataan pun melainkan di dekatnya ada malaikat yang selalu mengawasi dan selalu hadir.” (QS. Qaf : 17-18)

Dan berdasarkan ilmu yang sampai kepada kami, belum menemukan tentang petunjuk malaikat di sini senang, bahagia atau sedih dan kecewa karena sebab melihat hasil catatan amal manusia. (Wallahu Ta’ala A’lam)

Malaikat Terganggu Dengan Aroma Tak sedap

Petunjuk yang sampai kepada kami adalah malaikat terganggu karena bau bawang atau aroma yang tidak sedap dari mulut manusia. Jika kata ‘terganggu’ di sini masuk kategori ‘perasaan’ sebagaimana di maksud oleh penanya, maka ada sebuah riwayat hadits dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا ، فَإِنَّ الْمَلائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ

Barangsiapa yang memakan bawang merah, bawang putih dan bawang kurrats, maka janganlah dia mendekati masjid kami, sebab malaikat merasa terganggu dengan bau yang mengganggu manusia.” (HR. Muslim 564)

Apa maksudnya?

Jika bau mulut atau aroma tubuh yang tidak sedap itu tercium tentu akan mengganggu jamaah yang lain. Bisa jadi ada orang yang sensitif dengan bau-bau tertentu, ia bisa merasa mual bahkan pusing karena tidak nyaman dengan bau yang tidak sedap. Hal ini akan menganggu konsentrasi dan kekhusyukan para jamaah saat melaksanakan shalat, demikian juga para malaikat terganggu dengan bau yang tidak sedap tersebut.

Wallahu A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Kamis, 26 Rabiul Akhir 1443 H/2 Desember 2021 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button