ArtikelTafsir

Kisah Turunnya Al-Qur’an #1: Bagaimana Al-Qur’an Diturunkan? 

(Tadabbur QS Az-Zumar: 1, 2)

Para pembaca sekalian yang budiman, di awal surat az Zumar, Allah ta’ala menjelaskan tentang Al Qur’an. Allah berfirman:

{ تَنزِیلُ ٱلۡكِتَـٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ٱلۡعَزِیزِ ٱلۡحَكِیمِ (1) إِنَّاۤ أَنزَلۡنَاۤ إِلَیۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصࣰا لَّهُ ٱلدِّینَ (2) }

“Kitab (Alquran) ini diturunkan dari Allah Yang Maha Mulia, Maha Bijaksana. Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Alquran) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” [QS Az-Zumar: 1-2]

Artikel ringkas ini insya Allah akan membahas tentang Al Quran yang kita ambil dari ayat tersebut. Semoga menambah ilmu kita dan selamat membaca.

KITAB YANG DITURUNKAN

Di awal ayat, Allah menjelaskan tentang Al Qur’an

تَنزِیلُ ٱلۡكِتَـٰبِ

“Kitab yang diturunkan” (QS az Zumar: 1)

Demikianlah Al Qur’an, ia kitab yang diturunkan oleh Allah ta’ala. Al Qur’an bukanlah karangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Al Qur’an bukan pula dibuat-buat oleh malaikat Jibril. Apalagi, Al Qur’an juga bukan bisikan setan seperti tuduhan orang-orang musyrik & kufur dari dulu sampai sekarang. Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

يُخْبِرُ تَعَالَى أَنَّ تَنْزِيلَ هَذَا الْكِتَابِ -وَهُوَ الْقُرْآنُ الْعَظِيمُ-مِنْ عِنْدِهِ، تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَهُوَ الْحَقُّ الذِي لَا مِرْيَةَ فِيهِ وَلَا شَكَّ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِنَّهُ لَتَنزيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ. نزلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ. عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ. بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ﴾ [الشُّعَرَاءِ:١٩٢-١٩٥] .

“Allah ta’ala mengabarkan bahwa diturunkannya kitab ini (yaitu Al-Qur’an yang agung) berasal dari sisi-Nya. Maka Al-Qur’an adalah kebenaran yang tidak ada keraguan dan tidak ada kebimbangan di dalamnya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Ar-Ruhul Amin (Jibril) telah membawanya turun ke dalam hatimu (wahai Muhammad), agar engkau menjadi salah seorang pemberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 192–195)” (Tafsir Ibnu Katsir)

BAGAIMANA DISEBUT KITAB PADAHAL BELUM DITULIS?

Mungkin terbetik pertanyaan, bagaimana Al Qur’an disebut sebuah kitab ketika ia diturunkan, padahal belum ditulis apalagi dibukukan? 

Ada pertanyaan serupa di website islamqa. Secara ringkas ada 3 jawaban:

1- Kitab itu berarti pengumpulan. Mengumpulkan huruf-huruf menjadi kata, kata-kata menjadi kalimat, kalimat-kalimat menjadi ayat dan seterusnya. Hal seperti ini disebut juga “kitab”.

2- Al Qur’an juga kitab dalam arti mengumpulkan kisah, hikmah, perintah & larangan, walaupun belum dibukukan.

3- Kitab juga berarti tulisan walaupun hanya 1 lembar, Al Qur’an sudah ditulis di lauhul Mahfuzh. Demikian juga ketika turun sebagai wahyu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk menuliskannya pada media-media yang ada ketika itu (kulit, pohon, batu dll).

Berikut Kita Terjemahkan Jawabannya Dengan Lebih Rinci:

“Jawabannya dapat dijelaskan dari beberapa sisi:

Pertama: Akar kata (كتب) secara bahasa menunjukkan makna mengumpulkan dan menggabungkan.

Ibnu Faris rahimahullah berkata:

“Huruf kaf, ta, dan ba memiliki satu makna asli, yaitu mengumpulkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dari akar inilah berasal kata kitab dan kitabah (penulisan).” (Maqayis al-Lughah, 5/158).

Dengan demikian, menggabungkan huruf-huruf menjadi satu disebut al-katb (penulisan). Demikian pula menggabungkan kalimat-kalimat, meskipun asal maknanya adalah tulisan di atas lembaran, kata tersebut juga digunakan untuk sesuatu yang tersusun dalam bentuk ucapan sebagai bentuk perluasan makna.

Ar-Raghib al-Ashfahani rahimahullah berkata:

“Al-katb pada asalnya adalah menyambungkan satu kulit dengan kulit lainnya melalui jahitan. Dalam penggunaan umum, ia berarti menyusun huruf-huruf melalui tulisan. Kadang kata AlKatb juga digunakan untuk sesuatu yang tersusun melalui ucapan. Asal makna kitabah adalah penyusunan dengan tulisan, namun masing-masing makna dipinjamkan kepada yang lain. Oleh karena itu, firman Allah dinamakan Kitab, meskipun belum ditulis seluruhnya, sebagaimana firman-Nya: ‘Alif Lam Mim. Itulah Kitab…'” (Al-Mufradat, hlm. 699).

