
Allah ta’ala menurunkan Al Quran kepada hamba-hambaNya untuk memberi petunjuk agar mereka bisa kembali ke akhirat dengan selamat dan mereka bisa menjalani kehidupan di dunia dengan sebaik-baiknya. Selain itu, ternyata Al Quran juga merupakan penyembuh penyakit yang datang pada manusia.
Hal ini sebagaimana Allah firmankan:
{ وَلَوۡ جَعَلۡنَـٰهُ قُرۡءَانًا أَعۡجَمِیࣰّا لَّقَالُوا۟ لَوۡلَا فُصِّلَتۡ ءَایَـٰتُهُ ۥۤۖ ءَا۬عۡجَمِیࣱّ وَعَرَبِیࣱّۗ قُلۡ هُوَ لِلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ هُدࣰى وَشِفَاۤءࣱۚ وَٱلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ فِیۤ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرࣱ وَهُوَ عَلَیۡهِمۡ عَمًىۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ یُنَادَوۡنَ مِن مَّكَانِۭ بَعِیدࣲ }
“Dan sekiranya Al Qur’an Kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab niscaya mereka mengatakan, Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah patut (Alquran) dalam bahasa selain bahasa Arab sedang (rasul), orang Arab? Katakanlah, Alquran adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Alquran) itu merupakan kegelapan bagi mereka. Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.” [QS Fuṣṣilat: 44]
InsyaAllah kita akan membahas makna ayat ini dengan ringkas di artikel berikut.
AL QURAN DALAM BAHASA ARAB
Dengan hikmahNya, Allah turunkan Al Qur’an dalam bahasa Arab kepada seorang Nabi yang berbahasa Arab, di tengah-tengah satu kaum yang berbahasa Arab. Akan sangat tidak pas jika Allah turunkan Al Qur’an berbahasa non Arab padahal nabi yang membawanya dan kaumnya berbahasa Arab. Karenanya Allah ta’ala berfirman:
Allah ta’ala berfirman
وَلَوۡ جَعَلۡنَـٰهُ قُرۡءَانًا أَعۡجَمِیࣰّا لَّقَالُوا۟ لَوۡلَا فُصِّلَتۡ ءَایَـٰتُهُۥۤۖ ءَا۬عۡجَمِیࣱّ وَعَرَبِیࣱّۗ
“Dan sekiranya Al-quran Kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab niscaya mereka mengatakan, Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah patut (Alquran) dalam bahasa selain bahasa Arab sedang (rasul), orang Arab?” (QS Fushilat: 44)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
وَكَذَلِكَ لَوْ أُنْزِلَ الْقُرْآنُ كُلُّهُ بِلُغَةِ الْعَجَمِ، لَقَالُوا عَلَى وَجْهِ التَّعَنُّتِ وَالْعِنَادِ: ﴿لَوْلا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ﴾ أَيْ: لَقَالُوا: هَلَّا أُنْزِلَ مُفَصَّلًا بِلُغَةِ الْعَرَبِ، وَلَأَنْكَرُوا ذَلِكَ وَقَالُوا: أَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ؟ أَيْ: كَيْفَ يَنْزِلُ كَلَامٌ أَعْجَمِيٌّ عَلَى مُخَاطَبٍ عَرَبِيٍّ لَا يَفْهَمُهُ. هَكَذَا رُوي هَذَا الْمَعْنَى عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَمُجَاهِدٍ، وَعِكْرِمَةَ، وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، وَالسُّدِّيِّ، وَغَيْرِهِمْ.
“Demikian pula, seandainya Al-Qur’an seluruhnya diturunkan dengan bahasa non-Arab, niscaya mereka akan berkata (karena sikap membangkang dan keras kepala):
‘Mengapa ayat-ayatnya tidak dijelaskan dengan rinci? Apakah (patut Al-Qur’an) berbahasa asing sedangkan (rasul dan kaum yang diajak bicara) berbahasa Arab?’
Maksudnya, mereka akan berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan secara jelas dalam bahasa Arab?’ Mereka akan mengingkarinya dan berkata: ‘Ini Bahasa asing, sementara yang diajak bicara orang Arab?’ Yakni, bagaimana mungkin perkataan berbahasa asing diturunkan kepada orang yang berbahasa Arab dan tidak memahaminya?!
Makna seperti ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, As-Suddi, dan selain mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir)
ADAKAH AL QURAN YANG BUKAN BAHASA ARAB?
Dalam sebuah artikel di web islamqa.info disebutkan sebuah kesimpulan yang ringkasnya sebagai berikut:
- Para ulama sepakat, bahwa tidak ada susunan kalimat yang bukan bahasa Arab dalam Al Qur’an.
- Para ulama juga sepakat bahwa dalam Al Qur’an ada Nama-Nama yang berasal dari bahasa Non-Arab seperti: Nuh, Luth, Israil, Jibril dll.
- Para ulama berbeda pendapat apakah ada kata-kata tertentu dalam Al Qur’an yang berasal dari kata non-Arab. Ada 3 pendapat tentang hal ini yang akan kita sampaikan nanti, insya Allah.
قال القرطبي – رحمه الله – في ” مقدمة تفسيره ” : لا خلاف بين الأئمة أنه ليس في القرآن كلام مركب على أساليب غير العرب ، وأن في القرآن أسماء أعلاماً لمن لسانه غير لسان العرب كإسرائيل وجبريل وعمران ونوح ولوط . ” تفسير القرطبي ” ( 1 / 68 ) .
Al-Qurthubi rahimahullah dalam muqaddimah tafsirnya:
“Tidak ada perselisihan di antara para imam bahwa di dalam Al-Qur’an tidak terdapat susunan kalimat yang dibangun di atas gaya bahasa selain bahasa Arab. Dan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat nama-nama asing bagi orang-orang yang lisannya bukan bahasa Arab, seperti Izrail, Jibril, ‘Imran, Nuh, dan Luth.” (Tafsir Al-Qurthubi 1/68).
Kemudian disebutkan:
واختلفوا : هل فيه ” ألفاظ أعجمية مفردة ” ؟ . فذهب الجمهور إلى عدم وجود ألفاظ أعجمية في القرآن ، وذهب آخرون إلى وجودها ، وتوسط طرف ثالث فتأول وجودها على أنها مشتركة بين العرب وغيرهم ، وعلى أن العرب استعملوها وعرَّبوها فصارت تنسب إليهم ، لا باعتبار أصلها ، بل باعتبار استعمالها وتعريبها.
“Kemudian mereka berselisih pendapat: apakah di dalam Al-Qur’an terdapat “lafaz-lafaz asing (a‘jamiyah) secara tunggal”? Mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak ada lafaz asing dalam Al-Qur’an. Sebagian ulama berpendapat bahwa memang ada lafaz asing di dalamnya.
Kelompok ketiga mengambil jalan tengah, yaitu menafsirkan keberadaan lafaz tersebut sebagai kata-kata yang dipakai bersama oleh bangsa Arab dan selain mereka, atau bahwa orang Arab telah menggunakannya dan mengarabkannya, sehingga kata-kata itu dinisbatkan kepada bahasa Arab; bukan ditinjau dari asal-usulnya, tetapi dari sisi pemakaian dan proses pengarabannya.”
Wallohu a’lam,
Bersambung ke bagian #2
Ditulis oleh ustadz : Amrullah Akadhinta, S.T.
Referensi: https://islamqa.info/ar/answers/70504/%D9%87%D9%84-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D9%82%D8%B1%D8%A7%D9%86-%D8%A7%D9%84%D9%81%D8%A7%D8%B8-%D8