ArtikelTafsir

Doa Sapu Jagad #Bagian 2 – Tadabbur QS Al Baqarah: 200-202

Doa Pecinta Dunia

Kemudian Allah ta’ala menjelaskan doa sebagian manusia yang keliru, doa yang hanya mementingkan urusan dunia semata. Allah berfirman:

 فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن یَقُولُ رَبَّنَاۤ ءَاتِنَا فِی ٱلدُّنۡیَا وَمَا لَهُۥ فِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ مِنۡ خَلَـٰقࣲ (200) 

“Maka di antara manusia ada orang berdoa, Ya Tuhan Kami, berilah kami (kebaikan) di dunia, dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun”. (QS. Al Baqarah: 200)

As Sa’di rahimahullah berkata tentang ayat ini:

ثم أخبر تعالى عن أحوال الخلق، وأن الجميع يسألونه مطالبهم، ويستدفعونه ما يضرهم، ولكن مقاصدهم تختلف، فمنهم: ﴿مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا﴾ أي: يسأله من مطالب الدنيا ما هو من شهواته، وليس له في الآخرة من نصيب، لرغبته عنها، وقصر همته على الدنيا،

“Kemudian Allah Ta‘ala mengabarkan tentang keadaan manusia, bahwa seluruh makhluk meminta kebutuhan kepada-Nya dan memohon agar dijauhkan dari hal-hal yang membahayakan mereka. Namun tujuan mereka berbeda-beda. Di antara mereka ada yang berkata:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا

“Wahai Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,”

Ia hanya meminta padaNya perkara-perkara dunia yang berkaitan dengan syahwatnya. Ia tidak mendapat bagian di akhirat, karena ia tidak menginginkannya dan cita-citanya terbatas hanya pada dunia.” (Tafsir as Sa’di)

Doa tersebut bukan hanya lahir dari lisan, namun begitulah kondisi hati orang tersebut. Ia begitu cinta dengan dunia, sehingga doanya pun hanya urusan dunia dan melupakan akhirat. 

Hati yang terpaut dengan dunia sebenarnya akan membawa keburukan, sebagaimana hati yang terpaut dengan akhirat akan membawa kebaikan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

من كانتِ الآخرةُ هَمَّهُ جعلَ اللَّهُ غناهُ في قلبِهِ وجمعَ لَه شملَهُ وأتتهُ الدُّنيا وَهيَ راغمةٌ ، ومن كانتِ الدُّنيا همَّهُ جعلَ اللَّهُ فقرَهُ بينَ عينيهِ وفرَّقَ عليهِ شملَهُ ، ولم يأتِهِ منَ الدُّنيا إلَّا ما قُدِّرَ لَهُ

“Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, Allah akan menjadikan kecukupan (kekayaan) di dalam hatinya, mengumpulkan urusannya (menyatukan perhatiannya), dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.

Dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan menjadikan kefakiran selalu ada di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan tidaklah ia memperoleh dunia kecuali apa yang telah ditakdirkan baginya.” (HR at Tirmidzi)

Doa Yang Allah Ajarkan

Kemudian Allah berfirman, mengajarkan doa yang terbaik untuk hamba-hambaNya. 

وَمِنۡهُم مَّن یَقُولُ رَبَّنَاۤ ءَاتِنَا فِی ٱلدُّنۡیَا حَسَنَةࣰ وَفِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ حَسَنَةࣰ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka”. (QS Al Baqarah: 201)

Inilah doa terbaik, bukan hanya meminta urusan dunia, namun meminta juga kebaikan urusan akhirat. Karena baiknya urusan dunia yang tidak diiringi baiknya urusan akhirat tak ada artinya apa-apa. 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

