FiqihIbadahKonsultasi

Sedekah Makanan Ke Pengajian Yang Ada Kemungkaran

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Sedekah Makanan Ke Pengajian Yang Ada Kemungkaran

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Sedekah Makanan Ke Pengajian Yang Ada Kemungkaran, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Di dekat rumah saya akan ada pengajian ibu-ibu di Musholla yang di antara acaranya itu: ibu-ibu tersebut silih berganti membaca qur’an dengan pengeras suara, juga acara menyanyikan lagu organisasinya, yang mana menurut saya itu terlarang.
Saya diharapkan turut menyumbang makanan pada acara tersebut, apakah saya turuti, ustadz? Sebenarnya saya kurang bersosialisasi dengan tetangga, bahkan tetangga heran dan sering bertanya kok kayak tidak bergaul dengan tetangga, saya sebenarnya khawatir mereka menganggap saya sombong, angkuh, ataupun mengeksklusifkan diri dan tidak butuh orang lain/tetangga.
Alasan sebenarnya, saya menghindari terlibat acara-acara seperti ini yang terdapat kemungkaran di dalamnya, ditambah lagi saya tidak keluar rumah kecuali untuk belanja keperluan, ada hal penting. kalaupun bertemu dengan tetangga saya juga tidak bisa berbasa-basi berlama-lama bercerita ini itu.
Shalat di Musholla yang sebenarnya sekalian bisa jadi ajang silaturrahim pun saya saya tidak bisa, karena jamaah “memaksa” orang tua yang kurang baik bacaannya untuk menjadi imam sementara diantara mereka ada penghafal qur’an, saya khawatir shalat saya tidak sah.
jadi kadang saya merasa turut serta pada acara-acara setempat lah satu-satunya jalan saya untuk lebih dekat dengan tetangga, tapi karena ada hal yang keliru di dalamnya saya pun lagi-lagi menghindar tidak terlibat. Apakah saya menuruti saja menyumbangkan makanan atau tidak, ustadz?

Apakah tidak apa-apa jika saya terkucilkan dari pergaulan jika tidak menurutinya, maksud saya apakah yang saya lakukan ini sudah benar menurut pandangan islam sehingga tidak perlu khawatir meski terkucilkan?

جزاك اللهُ خيراً

(Ditanyakan Oleh Mahad Bimbingan Islam)


Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Ada beberapa catatan, untuk kegiatan sosial seperti ada yang sakit, maka berkunjung, ada yang ditimpa musibah, maka membantu sesuai kesanggupan, menyapa, menyebar salam, memberikan hadiah adalah termasuk perbuatan baik, dan tidak patut dianggap remeh kalau kita tinggal di masyarakat majemuk. Ini termasuk perbuatan yang tidak baik.

Bagaimanapun bergaul dan bersabar atas perlakuan manusia adalah lebih baik daripada menjauh bergaul dengan manusia, padahal dia masih mampu untuk bergaul dan menjaga agamanya.

Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

المؤمنُ الذي يخالطُ الناسَ ويَصبرُ على أذاهم خيرٌ منَ الذي لا يُخالطُ الناسَ ولا يصبرُ على أذاهمْ

“Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka” (HR. At Tirmidzi 2507, Al Bukhari dalam Adabul Mufrad 388, Ahmad 5/365, syaikh Musthafa Al ‘Adawi mengatakan hadits ini shahih dalam Mafatihul Fiqh 44).

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani menyatakan: “Para salaf berbeda pendapat mengenai hukum asal uzlah (menjauhkan diri dari bergaul). Jumhur ulama berpendapat bahwa bergaul di tengah masyarakat (yang bobrok) itu lebih utama karena dengan hal itu didapatkan banyak keuntungan diniyyah, semisal tersebarnya syiar-syiar Islam, memperkokoh kekuatan kaum Muslimin, tercapainya banyak kebaikan-kebaikan seperti saling menolong, saling membantu, saling mengunjungi, dan lainnya. Dan sebagian ulama berpendapat, uzlah itu lebih utama karena lebih terjamin keselamatan dari keburukan, namun dengan syarat ia memahami benar keadaan yang sedang terjadi” (Fathul Baari, 13/42, dinukil dari Mafatihul Fiqh, 46).

Karena itu dalam masalah ini perlu ilmu yang rinci dan mendalam agar bisa menimbang-nimbang masalah dengan adil, hingga mendapat kebaikan yang besar.

Boleh hukumnya menyumbang snack pada acara sosial, juga pada kegiatan yang mayoritasnya adalah kebaikan, untuk menolak tuduhan dan cibiran buruk.

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul, S.Ag. حافظه الله

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button