ArtikelTafsir

Ramadhan: Antara Tilawah dan “Tadabbur” yang Disalahpahami

Setiap kali Ramadhan tiba, semangat kaum muslimin untuk kembali kepada Al-Qur’an semakin besar. Namun di tengah semangat itu, muncul satu fenomena: sebagian penceramah terlalu menekankan pentingnya tadabbur (merenungi Al-Qur’an), bahkan seakan-akan meremehkan sekadar membaca tanpa tadabbur.

Mereka menggambarkan bahwa orang yang “mentadabburi” Al-Qur’an lebih tinggi kedudukannya daripada orang yang hanya membaca. Sekilas terdengar indah. Namun jika tidak dipahami dengan benar, hal ini bisa menimbulkan salah arah dalam beribadah.

Tulisan ini bukan untuk meremehkan tadabbur, tetapi untuk meluruskan cara penyampaian kepada masyarakat umum, khususnya di bulan Ramadhan.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa termasuk tipu daya setan adalah ketika ada orang yang mengangkat satu amalan, tetapi dengan cara yang justru melemahkan amalan lain yang sangat besar pahalanya.

Tadabbur yang benar bukan sekadar lintasan pikiran atau kesan pribadi saat membaca ayat. Tadabbur yang disebut dalam nash adalah perenungan yang lahir dari pemahaman tafsir, penguasaan ilmu alat, dan dasar ilmu syar’i. Tidak semua orang mampu langsung sampai ke tingkat itu.

Adapun yang sering disebut “tadabbur” di masa kini, kadang hanya berupa perasaan sesaat atau tafsir pribadi yang tidak berdasar. Jika hal seperti ini terus-menerus ditekankan kepada orang awam, akibatnya bisa berbahaya:

  • Orang menjadi berat membaca karena merasa “belum bisa tadabbur”.
  • Semangat tilawah berkurang.
  • Pahala besar dari membaca Al-Qur’an justru ditinggalkan.

Padahal Nabi ﷺ bersabda:

«من قرأ حرفًا من كتاب الله فله به حسنة، والحسنة بعشر أمثالها، لا أقول ألم حرف، ولكن ألف حرف، ولام حرف، وميم حرف»

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘Alif Lām Mīm’ satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lām satu huruf, dan Mīm satu huruf.” (HR. Tirmidzi) 

Hadits ini menunjukkan bahwa pahala besar itu digantungkan pada sekadar membaca, bukan disyaratkan harus mencapai tingkat tadabbur yang dalam.

Di bulan Ramadhan, yang utama bagi kebanyakan orang adalah memperbanyak tilawah. Membaca dengan tartil, memperbaiki tajwid, menjaga adab, dan berusaha memahami sesuai kemampuan.

Jika mampu belajar tafsir dan memperdalam makna, itu tentu lebih baik. Namun jangan sampai semangat membaca menjadi lemah karena merasa belum “mendalam”.

Catatan penting: pembahasan ini terkait dengan cara membimbing masyarakat umum, bukan berarti tadabbur tidak utama. Bagi penuntut ilmu yang telah memiliki bekal, tentu memperdalam makna Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar. Namun untuk kebanyakan kaum muslimin, memperbanyak tilawah di Ramadhan adalah pintu kebaikan yang sangat luas.

Penutup

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Jangan sampai kita kehilangan pahala besar hanya karena terpengaruh narasi yang kurang tepat.

Bacalah Al-Qur’an sebanyak-banyaknya. Tartilkan. Hayati sesuai kemampuan. Pelajari tafsir sedikit demi sedikit. Gabungkan antara kuantitas dan kualitas sesuai keadaan diri.

Yang terpenting adalah keikhlasan dan kesungguhan, bukan istilah-istilah yang terdengar tinggi namun belum tentu kita pahami hakikatnya.

Wallahu a‘lam.

Ditulis oleh Ustadz Nurhadi Nugroho, Hafidzhohulloh

Back to top button