فَجَمَعَتْ هَذِهِ الدعوةُ كلَّ خَيْرٍ فِي الدُّنْيَا، وصرَفت كُلَّ شَرٍّ فَإِنَّ الْحَسَنَةَ فِي الدُّنْيَا تشملُ كُلَّ مَطْلُوبٍ دُنْيَوِيٍّ، مِنْ عَافِيَةٍ، وَدَارٍ رَحْبَةٍ، وَزَوْجَةٍ حَسَنَةٍ، وَرِزْقٍ وَاسِعٍ، وَعِلْمٍ نَافِعٍ، وَعَمَلٍ صَالِحٍ، وَمَرْكَبٍ هَنِيءٍ، وَثَنَاءٍ جَمِيلٍ، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ عباراتُ الْمُفَسِّرِينَ، وَلَا مُنَافَاةَ بَيْنَهَا، فَإِنَّهَا كُلَّهَا مُنْدَرِجَةٌ فِي الْحَسَنَةِ فِي الدُّنْيَا. وَأَمَّا الْحَسَنَةُ فِي الْآخِرَةِ فَأَعْلَى ذَلِكَ دُخُولُ الْجَنَّةِ وَتَوَابِعُهُ مِنَ الْأَمْنِ  مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ فِي العَرَصات، وَتَيْسِيرِ الْحِسَابِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أُمُورِ الْآخِرَةِ الصَالِحٍةِ، وَأَمَّا النَّجَاةُ مِنَ النَّارِ فَهُوَ يَقْتَضِي تَيْسِيرَ أَسْبَابِهِ فِي الدُّنْيَا، مِنَ اجْتِنَابِ الْمَحَارِمِ وَالْآثَامِ وَتَرْكِ الشُّبَهَاتِ وَالْحَرَامِ  .

وَقَالَ الْقَاسِمُ بْنُ  عَبْدِ الرَّحْمَنِ: مَنْ أُعْطِيَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَجَسَدًا صَابِرًا، فَقَدْ أُوتِيَ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَوُقِيَ عَذَابَ النَّارِ.

“Doa ini menghimpun seluruh kebaikan di dunia dan menolak seluruh keburukan. Kebaikan di dunia mencakup setiap hal duniawi yang diinginkan, berupa kesehatan, tempat tinggal yang lapang, pasangan yang baik, rezeki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal saleh, kendaraan yang nyaman, pujian yang baik, dan berbagai hal yang disebutkan oleh para ahli tafsir. Tak ada pertentangan di antara penafsiran-penafsiran tersebut, karena semuanya tercakup dalam makna kebaikan di dunia.

Adapun kebaikan di akhirat, maka yang paling tinggi adalah masuk ke dalam surga beserta kebaikan lainnya, seperti rasa aman dari ketakutan besar pada hari dikumpulkannya manusia (di padang mahsyar), kemudahan hisab, dan selain itu dari berbagai urusan akhirat yang baik.

Sedangkan keselamatan dari neraka, maka hal itu berarti juga dimudahkannya sebab-sebabnya di dunia, berupa menjauhi perkara-perkara yang haram dan dosa-dosa, meninggalkan perkara syubhat dan yang haram.

Al-Qasim bin ‘Abdurrahman berkata:

“Barang siapa dianugerahi hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir, dan jasad yang sabar, maka sungguh ia telah diberi kebaikan di dunia dan akhirat, serta dilindungi dari azab neraka.” (Tafsir Ibnu Katsir)

MEREKALAH YANG MENDAPAT BALASANNYA

Allah ta’ala berfirman 

أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمۡ نَصِیبࣱ مِّمَّا كَسَبُوا۟ۚ وَٱللَّهُ سَرِیعُ ٱلۡحِسَابِ 

“Mereka itulah orang yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah Maha Cepat perhitungan-Nya”. (QS. Al Baqarah: 202)

Siapa Mereka Yang Mendapat Balasan Tersebut. Al Qurthubi Rahimahullah Menyebutkan 3 Tafsiran Tentang Mereka.

Pertama, yang dimaksud mereka adalah orang-orang beriman yang meminta kebaikan dunia & akhirat pada Allah. Mereka kan dapatkan balasannya.

Kedua, yang dimaksud mereka adalah orang-orang musyrik yang hanya meminta dunia pada Allah, mereka hanya akan mendapatkan dunia.

Ketiga, yang dimaksud mereka adalah orang-orang yang mengerjakan haji dalam rangka menggantikan orang lain (badal haji). Pembadal ini juga akan mendapatkan pahalanya.

