Artikel

Bagaimana Cara Mengenal Allah dengan Benar?

Bismillah walhamdulillah, was-shalaatu was-salaamu ‘ala Rasulillah.

Mengenal Allah (Ma’rifatullah) adalah ilmu yang paling mulia, karena kemuliaan suatu ilmu bergantung pada subjek yang dipelajari. Mengingat subjeknya adalah Allah Sang Pencipta, maka ilmu ini merupakan pondasi utama dari keimanan.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya Al-Fawa’id menjelaskan bahwa pengenalan kepada Allah itu tidaklah satu derajat, melainkan terbagi menjadi dua tingkatan:

Pertama, Ma’rifat Ikrar (Pengakuan Umum)

Tingkatan pertama adalah sekadar mengakui keberadaan Allah sebagai Pencipta, Pemberi Rezeki, dan Pengatur Alam Semesta. Makrifat jenis ini dimiliki oleh hampir seluruh manusia, baik orang yang taat maupun pelaku maksiat.

Bahkan, kaum musyrikin di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memiliki tingkatan ini. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka menjawab: ‘Allah’.” (QS. Az-Zumar: 38)

Meskipun mereka tahu Allah adalah Pencipta, pengetahuan ini tidak membuahkan ketundukan (ibadah) yang murni kepada-Nya. Maka, sekadar “tahu” saja tidaklah cukup untuk menyelamatkan seseorang di akhirat.

Kedua, Ma’rifat Khusus (Ma’rifat yang Membuahkan Malu dan Cinta)

Tingkatan kedua inilah yang menjadi pembeda antara mukmin yang sejati dengan yang lainnya. Inilah makrifat yang merasuk ke dalam hati dan mempengaruhi perilaku. Ciri-ciri seseorang telah mencapai tingkatan ini adalah:

  • Timbul rasa malu (Haya’) kepada Allah.
  • Adanya rasa cinta (Mahabbah) yang mendalam.
  • Hati senantiasa terpaut dan rindu kepada-Nya.
  • Merasa tenang (Uns) saat ber-khalwat (menyendiri) dengan Allah.
  • Selalu kembali (bertaubat) kepada-Nya dalam setiap keadaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hamba yang paling mengenal Allah, pernah bersabda dalam doanya:

لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Aku tidak mampu menghitung pujian untuk-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.” (HR. Muslim)

Bagaimana Cara Meraih Ma’rifat yang Hakiki?

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa untuk sampai pada tingkatan ma’rifat yang kedua, seseorang harus melewati dua pintu utama:

Pertama: Tadabbur Ayat-Ayat Syar’iyyah (Al-Qur’an)

Membaca Al-Qur’an dengan merenungi makna-maknanya. Di dalamnya, Allah memperkenalkan Diri-Nya melalui Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya yang agung.

Contohnya saat membaca ayat tentang ampunan Allah, hati menjadi penuh harap (Raja’). Saat membaca tentang pedihnya azab-Nya, hati dipenuhi rasa takut (Khauf).

Kedua: Tadabbur Ayat-Ayat Kauniyyah (Alam Semesta)

Memperhatikan keteraturan alam semesta, luasnya langit, dan rumitnya penciptaan manusia. Allah berfirman:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.” (QS. Fushshilat: 53)

Kunci utama dari ma’rifatullah adalah memahami makna dari Asma’ul Husna (nama-nama Allah yang indah dan maha sempurna) dan mengamalkan makna dibaliknya. Misalnya seorang hamba yang memahami bahwa Allah itu Al-Bashir (Maha Melihat) akan malu untuk bermaksiat. Hamba yang mengenal Allah itu Al-Lathif (Maha Lembut) akan tenang menghadapi ujian takdir.

Ilmu ini adalah karunia besar. Maka hendaknya kita senantiasa berdoa agar Allah membukakan pintu hati kita untuk mengenal-Nya lebih dalam, karena itulah puncak kebahagiaan seorang hamba di dunia.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi: Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, A.M. (1440H/2019M). Al-Fawaid. Maktabah Shamela. https://shamela.ws/book/212

Ditulis oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

Back to top button