Antara Syafaat & Kesyirikan

Prof. Dr. Shalih Sindi hafizhahullah
Dalam pembahasan tauhid, sering kita dapati pembahasan tentang Syafaat. Pemahaman yang benar tentang syafaat merupakan bagian dari Islam, namun pemahaman yang keliru tentang syafaat dapat menjerumuskan pada kesyirikan. Berikut kami terjemahkan tulisan Syaikh Prof. Dr. Shalih Sindi mengenai hubungan syafaat dan kesyirikan. Semoga bermanfaat.
Apa hubungan antara pembahasan syafaat dengan kesyirikan?
Hubungannya sangat erat. Sebab, kesyirikan terbesar yang dilakukan oleh orang-orang musyrik dahulu maupun sekarang, kembali kepada sikap mereka menjadikan para pemberi syafaat sebagai perantara. Mereka meyakini bahwa seseorang tidak akan memperoleh apa yang diinginkannya dan tidak akan terhindar dari sesuatu yang ditakutinya kecuali dengan menjadikan perantara antara dirinya dengan Rabb-nya.
Mereka memandang kedudukan Allah seperti kedudukan seorang penguasa di antara para penguasa dunia, yang urusan dan tujuan seseorang tidak akan berhasil kecuali jika ada seorang pemberi syafaat yang menjadi perantara di hadapannya dan penguasa tersebut menerima syafaatnya. Inilah dasar kesyirikan orang-orang musyrik. Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
Kesyirikan adalah pengagungan yang lahir dari kebodohan, karena mereka menyamakan Rabb dengan para penguasa. Mereka mengira bahwa pintu tidak dapat didatangi tanpa perantaraan para pemberi syafaat dan para pembantu.
Betapa buruknya perbandingan seperti ini!
Sungguh, perbedaan antara Rabb, Sang Raja Yang Mahabesar, Yang mengetahui segala perkara gaib, dengan para pemimpin dunia sangatlah jauh.
Para pemimpin dunia tidak mampu memberikan rahmat dan ilmu kepada seluruh manusia. Mereka tidak berkuasa atas segala sesuatu, tidak mengetahui segala sesuatu, dan tidak mampu tidak membutuhkan siapapun.
Adapun Allah jalla jalaaluh, rahmat dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dia Maha Mengetahui keadaan para hamba-Nya, Maha Kaya dengan Zat-Nya, Maha Bijaksana dalam seluruh perbuatan-Nya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Maka, perhatikanlah perkara ini yang telah begitu mengakar dalam hati orang-orang musyrik. Sesungguhnya inilah alasan yang mereka gunakan sejak dahulu hingga sekarang. Mereka berkata:
“Barang siapa yang memiliki kedudukan di sisi seorang tokoh besar, maka tercapainya suatu kebutuhan akan lebih mungkin jika dilakukan melalui perantaranya. Sebab, orang tersebut memiliki kedudukan, kedekatan, dan pengaruh di sisi pemegang kekuasaan.
Oleh karena itu, kami berdoa dan memohon kebutuhan serta mengungkapkan keinginan kepada para wali yang telah meninggal dunia. Mereka telah terbebas dari belenggu kehidupan dunia dan telah menjadi lebih dekat kepada Allah dalam kehidupan barzakh. Mereka mengangkat berbagai kebutuhan dan keinginan kepada Allah. Kami meminta kepada mereka, dan mereka meminta kepada Allah. Menurut mereka, cara seperti ini lebih dekat dan lebih berhasil untuk mendapatkan apa yang diinginkan!!”
Salah satu hal yang dapat membantu memahami perkara ini adalah dengan melihat keadaan mereka ketika datang pada hari Kiamat. Ketika mereka menyaksikan berbagai kengerian yang dahsyat dan apa yang telah menanti mereka, mereka bertanya kepada Allah tentang sesuatu yang sejak dahulu telah menguasai hati mereka:
فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا
“Adakah bagi kami pemberi-pemberi syafaat sehingga mereka memberikan syafaat kepada kami?” (QS. Asy-Syu‘ara: 100–101)
Perhatian mereka langsung tertuju kepada perkara yang telah menguasai hati mereka di dunia. Demikian pula ketika mereka telah dilemparkan ke dalam neraka—kita berlindung kepada Allah—mereka menyesali nasib mereka dan berkata:
فَمَا لَنَا مِنْ شَافِعِينَ
“Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafaat.” (QS. Asy-Syu‘ara: 100)
Sebagian orang mungkin menyangka bahwa orang-orang musyrik tersebut sebenarnya bermaksud mengagungkan Allah, hanya saja mereka salah jalan. Mereka menganggap bahwa karena begitu agungnya Allah, mereka merasa terlalu hina untuk meminta kebutuhan mereka pada Allah secara langsung.
Kalaupun anggapan bahwa itu merupakan bentuk pengagungan diterima, maka itu adalah pengagungan yang rusak, karena disertai dengan buruk sangka kepada Allah. Mereka berprasangka buruk pada Rabb mereka dan menyangka terhadap-Nya sesuatu yang tidak benar. Allah berfirman:
﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ﴾
“Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.” (QS Az-Zumar: 67)
Seandainya mereka benar-benar mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, tentu mereka akan mengagungkanNya dengan pengagungan yang benar. Mereka akan meyakini bahwa Allah adalah Yang Mahakuasa, Maha Pengasih, Maha Mengetahui, Maha Mengabulkan doa, Maha Mendengar, dan Maha Melihat. Niscaya mereka akan menghadap hanya padaNya dan meminta hanya padaNya.
Seandainya mereka benar-benar mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, niscaya mereka akan membenarkan firman Allah & sabda Rasul-Nya ﷺ:
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” (QS Al-Baqarah: 186)
Allah tidak mengatakan kepada mereka:
“Carilah orang yang dapat memberikan syafaat bagi kalian di sisi-Ku agar kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan!”
Seandainya mereka mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya, mereka tidak akan menempatkan Rabb mereka dalam jiwa mereka seperti kedudukan salah seorang raja dunia, padahal para raja itu hanyalah hamba-hamba Allah yang penuh kekurangan dalam ilmu dan kemampuan.
Seandainya mereka benar-benar mengagungkan Allah, mereka tidak akan menyekutukan Allah dengan para pemberi syafaat tersebut dalam hak-Nya yang murni, dalam doa, kecintaan, pengharapan, pengagungan, dan ketergantungan hati kepada-Nya.
“Majalis Akidah” | Prof. Dr. Shalih Sindi hafizhahullah.
Diterjemahkan Oleh Ustadz : Amrullah Akadhinta dari tulisan : https://x.com/Mdssindi/status/2091131360253485453