Berikut perkataan beliau rahimahullah:

﴿أُولئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا﴾ هَذَا يَرْجِعُ إِلَى الْفَرِيقِ الثَّانِي فَرِيقِ الْإِسْلَامِ، أَيْ لَهُمْ ثَوَابُ الْحَجِّ أَوْ ثَوَابُ الدُّعَاءِ، فَإِنَّ دُعَاءَ الْمُؤْمِنِ عِبَادَةٌ.

“Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka usahakan.”

Kalimat ini kembali kepada kelompok kedua, yaitu kelompok Islam (orang-orang beriman).

Maksudnya, bagi mereka ada pahala dari haji, atau pahala dari doa, karena doa seorang mukmin adalah ibadah.

 وَقِيلَ: يَرْجِعُ “أُولئِكَ” إِلَى الْفَرِيقَيْنِ، فَلِلْمُؤْمِنِ ثَوَابُ عَمَلِهِ وَدُعَائِهِ، وَلِلْكَافِرِ عِقَابُ شِرْكِهِ وَقِصَرِ نَظَرِهِ عَلَى الدُّنْيَا، وَهُوَ مِثْلُ قَوْلِهِ تعالى:” وَلِكُلٍّ دَرَجاتٌ مِمَّا  عَمِلُوا” [الانعام: ١٣٢].

Dikatakan pula kata “mereka” kembali kepada kedua golongan. Bagi orang mukmin ada pahala atas amal dan doanya, sedangkan bagi orang kafir ada balasan atas kesyirikannya dan pandangan hidupnya yang pendek, yang hanya terbatas pada urusan dunia.

Hal ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا

“Dan bagi masing-masing (mereka) ada derajat-derajat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-An‘ām: 132)

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: “أُولئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا” هُوَ الرَّجُلُ يَأْخُذُ مَالًا يَحُجُّ بِهِ عَنْ غَيْرِهِ، فَيَكُونُ لَهُ ثَوَابٌ. وَرُوِيَ عَنْهُ فِي هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَاتَ أَبِي وَلَمْ يَحُجَّ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَوْ كَانَ عَلَى أَبِيكَ دَيْنٌ فَقَضَيْتَهُ أَمَا كَانَ ذَلِكَ يَجْزِي). قَالَ نَعَمْ. قَالَ: (فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى). قَالَ: فَهَلْ لِي مِنْ أَجْرٍ؟ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: “أُولئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا” يعني من حج عن منيت كَانَ الْأَجْرُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَيِّتِ.

Ibnu ‘Abbas berkata tentang firman Allah Ta‘ala:

أُولئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا

“Maksudnya adalah seseorang yang mengambil harta untuk berhaji atas nama orang lain, maka ia mendapatkan pahala.”

Diriwayatkan pula darinya tentang ayat ini, bahwa ada seorang laki-laki berkata:

“Wahai Rasulullah, ayahku telah meninggal dunia dan belum sempat menunaikan haji. Bolehkah aku berhaji untuknya?”

Maka Nabi ﷺ bersabda:

“Seandainya ayahmu memiliki utang lalu engkau melunasinya, apakah itu mencukupinya?”

Ia menjawab: “Ya.”

Beliau bersabda: “Maka utang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan.”

Orang itu berkata: “Apakah aku mendapat pahala?”

Maka Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya:

أُولئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا

Yakni orang yang berhaji atas nama orang yang telah meninggal, maka pahalanya dibagi antara dia dan orang yang dihajikan (mayit).” (Tafsir Al Qurthubi)

Itulah doa terbaik yang Allah ajarkan pada kita. Semoga Allah berikan kita kebaikan dunia & akhirat dan melindungi kita dari api neraka.

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh Ustadz : Amrullah Akadhinta, S.T.

 

Ustadz Amrullah Akadhinta ST

Beliau adalah Alumni S1 Teknik Sipil UGM, Alumni Ma'had Al-'Ilmi, | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial sebagai Pengasuh Twitulama. Ketua Yayasan Bimbingan Islam. Sekretaris KIPMI. Pembina Yayasan Muslim Merapi
Back to top button