Kedua: Makna “mengumpulkan” yang dimaksud bukan hanya menghimpun tulisan atau lafaz, tetapi juga menghimpun makna, hukum, kisah, pelajaran, dan ayat-ayat yang terkandung di dalam Al-Qur’an. 

Al-Fairuzabadi rahimahullah berkata, “Firman Allah: ‘Alif Lam Mim. Itulah Kitab’ maksudnya adalah Al-Qur’an. Ia dinamakan Kitab karena menghimpun kisah-kisah, perintah, larangan, perumpamaan, syariat, nasihat, atau karena menghimpun tujuan pokok kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi sebelumnya. Segala sesuatu yang menghimpun bagian-bagiannya disebut kitab.” (Basha’ir Dzawit Tamyiz, 4/329).

Al-‘Allamah ath-Thahir Ibnu ‘Asyur rahimahullah berkata, “Adapun kata Kitab, asalnya adalah nama jenis. Dalam penggunaannya, kata itu sering dipakai untuk Al-Qur’an, seperti firman Allah: ‘Itulah Kitab yang tidak ada keraguan padanya’ (Al-Baqarah: 2), dan firman-Nya: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab kepada hamba-Nya’ (Al-Kahfi: 1).

Al-Qur’an dinamakan Kitab karena Allah menjadikannya sebagai kumpulan syariat, sehingga menyerupai Taurat yang memang telah tertulis pada masa nabi yang membawanya. Demikian pula Injil, meskipun belum ditulis pada masa Nabi Isa, kemudian ditulis oleh para pengikutnya. 

Allah juga memerintahkan Rasul-Nya agar menuliskan semua wahyu yang diturunkan kepadanya sebagai hujjah bagi orang-orang yang masuk Islam setelahnya.

Penamaan ini juga merupakan salah satu mukjizat Rasulullah ﷺ, yaitu bahwa wahyu yang diturunkan kepadanya kelak akan dihimpun dalam mushaf.

Oleh sebab itu, sejak awal turunnya wahyu, Nabi ﷺ telah mengangkat para penulis wahyu, di antaranya Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh, Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, Zaid bin Tsabit, dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu anhum. Ketika Abu Bakar memerintahkan pengumpulan mushaf, seluruh hafalan kaum muslimin ternyata sesuai dengan apa yang telah ditulis.” (At-Tahrir wat Tanwir, 1/73).

Ketiga: Penamaan Al-Qur’an sebagai Kitab ditinjau dari kenyataan bahwa sebagian darinya telah ditulis. Begitu sebagian wahyu telah dituliskan pada lembaran, ia sudah dapat disebut sebagai kitab. Sebagaimana surat yang dikirim kepada para raja disebut “kitab”, meskipun hanya terdiri dari 1 lembar. Al-Qur’an pun ditulis setiap kali turun wahyu, dan Nabi ﷺ telah memiliki para penulis wahyu.

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah berkata:

“Tidak menjadi masalah apabila seluruh Al-Qur’an belum ada ketika ayat ini turun, karena cukup sebagian darinya telah ada. Sebelum awal Surah Al-Baqarah turun, telah turun bagian yang banyak dari Al-Qur’an, dan Nabi ﷺ telah memerintahkan agar semuanya ditulis dan dihafal.

Bahkan, cukup jika isyarat itu ditujukan kepada Surah Al-Baqarah sendiri, karena padanya terdapat sifat ‘petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa’, meskipun pendapat pertama lebih kuat.

Isyarat kepada seluruh Al-Qur’an ketika baru sebagian darinya turun merupakan kabar bahwa Allah pasti akan menyempurnakan kitab ini seluruhnya. Hikmah penyebutannya sebagai Kitab (sesuatu yang ditulis) adalah karena Nabi ﷺ memerintahkan agar hanya Al-Qur’an yang ditulis secara khusus.

Tidak mengapa jika saat itu seluruhnya belum selesai ditulis, sebagaimana seseorang berkata: ‘Aku sedang mendiktekan sebuah kitab,’ padahal kitab itu belum selesai ditulis.” (Tafsir al-Manar, 1/104). Wallahu a’lam.

= Selesai penerjemahan dari web islamqa, link: https://islamqa.info/ar/answers/269054/%D9%85%D8%A7-%D9%87%D9%88-%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%AA%D8%A7%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%B0%D9%8A-%D9%82%D8%B5%D8%AF%D9%87-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%AA%D8%B9%D8%A7%D9%84%D9%89-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%88%D9%84-%D8%B3%D9%88%D8%B1%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%A8%D9%82%D8%B1%D8%A9

Bersambung bagian #2

Ditulis oleh Ustadz Amrullah Akadhinta, S.T.

Ustadz Amrullah Akadhinta ST

Beliau adalah Alumni S1 Teknik Sipil UGM, Alumni Ma'had Al-'Ilmi, | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial sebagai Pengasuh Twitulama. Ketua Yayasan Bimbingan Islam. Sekretaris KIPMI. Pembina Yayasan Muslim Merapi
Back to top button