Artikel

Perbedaan Ilmu dan Hikmah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Di dalam Al-Qur’an, Allah Azza wa Jalla sering kali menutup ayat-ayat-Nya dengan dua nama yang agung, yaitu Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui) dan Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana).

وَهُوَ ‌الْعَلِيمُ ‌الْحَكِيمُ

“Dialah Allah Tuhan yang Maha Berilmu dan Bijaksana.”

Kombinasi dua sifat ini bukanlah tanpa alasan. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Ar-Risalah At-Tabukiyyah (halaman 69), menjelaskan bahwa Ilmu dan Hikmah adalah sumber dari segala penciptaan dan syariat.

Berikut penjelasan selengkapnya:

Urgensi Sifat Ilmu dan Hikmah

Dua sifat ini merupakan pondasi dari seluruh perbuatan Allah. Segala sesuatu yang Allah ciptakan (al-khalq) dan segala aturan yang Allah syariatkan (al-amr) bersumber dari Ilmu dan Hikmah-Nya.

Tanpa ilmu yang sempurna, tidak mungkin ada pengaturan alam semesta yang rapi. Ilmu Allah mencakup segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan yang akan terjadi.

Adapun sifat hikmah memastikan bahwa segala sesuatu diletakkan pada tempatnya yang tepat. Tanpa hikmah, penciptaan akan menjadi sia-sia (‘abats) dan tanpa tujuan. Allah berfirman:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115).

Perbedaan antara Ilmu dan Hikmah

Secara ringkas, perbedaan keduanya terletak pada objek dan fungsinya:

Ilmu (Al-‘Ilm): 

Adalah sifat yang berkaitan dengan penyingkapan (al-inkisyaf). Sifat ini mencakup pengetahuan Allah yang meliputi lahir maupun batin. Ilmu yang bersifat menyeluruh. Karena pengaturan terhadap alam semesta yang sempurna tidak akan terwujud kecuali jika Allah meliputi segala rincian alam semesta; Maha Mengetahui apa yang terjadi di setiap detik, apa yang akan terjadi di masa depan, serta apa yang sekiranya akan terjadi jika keadaan berjalan berbeda. Allah Ta’ala tidaklah mengatur alam semesta ini dengan keserampangan atau kebetulan, melainkan dengan ilmu yang sempurna yang mencakup segala sesuatu.

Hikmah (Al-Hikmah): 

Adalah sifat yang berkaitan dengan ketepatan perbuatan (al-itqan). Hikmah didefinisikan oleh para ulama sebagai:

“Meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai” (Wadh’u al-syai’ fi maudhi’ihi).

Ibnul Qayyim -rahimahullah- memberikan perumpamaan yang sangat indah:

“Hubungan Hikmah terhadap Kehendak (Iradah) sama seperti hubungan Keahlian (Khibrah) terhadap Ilmu.”

  • Ilmu adalah sisi luarnya (zahir), sedangkan Keahlian (Khibrah) adalah sisi dalamnya (batin).
  • Kehendak adalah sisi luarnya, sedangkan Hikmah adalah sisi dalamnya yang mengarahkan kehendak tersebut agar selalu tepat sasaran.

Keterkaitan Sifat Ilmu dan Hikmah

Ilmu dan hikmah saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Seseorang bisa saja memiliki ilmu namun tidak bijaksana dalam bertindak. Sebaliknya, mustahil ada kebijaksanaan tanpa didasari oleh ilmu.

Korelasi keduanya dalam sifat Allah adalah:

  1. Sifat Ilmu menuntut adanya sifat kehidupan dan kemandirian (Al-Qayyumiyyah). Tidak mungkin ada ilmu tanpa kehidupan. Maka sifat ilmu mencakup kesempurnaan pendengaran, penglihatan, dan kekuasaan. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu

Surat Ath-Thalaq: 12.

  1. Sifat Hikmah menuntut adanya kesempurnaan rahmat, keadilan, dan kebaikan. Karena Allah Maha Bijaksana, maka setiap ketetapan dan hukuman-Nya adalah keadilan, dan setiap pemberian-Nya adalah rahmad dan kemurahan hati.
  2. Kesempurnaan Pengaturan: Ilmu Allah mengetahui apa yang maslahat bagi hamba-Nya, dan Hikmah Allah-lah yang mewujudkan maslahat tersebut dalam bentuk syariat dan takdir.

Kesimpulan

Ilmu adalah dasar dari segala pengetahuan, sedangkan Hikmah adalah puncak dari penggunaan ilmu tersebut. Ketika Allah menyebut diri-Nya Al-Alim Al-Hakim, Dia ingin hamba-Nya tenang bahwa segala takdir yang menimpa mereka didasari oleh pengetahuan yang luas dan kebijaksanaan yang tidak pernah salah.

Wallahu A’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd. حفظه الله Alumni Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia (S1) & Manajemen Pendidikan UNY (S2). Pembina di Rumuz for Islamic School Managers, Diniyyah Gistrav Islamia School dan Direktur PP Darussalam Tanjung Telang, dai dari Jogjakarta.
Back to top button