ArtikelIbadah

Diam-diam Menyebut Nama-Nya

Diam-diam Menyebut Nama-Nya

Ada satu bentuk ibadah yang begitu sederhana, tapi berat nilainya: dzikir. Sebut saja satu nama: Allah. Tapi, apa dzikir itu harus terdengar? Apakah dzikir di dalam hati juga dihitung?

Dalam penjelasan para ulama, dzikir dengan hati itu disebut juga dzikir dalam jiwa. Sebagian menyamakan antara “dzikir di dalam hati” dengan “dzikir dalam diri.” Tapi ada juga yang membedakan—bahwa dzikir dalam diri maksudnya adalah dzikir lisan yang tidak didengar orang lain, cukup terdengar oleh diri sendiri.

Ibnu Juzayy rahimahullah berkata dalam tafsirnya:

 وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ

“Dan ingatlah Tuhanmu dalam dirimu…”

يحتمل أن يريد الذكر بالقلب دون اللسان، أو الذكر باللسان سرًّا.

“Kemungkinan maksudnya adalah dzikir dengan hati tanpa lisan, atau dzikir dengan lisan secara pelan.”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, dalam Madarijus Salikin, membawakan dua pendapat dalam menafsirkan ayat ini:

{وَاذْكُر رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً

“Dan ingatlah Tuhanmu dalam dirimu dengan merendah diri dan rasa takut.” (QS. Al-A’raf: 205)

Beliau rahimahullah menjelaskan:

Pertama, dzikir di dalam hati dan dalam kesendirian.

Kedua, dzikir dengan suara lirih, cukup didengar oleh diri sendiri.

Jadi bagaimana seharusnya kita berdzikir?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa membagi tingkatan orang dalam dzikir menjadi empat:

  1. Yang paling utama: Dzikir dengan hati dan lisan bersamaan. Ini yang paling sempurna. Hati hadir, lisan pun bergerak. Inilah dzikir yang diperintahkan.
  2. Yang kedua: Dzikir dengan hati saja. Jika karena memang tidak bisa menggerakkan lisan, maka tetap baik. Tapi jika mampu melafalkan, maka lebih utama ikutkan lisan.
  3. Yang ketiga: Dzikir dengan lisan saja. Kadang hati lalai, tapi lisannya tetap menyebut nama Allah. Ini pun berpahala. Karena Allah berfirman:

“أنا مع عبدي ما ذكرني وتحركت بي شفتاه

“Aku bersama hamba-Ku selama dia berdzikir pada-Ku dan kedua bibirnya bergerak karena-Ku.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani)

  1. Yang terakhir: Tidak dzikir dengan hati, tidak pula dengan lisan. Inilah kelompok yang merugi.

Jadi, sekecil apapun, jangan remehkan dzikir. Bahkan jika hanya di dalam hati. Tapi yang lebih utama: hadirkan hati, gerakkan lisan, dan sebut nama-Nya dengan penuh harap dan takut. Karena itulah yang Allah perintahkan:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ

“Dan ingatlah Tuhanmu dalam dirimu dengan merendah diri dan rasa takut, dan dengan ucapan yang tidak keras.” (QS. Al-A‘rāf: 205)

Semoga Allah jadikan hati kita hidup dengan dzikir, dan lisan kita tidak pernah lelah menyebut nama-Nya.

Karena hidup yang paling indah adalah ketika kita tetap ingat Allah, meski tidak ada yang mendengar, meski hanya dalam diam.

referensi :

Islamweb. (n.d.). الذكر بالقلب والنفس والثواب المترتب عليه. Retrieved July 1, 2025, from https://www.islamweb.net/ar/fatwa/513526/الذكر-بالقلب-والنفس-والثواب-المترتب-عليه

Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori, Lc,. M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd. حفظه الله Alumni Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia (S1) & Manajemen Pendidikan UNY (S2). Pembina di Rumuz for Islamic School Managers, Diniyyah Gistrav Islamia School dan Direktur PP Darussalam Tanjung Telang, dai dari Jogjakarta.
Back to top button