ArtikelKeluarga

Ketika Ucapan Istri Melukai Hati Suami 

Bismillah.

Rumah tangga adalah tempat berkumpulnya dua manusia yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena itu, tidak ada rumah tangga yang terbebas dari ujian. Di antara ujian yang cukup berat bagi seorang suami adalah ketika memiliki istri yang kurang mampu menjaga lisannya saat marah.

Allah Ta’ala berfirman:

 وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا 

“Pergaulilah mereka dengan cara yang baik. Jika kalian tidak menyukai mereka, bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)

Ayat ini mengajarkan agar seorang suami tidak tergesa-gesa menilai pasangannya hanya dari satu sisi kekurangan. Bisa jadi ada banyak kebaikan yang Allah titipkan pada dirinya yang tidak dimiliki oleh wanita lain.

Ketika istri mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, hendaknya suami berusaha menahan diri dan tidak membalas dengan ucapan yang serupa. Karena jika kedua belah pihak sama-sama mengikuti emosi, masalah akan semakin besar dan sulit diselesaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَب

“Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat. Namun orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, apabila emosi sedang memuncak, tidak mengapa jika suami memilih diam atau menjauh sementara hingga keadaan lebih tenang. Sebab nasihat yang disampaikan ketika seseorang sedang dikuasai amarah umumnya sulit diterima.

Setelah suasana membaik, ajaklah istri berbicara dengan cara yang baik. Sampaikan bahwa ucapan tersebut menyakitkan dan tidak membantu menyelesaikan masalah. Terkadang seseorang tidak menyadari dampak dari kata-kata yang keluar dari lisannya sampai ada yang mengingatkannya dengan cara yang lembut.

Di sisi lain, suami juga perlu melakukan muhasabah. Karena tidak jarang sikap yang muncul dari pasangan merupakan reaksi atas masalah yang telah lama dipendam. Bukan berarti membenarkan kesalahan, namun mencari akar masalah sering kali lebih bermanfaat daripada sekadar menyalahkan.

Jangan lupakan doa. Sebab hati manusia berada di tangan Allah Ta’ala. Mintalah kepada-Nya agar Dia memperbaiki keadaan istri, melembutkan hatinya, dan membimbingnya untuk memiliki akhlak yang lebih baik. Berapa banyak masalah rumah tangga yang tidak mampu diselesaikan dengan kekuatan manusia, namun Allah selesaikan melalui doa yang tulus.

Apabila berbagai nasihat telah dilakukan namun tidak membuahkan hasil, syariat memberikan tahapan-tahapan pendidikan dalam rumah tangga sebagaimana yang dijelaskan para ulama ketika membahas nusyuz. Namun langkah tersebut hendaknya ditempuh dengan penuh kebijaksanaan, bertujuan untuk memperbaiki, bukan melampiaskan kemarahan atau membalas dendam.

Semoga Allah Ta’ala memperbaiki keadaan kaum muslimin, menjadikan rumah tangga mereka penuh sakinah, mawaddah, dan rahmah, serta memberikan kemampuan untuk saling menutupi kekurangan dan memperbanyak kesabaran.

Wallahu a’lam.

Referensi: Islam Sual wa Jawab. (2023, 31 Agustus). كيف يتعامل مع بذاءة لسان زوجته؟. https://islamqa.info/ar/answers/437715/كيف-يتعامل-مع-بذاءة-لسان-زوجته

Ditulis Oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd. حفظه الله Alumni Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia (S1) & Manajemen Pendidikan UNY (S2). Pembina di Rumuz for Islamic School Managers, Diniyyah Gistrav Islamia School dan Direktur PP Darussalam Tanjung Telang, dai dari Jogjakarta.
Back to top button