AqidahKonsultasi

Ibu Mertua Melakukan Ritual-Ritual

Ibu Mertua Melakukan Ritual-Ritual

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Ibu Mertua Melakukan Ritual-Ritual, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jadi ibu mertua Saya dulu suka sekali pergi kedukun dan suka melakukan ritual-ritual yang sesat.
Namun sekarang beliau telah bertaubat. Cuman ibu mertua Saya masih suka merasakan hadirnya setan yang mengganggu dirinya, dan beliau percaya bahwa nyawanya diawasin oleh iblis begitu juga nyawa dari anak anaknya.
Ibu mertua Saya menyuruh anak anaknya untuk perbanyak dzikir, dan selalu bersedekah dengan jumlah yang selalu ditentukan oleh ibu. Jumlahnya pun tidak sedikit ditambah harus ada acara pengajian. Jika sekali saja tidak bersedekah sesuai yang diminta ibu. Ibu marah.
Bagaimana yaa Pak Ustadz sikap saya sebagai istri, apakah Saya harus mendukung apa yg ibu suruh. Sedangkan
  1. Keperluan kami juga banyak. Kami tetap bersedekah tetapi dengan kesanggupan kami. Tapi jika kami tidak melakukan, ibu marah/tidak suka.
  2. Bagaimanakah sikap saya Pak Ustadz? Dimana ibu mengatakan kalau nyawa suami saya sedang diawasi.
  3. Apa hukumnya jika kami melakukan hal-hal tersebut bukan niat mencari ridha Allah tetapi hanya untuk membentengi diri dari kepercayaan ketakutan di kerjai oleh iblis.
Mohon sarannya pak ustadz. FYI, ibu mertua Saya tidak bercerita ini ke Saya. Tapi suami saya yg bercerita ini ke saya.
Terimakasih
جزاك اللهُ خيراً

(Ditanyakan Oleh Mahad Bimbingan Islam)


Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1. Sikap anda sebagai istri adalah mendukung sebuah ketaatan karena perintah Allah Ta’ala,

Bukan kerena perintah ibu. Ini yang harus ditanamkan dalam keyakinan dan pikiran kita. Sehingga kalau misalkan sebuah ketaatan itu tidak wajib, sepatutnya lebih legowo kalau tidak terlaksana.

Contohnya bersedekah, sedekah yang wajib itu adalah zakat, sehingga kalau ada yang tidak mengerjakan, maka diperintahkan untuk amr ma’ruf sesuai dengan kebutuhan. Adapun sedekah sunnah, maka itu adalah kerelaan orang yang bersedekah, bukan dipaksakan. Kemudian ingatlah bahwa sedekah itu tidaklah mesti dengan harta.

Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah sedekah.

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالُوا لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ « أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya sebagian dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bershodaqoh dengan kelebihan harta mereka”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bershodaqaoh? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah shodaqoh, tiap-tiap tahmid adalah shodaqoh, tiap-tiap tahlil adalah shodaqoh, menyuruh kepada kebaikan adalah shodaqoh, mencegah kemungkaran adalah shodaqoh dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah shodaqoh “.

Mereka bertanya, “ Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala”.

(HR. Muslim no. 2376)

Nasihat kami, ajak ibu untuk ikut dalam pengajian aqidah dan tauhid, sehingga pikiran semacam ini bisa dijauhkan, sembari terus berdoa kepada Allah Ta’ala.

2. Sikap dengan statement ini “kalau nyawa suami saya sedang diawasi.” Betul sedang diawasi oleh malaikat yang ditugaskan, dan bukan setan.

Dalil yang menunjukkan adanya malaikat-malaikat pengawas dan malaikat maut yang siap mencabut nyawa ketika diperintahkan, Allah Ta’ala berfirman;

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖوَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ

“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. Al-An’am: 61).

Dalil ini menunjukan bahwa malaikat maut itu banyak, lebih dari satu malaikat. Dalam ayat lainnya disebutkan pula,

۞قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

“Katakanlah: ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.’” (QS. As-Sajdah: 11).

3. Melakukan apa yang diperintahkan ibu, karena takut setan, bukan karena perintah agama adalah terlarang.

Semestinya semua amal saleh itu murni karena Allah Ta’ala, dan bukan karena yang lain (takut setan). Sebab lain hanya sebagai sebab perantara, tapi niatanya harus karena Allah Ta’ala (ikhlas), dan inilah yang diperintahkan.

Apa makna ibadah yang dikerjakan dengan ikhlas? Yaitu ibadah yang dilakukan hanya mengharapkan Allah semata dan tidak tercampur dengan kesyirikan dan tujuan-tujuan lain selain Allah semata. Mengingat firman Allah,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ۝

“Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (Q.S. Al-Bayyinah 98:5).

‌Baca selengkapnya: Agar Ibadah Kita Diterima | Bimbingan Islam | BiAS

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul, S.Ag. حافظه الله

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at
Back to top button