Fawaid Hadist #192| “Rakyat Bukan Musuh, Jangan Diperlakukan Kasar”

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الحَسَنِ البَصْرِيِّ: أَنَّ عَائِذَ بْنَ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُ دَخَلَ عَلَى عُبَيْدِ اللهِ بْنِ زِيَادٍ، فَقَالَ: أَيْ بُنَيَّ، إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «إِنَّ شَرَّ الرِّعَاءِ الحُطَمَةُ»، فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ. فَقَالَ لَهُ: اجْلِسْ فَإِنَّمَا أَنْتَ مِنْ نُخَالَةِ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ ﷺ، فَقَالَ: وَهَلْ كَانَتْ لَهُمْ نُخَالَةٌ؟! إِنَّمَا كَانَتِ النُّخَالَةُ بَعْدَهُمْ وَفِي غَيْرِهِمْ. [رواه مسلم. مسلم (1830/23)]
Dari Abu Sa’id Al-Hasan Al-Bashri: Bahwa ‘Aid bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu masuk menemui ‘Ubaidillah bin Ziyad, lalu berkata:
“Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya seburuk-buruk pemimpin adalah yang keras dan kejam.’_ Maka berhati-hatilah, jangan sampai engkau termasuk mereka.”
‘Ubaidillah menjawab: “Duduklah, sesungguhnya engkau hanyalah sisa-sisa dari para sahabat Muhammad ﷺ.” ‘Aid berkata: “Apakah mereka memiliki sisa-sisa yang buruk? Justru sisa-sisa yang buruk itu muncul setelah mereka dan pada selain mereka.” (HR. Muslim)
Penjelasan Kata Sulit
- «الرِّعَاءُ»*: Jamak dari _ra’i_ = pemimpin, pengurus rakyat.
- «الحُطَمَةُ»*: Pemimpin yang keras, kasar, dan menzalimi rakyat.
- «النُّخَالَةُ»*: Ampas, sesuatu yang buruk dan tidak berguna.
Maksudnya di sini: “Engkau bukan termasuk orang-orang terkemuka di antara mereka.”
Pelajaran Penting dari Hadits ini :
1. Keberanian para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam menyampaikan kebenaran
Mereka berani memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang mungkar, dan menasehati para penguasa baik secara diam-diam maupun terang-terangan sesuai adabnya. Mereka tidak pernah menjilat penguasa dan tidak diam terhadap kemungkaran dalam urusan agama Allah.
Di dalamnya juga ada arahan bagi para ulama rabbani agar wajib menyampaikan kebenaran, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, dan lebih mendahulukan ridha Allah serta ketaatan kepada-Nya daripada mencari ridha manusia. Ini berlaku di setiap waktu dan tempat, baik kepada orang besar maupun kecil, tanpa menjilat siapa pun atau merasa takut terhadap celaan.
2. Menjelaskan Sifat-sifat Pemimpin dan Penguasa yang Buruk
Pemimpin yang paling buruk adalah penguasa yang kejam dan menzalimi rakyatnya.
Ada juga peringatan bagi para penguasa agar bersungguh-sungguh mengusahakan kemaslahatan rakyat, bersikap lembut kepada mereka, berusaha mencegah bahaya kepada mereka, serta tidak menyusahkan mereka dengan ucapan atau perbuatan. Para penguasa juga dilarang lalai terhadap keadaan rakyat dan dilarang bersikap keras serta menyulitkan mereka.
3. Keutamaan Para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum
Mereka semua adalah orang-orang pilihan, para pemimpin umat, dan yang paling utama dibandingkan orang-orang setelah mereka.
[Refrensi utama : Kitab Riyadhus shalihin Wa ma’ahu hasyiyatul Fawaid Hal. 173]
Wallohu a’lam
👤 Ditulis oleh Ustadz : Nurhadi Nugroho hafidzhohulloh