
Syirik dalam Hukum dan Ketaatan (Syirik Uluhiyyah Dan Contohnya-Bagian #4)
Jenis Ketiga: Syirik dalam Hukum dan Ketaatan
Syaikh Asy-Syinqithi -rahimahullah- berkata:
دَلَّ القُرآنُ في آياتٍ كثيرةٍ على أنهَّ لا حُكمَ لغيرِ اللهِ، وأنَّ اتِّباعَ تشريعِ غَيْرِه كُفرٌ
“Al-Qur’an telah menunjukkan dalam banyak ayat bahwa tidak ada hukum selain hukum Allah, dan bahwa mengikuti syariat selain-Nya adalah bentuk kekufuran.” (Adhwa’ al-Bayan, 7/48)
Allah Ta’ala berfirman:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا
“Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahib (Nasrani) mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam, padahal mereka tidak disuruh kecuali agar menyembah Tuhan Yang Maha Esa.” (QS. At-Taubah: 31)
Abu Bakar Al-Jassas -rahimahullah-berkata:
“Makna firman-Nya:
أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
‘sebagai tuhan-tuhan selain Allah’ memiliki dua penafsiran:
Pertama, bahwa para ahli agama (pendeta dan rahib) jika mengharamkan sesuatu, maka pengikut mereka pun mengharamkannya, dan jika mereka menghalalkan sesuatu, maka pengikut mereka juga menghalalkannya. Karena penghalalan dan pengharaman itu hanya boleh dari pihak yang mengetahui maslahat (Allah), maka ketika mereka mengikuti pendeta dan rahib mereka dalam urusan halal dan haram serta meninggalkan perintah Allah, maka mereka telah menjadikan para tokoh agama itu sebagai tuhan-tuhan selain Allah.
Kedua, mereka mengagungkan para pendeta itu sebagaimana pengagungan terhadap Tuhan, misalnya dengan bersujud kepada mereka, dan bentuk pengagungan seperti ini tidak layak diberikan kepada selain Allah. Maka dari itu, mereka telah menjadikan mereka sebagai tuhan selain Allah.”
(Ahkam al-Qur’an, 3/134)
Contoh-contoh syirik dalam hukum dan ketaatan:
- Meyakini bahwa hukum selain Allah lebih baik atau setara dengan hukum Allah.
- Meyakini bolehnya berhukum dengan selain yang diturunkan Allah.
- Mengajak untuk meninggalkan hukum Allah dan lebih memilih hukum buatan manusia.
Namun, apabila seseorang berhukum dengan selain hukum Allah karena mengikuti hawa nafsu, suap, permusuhan, atau alasan lain, sementara ia menyadari bahwa perbuatannya adalah dosa dan bahwa ia wajib berhukum kepada syariat Allah, maka ia tergolong pelaku maksiat besar. Perbuatannya termasuk dalam kategori kufur kecil, kezaliman kecil, dan kefasikan kecil.
Setelah membaca dan memahami uraian sebelumnya, berikut kami berikan contoh beberapa syirik uluhiyyah yang kerap terjadi tanpa disadari
* Mencari “perlindungan gaib” lewat benda atau ritual
– Memakai jimat pelindung (kalung, batu, gelang) yang diyakini bisa menolak bala atau sial.
– Ritual “tolak bala” atau “buka aura” yang mengandung unsur mistik, terutama bila pelakunya meyakini adanya kekuatan selain Allah.
* Meminta hajat kepada selain Allah
– Datang ke “orang pintar”, kuburan keramat, atau paranormal untuk minta jodoh, rezeki, jabatan, dll.
– Berdoa kepada nabi, wali, atau makhluk halus, padahal semua doa hanya boleh dipanjatkan kepada Allah.
* Kultus terhadap tokoh
– Mengagungkan seseorang secara berlebihan hingga menyerupai ibadah: sujud, mencium kaki, minta berkah, atau menganggapnya memiliki kekuatan gaib.
* Mengikuti ritual modern bertema spiritual yang menyimpang
– Seperti meditasi dengan memanggil “energi semesta”, atau praktik penyembuhan spiritual yang menyeru kekuatan metafisik selain Allah.
* Ziarah ke makam tokoh agama atau leluhur untuk meminta hajat
– Contohnya: datang ke makam lalu meminta jodoh, kekayaan, atau keturunan dari si penghuni makam, bukan berdoa kepada Allah.
Tentunya masih banyak contoh dan akan semakin kita pahami jika terus belajar tauhid
Syirik dalam uluhiyyah bukan sekadar kesalahan dalam ritual, tetapi penyimpangan dalam inti keimanan: penghambaan hanya kepada Allah. Di zaman modern, bentuk-bentuk syirik ini bisa terselubung dalam budaya, pengobatan, bahkan gaya hidup. Karena itu, penting bagi setiap muslim untuk terus belajar tauhid, membersihkan niat, dan mewaspadai segala bentuk penyimpangan dalam ibadah dan keyakinan.
Semoga Allah menjaga kita dari segala bentuk syirik dan menetapkan hati kita di atas tauhid yang murni hingga akhir hayat.
Sekian, semoga bermanfaat, baarokallohufikum
Sumber bacaan : https://dorar.net/aqeeda/3007