Artikel

Sederhana Untuk Menjadi “Raja Dunia”

Bismillah, was-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du.

Saudaraku yang dimuliakan Allah, kalau ada orang yang bertanya kepada kita,

“Siapa manusia paling bahagia di dunia ini?” 

Kira-Kira Apa Jawaban Kita?

Mungkin bayangan kita langsung tertuju pada para konglomerat yang punya tabungan triliunan, artis terkenal yang asetnya di mana-mana, atau pejabat yang fasilitas hidupnya serba mewah. Kita sering kali menyangka bahwa kebahagiaan dan kesuksesan hidup itu baru sah kalau angkanya sudah fantastis dan penampilannya mentereng.

Padahal, dalam Islam, rumus kebahagiaan itu luar biasa indahnya. Sangat sederhana, murah, dan bisa dimiliki oleh siapa saja bahkan oleh orang yang paling biasa sekalipun.

Mari kita tadaburi sebuah sabda yang sangat menyentuh hati dari Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Siapa di antara kalian yang di pagi hari berada dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan seisinya telah dikumpulkan untuknya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dishahihkan Al-Albani).

Subhanallah…

Coba perhatikan baik-baik hadis ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamakan orang yang punya tiga fasilitas ini seperti orang yang menguasai seluruh dunia. Istilahnya, dia sudah jadi “Raja Dunia”.

Apa saja tiga modal utama untuk bahagia dan bersyukur itu? Mari kita bedah satu per satu secara ringkas:

1. Rasa Aman (Aaminan fi Sirbihi)

Nabi menyebutkan hal yang pertama kali adalah rasa aman di tempat tinggalnya (atau pada diri dan keluarganya).

Kenapa Aman Ditaruh Di Nomor Satu?

Karena rasa aman adalah payung dari segala kenikmatan dunia.

Bayangkan, Anda punya makanan paling enak di meja makan, tapi di luar rumah sedang terjadi desingan peluru perang atau kerusuhan.

Apakah Anda Bisa Menikmati Makanan Itu?

Jawabannya: tidak akan bisa.

Maka, ketika kita bangun pagi, rumah kita tidak kebanjiran, tidak ada perang, anak istri bisa tidur dengan tenang, ketahuilah itu adalah miliaran rupiah yang Allah berikan gratis hari itu. Sayangnya, karena nikmat aman ini kita rasakan setiap hari, kita sering menganggapnya sebagai hal yang “biasa saja”, sampai akhirnya ketika nikmat itu dicabut barulah sadar tentang mahalnya rasa aman.

2. Kesehatan Badan (Mu’afan fi Jasadihi)

Modal kedua adalah kesehatan fisik. Tubuh kita terbebas dari penyakit-penyakit yang membuat kita tidak bisa beraktivitas.

Sehat itu tidak harus punya otot kekar seperti binaragawan. Cukup ketika Anda bangun pagi: mata bisa melihat dengan jelas, jantung memompa dengan normal, kaki bisa melangkah ke masjid, dan organ tubuh berfungsi baik, itu sudah kemewahan yang luar biasa. Orang yang sakit kronis di rumah sakit, andai punya uang bermiliar-miliar, mereka rela menukarkan semua uangnya hanya untuk bisa merasakan nikmatnya bernapas dan tidur senyaman yang kita rasakan saat ini.

3. Punya Makanan Untuk Hari Itu (‘Indahu Qutu Yaumihi)

Nah, poin ketiga ini yang paling menampar standar gengsi kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan:

“Siapa yang punya tabungan untuk 5 tahun ke depan,” 

atau…

“Siapa yang punya pasif income ratusan juta.” 

Tidak.

Beliau hanya mengatakan: punya makanan untuk hari itu. Untuk hari itu saja!

Artinya, kalau pagi ini di dapur Anda ada beras yang bisa dimasak, ada lauk yang bisa dimakan untuk sarapan, siang, dan malam nanti, Anda sudah masuk kualifikasi “Raja Dunia”. Anda tidak perlu pusing memikirkan kelaparan hari ini. Berapa banyak dari kita yang tabungannya cukup untuk makan berbulan-bulan tapi hatinya masih diliputi kecemasan luar biasa seolah-olah besok akan jatuh miskin? Hadis ini mengajarkan kita untuk memangkas kecemasan esok hari yang belum tentu kita datangi.

Memperbaiki Kesadaran Syukur

Saudaraku, Syaikh al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi (Jilid 7, hal. 11) menjelaskan makna “seolah-olah dunia dikumpulkan untuknya” maksudnya adalah orang yang mendapatkan tiga hal ini telah mendapatkan semua nikmat dunia yang paling pokok. Selebihnya itu hanyalah bonus atau hiasan saja.

Pesan dari tulisan ini adalah: Mari kita turunkan standar kemewahan hidup kita agar kita tidak lelah mengejar dunia yang tak pernah memuaskan dan lupa cara bersyukur.

Kalau hari ini Anda bangun dalam kondisi aman, badan sehat wal afiat, dan ada makanan yang bisa disantap, demi Allah Anda adalah orang kaya. Segera ambil air wudhu, sujud kepada Allah, dan katakan dengan ikhlas, “Alhamdulillah.” Jangan sampai kita menjadi hamba yang baru menyadari mahalnya nikmat sehat dan aman setelah keduanya sirna dari kehidupan kita.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd. حفظه الله Alumni Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia (S1) & Manajemen Pendidikan UNY (S2). Pembina di Rumuz for Islamic School Managers, Diniyyah Gistrav Islamia School dan Direktur PP Darussalam Tanjung Telang, dai dari Jogjakarta.
Back to top button