Artikel

Mengapa Umat Islam Sulit Bersatu? Ini Penyebab dan Solusinya

Bismillah…

Di zaman sekarang, komunitas Islam tumbuh di mana-mana. Majelis taklim semakin banyak. Organisasi dakwah terus bermunculan. Grup kajian memenuhi media sosial. Sekilas, ini terlihat menggembirakan.

Namun, mengapa di sisi lain perselisihan juga semakin sering terjadi?

Mengapa masing-masing merasa kelompoknya yang paling benar?

Mengapa sebagian orang lebih mudah membela komunitasnya daripada membela dalil?

Barangkali masalahnya bukan kurangnya semangat berdakwah. Masalahnya adalah kita belum memahami makna jamaah sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ.

Jamaah Bukan Nama Organisasi

Ketika mendengar kata jamaah, sebagian orang langsung membayangkan organisasi tertentu.

Padahal Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan bahwa jamaah adalah nama sebuah yayasan, ormas, atau komunitas.

Jamaah adalah kaum muslimin yang berkumpul di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para sahabat, serta berada di bawah kepemimpinan yang sah dalam perkara yang ma’ruf.

Karena itu, ukuran jamaah bukan banyaknya anggota, bukan besarnya lembaga, dan bukan ramainya pengikut di media sosial.

Ukurannya adalah sejauh mana mereka mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.

Fanatik Kelompok, Penyakit yang Sering Tidak Disadari

Tidak sedikit orang yang awalnya belajar agama dengan niat mencari ridha Allah. Namun perlahan, orientasinya bergeser. Yang dibela bukan lagi dalil.

Tetapi kelompok. Yang dipertahankan bukan lagi kebenaran. Tetapi identitas komunitas.

Akibatnya, jika ada kebaikan datang dari luar kelompoknya, ia sulit menerima.

Sebaliknya, jika kesalahan dilakukan tokohnya sendiri, ia berusaha mencari pembenaran.

Padahal Allah berfirman,

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ﴾

“Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)

Yang diperintahkan adalah bekerja sama di atas kebenaran, bukan bekerja sama membela kesalahan kelompok.

Islam Mengajarkan Kolaborasi, Bukan Persaingan Dakwah

Kadang muncul anggapan bahwa jika dakwah orang lain berkembang, berarti dakwah kita kalah.

Padahal cara berpikir seperti ini tidak dikenal dalam Islam.

Rasulullah ﷺ justru mengajarkan agar kaum muslimin saling menguatkan.

Beliau bersabda,

«المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضًا»

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Lihatlah ketika Masjid Nabawi dibangun.

Rasulullah ﷺ tidak bertanya, “Ini proyek siapa?”

Beliau justru ikut mengangkat batu bersama para sahabat.

Karena tujuan mereka bukan membesarkan nama pribadi.

Tetapi membesarkan agama Allah.

Berbeda Bukan Berarti Bermusuhan

Perbedaan ijtihad sudah ada sejak masa sahabat.

Namun mereka tidak menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk saling menjatuhkan.

Yang tercela adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan.

Lebih sibuk mengkritik sesama dai daripada memperbaiki umat.

Lebih banyak menghabiskan energi membahas kesalahan saudara sendiri daripada menghadapi kerusakan yang jauh lebih besar di tengah masyarakat.

Mari Kembali kepada Tujuan Awal

Tujuan dakwah bukan memperbanyak pengikut.

Bukan memperbesar organisasi.

Bukan memenangkan kelompok.

Tujuannya adalah agar manusia semakin mengenal Allah dan semakin dekat kepada sunnah Rasulullah ﷺ.

Selama tujuan itu sama, seharusnya kaum muslimin lebih mudah bekerja sama dalam setiap kebaikan.

Kita boleh berbeda dalam perkara ijtihadiyah yang dibenarkan syariat. Namun jangan sampai perbedaan itu memutus ukhuwah.

Karena pada akhirnya, yang akan Allah tanyakan bukan, “Kelompokmu apa?”

Tetapi, apakah kita mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya dengan benar.

Semoga Allah menyatukan hati kaum muslimin di atas tauhid dan sunnah, serta menjauhkan kita dari fanatisme golongan yang memecah belah umat. Aamiin.

_____________

Referensi Utama:

Ramadhani, Abdul Malik bin Ahmad. أين الجماعة؟ من هي الجماعة؟. Solo: Al-Lajnah ad-Dā’imah li al-Buḥūṡ al-‘Ilmiyyah, Ma’had al-Imām al-Bukhārī.

Ditulis Oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd. حفظه الله Alumni Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia (S1) & Manajemen Pendidikan UNY (S2). Pembina di Rumuz for Islamic School Managers, Diniyyah Gistrav Islamia School dan Direktur PP Darussalam Tanjung Telang, dai dari Jogjakarta.
Back to top button