ArtikelKeluarga

Suami Ketahuan Selingkuh: Apa Yang Harus Istri Lakukan Menurut Islam?

Pertanyaan: Ada seorang wanita LC hamil dan mengklaim bahwa itu anak suami saya apakah saya dan suami harus mempercayai? Sedangkan untuk tes DNA kami nggak ada uang, apa yang harus saya lakukan? dan kali ini suami minta maaf atas perbuatannya, apakah saya juga harus memaafkannya? Apakah saya berdosa jika saya bertahan hanya demi anak?

Jawaban: Bismillah wassholatu wassalamu ala rasulillah, amma ba’du.

Menghadapi Perselingkuhan Suami dan Pengakuan Kehamilan dari Wanita Lain

Pertama, semoga Allah menguatkan hati ibu, mengangkat kesedihan yang sedang dirasakan, dan memberikan jalan keluar yang terbaik bagi keluarga ibu.

Apa yang ibu alami adalah ujian yang berat. Perselingkuhan saja sudah menyakitkan, apalagi ditambah dengan adanya pengakuan bahwa wanita tersebut hamil dan mengklaim bahwa anak yang dikandungnya adalah anak suami ibu. Wajar jika ibu merasa bingung, marah, sedih, kecewa, bahkan sulit mempercayai siapa pun.

Apakah Harus Mempercayai Pengakuan Tersebut?

Pada asalnya, sebuah pengakuan semata belum tentu cukup untuk memastikan nasab seorang anak kepada seseorang. Terlebih jika tidak ada bukti yang jelas.

Karena itu, jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan pasti bahwa anak tersebut memang anak suami ibu atau sebaliknya memastikan bahwa itu bukan anaknya. Dalam kondisi seperti ini, yang diperlukan adalah kehati-hatian dan kejujuran dari semua pihak.

Jika saat ini belum memungkinkan melakukan tes DNA karena keterbatasan biaya, maka tidak perlu memaksakan diri. Fokuslah terlebih dahulu pada penyelesaian masalah rumah tangga dan mencari kejelasan informasi semampunya.

Suami Sudah Meminta Maaf, Haruskah Dimaafkan?

Memaafkan adalah perbuatan yang mulia. Allah berfirman:

‎وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Dan memaafkan itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Baqarah: 237).

Namun memaafkan tidak berarti ibu harus langsung melupakan semuanya atau berpura-pura bahwa luka itu tidak ada.

Jika suami benar-benar bertaubat: mengakui kesalahannya, memutus hubungan dengan wanita tersebut, menyesali perbuatannya, dan berusaha memperbaiki diri, maka membuka pintu maaf adalah sesuatu yang baik.

Tetapi jika permintaan maaf hanya sebatas ucapan sementara perselingkuhan masih berlanjut, maka yang dibutuhkan bukan sekadar kata-kata, melainkan bukti taubat dan perubahan nyata.

Apakah Berdosa Bertahan Demi Anak?

Tidak, insya Allah ibu tidak berdosa jika memilih bertahan demi anak-anak, selama kehidupan rumah tangga tersebut masih memungkinkan dipertahankan dan tidak menimbulkan mudharat yang lebih besar.

Bahkan dalam banyak kasus, memperbaiki rumah tangga dan menjaga keutuhan keluarga merupakan tujuan yang baik apabila masih ada peluang perbaikan.

Namun jangan sampai seluruh beban dipikul sendirian. Suami juga harus menunjukkan kesungguhan untuk memperbaiki keadaan.

Nasehat Untuk Ibu (Istri yang terzholimi)

Saat ini, jangan terburu-buru mengambil keputusan ketika emosi masih sangat kuat.

Perbanyaklah: shalat, istighfar, membaca Al-Qur’an, dan berdoa di waktu-waktu mustajab. Mintalah kepada Allah agar diberikan keputusan yang paling baik.

Allah berfirman:

‎وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).

Jika memungkinkan, libatkan pihak keluarga yang bijak, tokoh agama yang dipercaya, atau mediator yang dapat membantu melihat masalah ini secara lebih objektif.

Semoga Allah memperbaiki keadaan suami ibu, menjaga anak-anak, menguatkan hati ibu dalam menghadapi ujian ini, dan memberikan keputusan yang paling membawa kebaikan bagi agama, keluarga, dan masa depan ibu. 

Wallahu a’lam.

Dijawab ringkas oleh Ustadz Muhammad Fikri Al-Hilabi, S.Ag., M.Ag.

Back to top button